Posted by Ibrahim on Jan 3, '10 5:57 AM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | A.Kohar Ibrahim |
INFORMASI KREASI DARI BATAM KEPRI Simak Jika Memang Terkesimak
SITOYEN SAINT-JEAN : ANTARA HIDUP DAN MATI Novel oleh : A.Kohar Ibrahim
Penerbit : Titik Cahaya Elka. Alamat: Anggrek Sari Blok F-6 N°12 B Batam Center, Pulau Batam, Kepri
Diterbitkan pertamakali : November 2008 ISBN 987-979-25-8704-3
Ukuran : 10x18 cm Tebal : 172 halaman. Editing : Lisya Anggraini Desain kulit & isi buku : Mahfut Azhari dan Wahyu Hudaya
*
ISI Pengantar Penerbit Sepatah Kata Hudan Hidayat
* I SITOYEN : Sabtu 29 Maret Pasalnya Se-Juni Hidup Apa Lagi Selain Itu
II SERVIS URGEN : Rabu Sore Darah Malam Panjang Servis Urgen
III BIDADARI BIDADARA : Makan Sakit Obat Pengobat
IV TEROWONGAN MAUT: Kemenangan Hidup Harapan Terowongan Maut Keharmonisan
* Catkas tentang Penulis Catkas: Keterangan
*
Dari Penerbit :
Novel Sitoyen Saint-Jean : Antara Hidup Dan Mati ini berkisahkan seorang anak manusia, salah seorang putera kelahiran Jakarta 1942 yang mencintai tanah tumpah darahnya, bangsanya, kebudayaannya dan tentu saja Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Namun setelah keberangkatannya pada 27 September 1965 ke Tiongkok kemudian terjadi Tragedi Nasional 1965, anak tunggal pasangan Ibrahim & Maemunah yang memiliki cita-cita dan ragam impian ini terpaksa menjadi salah seorang yang oleh mantan Presiden R.I. Gus Dur sebagai « kaum kelayaban » di Mancanegara alias kaum eksilan.
Bagaimanakah jejak langkah dan warna-warni jalur jelujur kehidupan anak bangsa yang lahir dan dibesarkan serta kiprah dalam perjuangan hidup sampai usia 23 tahun tapi lantas harus terpaksa jadi pengelana buana selama lebih dari empat dasa warsa ? Bagaimana dia menjaga cita dan cinta serta impiannya sejak masa bocah ? Bagaimanakah dia menjawab pertanyaan dan memaknai Hidup dan Kehidupan bahkan Kematian ?
Kiranya pembaca bisalah memahaminya dengan menyimak novel pendek ini – sebuah karya prosa yang tergolong bergaya realisme romantis malah biografis – dari awal sampai akhirnya.
Novel ini terdiri dari serangkum kisah dengan masing-masing judulnya sendiri dan sebagian besar bisa disajikan atau dibaca secara tersendiri seperti cerita pendek. Salah sebuah dari padanya berjudul « Terowongan » ; pernah dipasang di beberapa blog, seperti Abekreasi Multiply.com. Salah seorang pembaca yang mengapresiasinya tak lain adalah sastrawan Hudan Hidayat, yang atas seizinnya kami sertakan dalam buku ini.
Kepada Hudan Hidayat, atas kemurahan hatinya kami ucapkan banyak terima kasih. Sedangkan kepada pembaca yang berkenan kami persilakan. *** (Penerbit)
*
Hudan Hidayat : Terowongan Kehidupan
cerita pendek ini menyapa hampir-maut dengan lembut sekali – nyaris sebuah kepasrahan dari seseorang yang telah sabar mengalami derita panjang, derita yang nampaknya bukan sekedar dalam makna pikiran, tapi derita pikiran dan derita fisik dari sebuah perjalanan hidupnya yang panjang.
saya adalah anak sejarah yang masa-masa lalu itu seolah sejarah itu sendiri. sejarah pahit yang gelap. hingga saat ini pun masih gelap. tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
ada pernah saya diberitahukan, bahwa karya sastra orang-orang lekra adalah tak lebih dari pamplet belaka. semua kata yang mengungkap peristiwa dan makna memuara ke satu arah : politik revolusi. sehingga cerita-cerita mereka, demikian sejarah itu memberitahukan, tak ada yang bermakna.
tapi waktu membaca pram, semua kesimpulan semacam itu pupus. apalagikah makna kalau kita berhadapan dengan cerita besar seperti bumi manusia itu misalnya.
lalu kini saya tertumbuk dengan sebuah cerita kecil hidup seseorang, yang dilambangkannya dengan terowongan. terowongannya, aduh, alangkah pas tanda ini untuk mengatakan hidup itu sendiri. hidup adalah terowongan panjang yang kita tak tahu ujungnya. sehingga berteriaklah orang seperti albert camus : absurd. dan karena absurd, aku memilih tak bertuhan saja.
tapi lihatlah cerita kohar ibrahim ini. tiap katanya adalah sapaan lembut kepada tuhannya. kata yang berlapis membentuk dan mencampur dari jenis kata yang sama, seolah menganya labirin, seolah memasuki dan terowongan kata itu sendiri. seakan ia hendak berkata : sudah kulalui macam-macam terowongan fisik dan terowongan makna – seperti yang disebutkannya dengan mengutip beberapa cerita fiksi dari awal karangannya ini. lalu apa lagi yang harus kutakuti?
tentu saja takut bukanlah kata yang tepat. yang lebih tepat lagi asing. perasaan asing yang aneh seperti yang bolak-balik dikaitkannya dengan alat-alat medis agar ia selamat dari terowongan yang bernama operasi itu.
tapi dari cerita ini saya melihat sekali suatu ekspose dari manusia fakta dan manusia fiksi (yang lagi menuliskan ceritanya – seorang narator bernama aku) yang dengan terowongan itu seolah mengajak kita mengenang akan sepenggal kehidupan agar dari sepenggal kehidupan itu kita merenungkan apakah artinya dan apakah kesudahannya.
di ruang yang sangat kecil ini, perasaan itulah yang saya alami. mungkin kalau saya mengetik di ruang layar yang lebar komputer kelak beberapa denyar yang merasuki hati saya ini bisa saya elaborasi ke dalam detil-detil yang mungkin menjadi hak bagi peristiwa dan makna yang diletakkan, atau yang telah terjadi di sana.
saya kagum dengan cerita anda, bung kohar. izinkan saya mengambilnya dan memasangkan ke blog saya. mungkin malam ini juga akan saya perluas untuk tulisan di milis-milis yang saya ikuti. bagi saya sebuah cerita adalah kebajikan hidup itu sendiri.
saya yang menggemari cerita ingin mengumpulkan sebanyaknya dan kalau bisa, menyuarakannya sebagai suara dari kehidupan itu sendiri. kehidupan yang penuh warna-warni dari manusia yang mengalaminya sendiri. (hudan hidayat)
* Catatan : Para Peminat Silakan Hubungi Penerbit Atau Toko-Toko Buku: Toko Buku Kharisma – Nagoya Hill, Batam Toko Buku Panbil Mall, Batam Gramedia DC Mall, Batam Toko Buku Satu Tujuh Satu – Pekanbaru, Dumai, Tanjungpinang
*
 Posted by Ibrahim on Jun 24, '09 3:49 AM for everyone Bandrol Sonder Ampun Kobam di Pesta Buku Jakarta 2009, Istora Senayan, 27 Juni – 5 Juli 2009 Kassie waktu en samperin Stand Komunitas Bambu / Masup Jakarta di PESTA BUKU JAKARTA 2009, no. 54-55, Ruang Kenanga, Istora Senayan Gelora Bung Karno, 27 Juni – 5 Juli 2009, Kul 10.00-21.00 Di itu kutika Towan en Nyonya bisa mendapet buku-buku terbitan Drukerij Komunitas Bambu, Masup Jakarta dengan potongan zonder ampun ampe 80% atawa bandrol sepesial. Jangan lupa Towan en Nyonya buat awasin buku citakan baru yang ampunya titel KAMUS DIALEK JAKARTA (edisi revisi) dan KAMUS UNGKAPAN & PERIBAHASA BETAWI terkarang oleh Towan Abdul Chaer. Selaen itu juga buku Mevrouw Jean Gelman Taylor KEHIDUPAN SOSIAL DI BATAVIA. En satu buku filsafat yang dalem sekali ihwal cinta iatu ANATOMI CINT A: RISALAH JALAN CINTA, ARTI CINTA & KEKUATAN CINTA terkarang penulis-penulis sohor di dunia, seperti Sigmund Freud, Erich Fromm, Albert Camus, simone de beauvoir, pitirim sorokin dan 17 laennya. Kitaorang ngarep Towan en Nyonya dapet kassie waktu buat mampir ka stand Komunitas Bambu en kasi bukti kitaorang ampunya perkatahan. Tabe srenta hormat. Drukerij Komunitas Bambu Buat yang ampunya kepengenan buat beli tapi ada mukim di luar Jakarta boleh pesen langsung kalu berani srenta siap nanggung ongkos kirim. Bandrol cuman belaku kutika selama pameran. Pemesanan Hubungi: Komunitas Bambu Jl. Pala No. 4B Beji Timur Depok 16422 Telp/Fax. 021 772 06 987 Sms Pesanan : 0813 8543 0505 komunitasbambupemasaran@yahoo.com komunitasbambu@yahoo.com
Posted by Ibrahim on Mar 27, '09 3:03 AM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Suar Suroso |
Benarlah Yang Benar Yang Salah Salah
Oleh : A. Kohar Ibrahim
Sambutan Atas Penerbitan Buku Karya Suar Suroso : Marxisme - Sebuah Kajian
* Suar Suroso : Dinyatakan Punah Ternyata Kiprah
Joesoef Isak : Dambaan Kita Kedaulatan Rakyat
*
BERITA yang mengutarakan adanya hasil penerbitan ekspresi diri seperti buku itu selalu menggelitik hati dan pikiran teriring kegembiraan. Apa pula terbitan itu berupa hasil karya penulis yang saya kenal seperti Suar Suroso dengan bukunya yang terbaru berjudul Marxisme – Sebuah Pengajian. Dan apa pula penerbitnya adalah Hasta Mitra dengan editornya seorang publisis pejuang yang kondang : Joesoef Isak. Dengan Sebuah Renungan Singkat sebagai pendamping yang tak kurang pentingnya kebanding Kata Pengantar sang penulis buku tersebut.
Buku dengan ISBN 079-8659-38-4 dan dengan kulitmuka yang apik oleh Nabil Argya itu berisi selain biodata dan pengantar penulis serta kata pendamping sang editor, berisi : (1) Arti Teori Perjuangan Kelas di Dunia. (2) Sosialisme Utopi Tanpa Perjuangan Kelas – Membangun Sosialisme. (3) Tokoh-tokoh Indonesia Tentang Sosialisme. (4) Mohammad Hatta tentang Sosialisme. (5) Bung Karno tentang Marxisme. (6) Tentang Kelas-kelas. (7) Tentang Diktatur Proletariat. (8) Jaya dan Rontoknya Diktatur Proletariat Sovyet. (9) Sosialisme Tidaklah Punah. (10) Diktatur Proletariat dalam Praktek di Tiongkok. (11) Sosialisme di Korea, Vietnam dan Kuba. (12) Kejayaan Sosialisme Berciri Tiongkok.
Demikianlah duabelas pasal yang disajikan Suar Suroso sebagai paparan sekaligus pendukung Marxisme – Sebuah Kajian dengan konstatasinya : Dinyatakan Punah Ternyata Kiprah. Dengan kata pengantar yang menggaris-bawahi argumentasi sekalian keberpihakannya, antara lain sebagai berikut :
“Dengan ambruknya Uni Sovyet dan negara-negara sosialis Eropa Tengah dan Timur, maka bersorak-sorailah para penentang komunisme, penentang Marxisme. Di Indonesia ada yang menulis “Marxisme sudah usang dan ketinggalan zaman”. “Di negeri kelahirannya pun Marxisme sudah dicampakkan” “Secara ideologis, komunisme bukanlah ideologi yang menjanjikan. Inilah pertanda bahwa ideologi sosialisme, komunisme, marxisme-leninisme itu sekarang ini sudah finish”. “Di bawah rezim komunis, masyarakat mau bekerja hanya karena takut, ancaman mau dibunuh—dan jangan lupa 50 juta jiwa mati di Uni Soviet era rezim partai komunis”. “Ancaman komunisme tetap menghantui bangsa Indonesia. PKI telah dua kali memberontak, yaitu pada tahun 1948 dan tahun 1966”. ”Sebagai sebuah ideologi, komunisme tidak pernah mati. Dia terus mengembangkan pertentangan antar kelas: kaya miskin, buruh-pengusaha/majikan, juga petani-tuan tanah”. Ini semua adalah lagu lama yang didendangkan sekarang oleh kaum anti-komunis. Marxisme sebuah kajian dinyatakan punah ternyata kiprah adalah tulisan untuk membantah pandangan-pandangan ini. Penulis berpendapat, bahwa Marxisme bukanlah usang dan daluwarsa, tetapi sedang berkembang maju. Memahami Marxisme akan bermanfaat bagi generasi muda yang dengan sungguh-sungguh mencari jalan keluar dari keterpurukan Indonesia, setelah berlangsungnya pembodohan karena didominasi oleh kediktatoran orba dibenggoli Soeharto. Kapitalisme dan feodalisme tidaklah mungkin memakmurkan bangsa Indonesia. Untuk mencapai sosialisme tak ada jalan lain, haruslah memahami dan mempraktekkan Marxisme. Sungguh tragis, pembodohan secara sistimatis masih berlangsung di Indonesia dengan adanya larangan atas Marxisme. Tidak ada satu pun negara yang menjunjung demokrasi dan beradab di dunia dewasa ini yang dengan undang-undang melarang Marxisme atau penyebaran Marxisme. Betapa pun dilarang, sebagai ilmu, Marxisme tetap dicari dan dipelajari siapa saja yang sungguh-sungguh bertujuan berjuang untuk melenyapkan penindasan manusia oleh manusia. Krisis moneter kapitalis yang melanda dunia akhir tahun 2008 telah membuka mata orang, bahwa kapitalisme bukanlah sistim ekonomi yang tanpa cacat, yang dapat diandalkan untuk menyelamatkan umat manusia. Tak ada jalan lain, pilihan jatuh pada sosialisme. Maka Marxisme tampil ke permukaan dengan daya tarik yang sulit dibendung. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Bung Koesalah Soebagjo Toer yang semenjak selesainya naskah ini menunjukkan perhatian besar untuk menerbitkannya. Dalam keadaan belum diterbitkan, bahkan naskah ini pernah dipamerkan dalam pameran buku tahun 2006 di Jakarta. Akhirnya, berkat perhatian dan usaha Pak Joesoef Isak, Hasta Mitra berhasil mengedit dan menerbitkan buku ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan pada Pak Joesoef Isak. Terutama atas Sebuah Renungan Singkat beliau yang memberi nilai tambah bagi buku ini. Penulis mengharapkan dan akan sangat menghargai kritik-kritik dari para pembaca atas kekurangan isi buku ini. Semoga Marxisme sebuah kajian dinyatakan punah ternyata kiprah bisa bermanfaat dalam memperkaya khazanah kepustakaan Indonesia mengenai sosialisme. “ *
Joesoef Isak : Mendambakan Kedaulatan Rakyat
DEMIKIAN ujung kata pengantar Suar Suroso yang secara keseluruhannya sudah bisa mengundang tanggapan yang selayaknya. Dan yang cukup menggelitik adalah tanggapan pertama justeru datang dari sang editor penerbit Hasta Mitra itu sendiri, Joesoef Isak. Yang selain menegaskan soal yang jadi persoalan « The End of History and the Last Man » Francis Fukuyama, lebih menggarisbawahi akan betul-betul perlunya bagi kita terbebas dari ideologi luar, bebas dari paradigma Perang Dingin yang kontra-produktif bagi Rakyat dan Negeri. Berikut bagian Penutup Renungan Joesoef Isak : “Selain Kedaulatan Rakyat, juga Kedaulatan Hukum dalam kaitan keamanan negeri dan individu setiap warganegara Indonesia tanpa kecuali harus ditegakkan dan dipelihara. Sinyalemen-sinyalemen tentang bahaya apa pun, termasuk bahaya PKI dan anak-anak PKI, harus serius diperhatikan dan ditindak-lanjuti sesuai hukum yang berlaku. Untuk itu, sebagai negara hukum kita memiliki aparat Pengadilan, Kepolisian dan Kejaksaan. Semua kasus dengan unsur pidana apa pun – termasuk kriminalitas politik – harus diputuskan lewat Pengadilan. Vonnis harus dijatuhkan sesuai kejahatan yang diperbuat. Sinyalemen-sinyalemen yang dilontar ke publik tanpa tindak-lanjut apa-apa akan menimbulkan keresahan. Benar-benar resah atau keresahan pura-pura, bisa juga banyak orang jadi bosan – akhirnya sinyalemen-sinyalemen tanpa ujung-pangkal seperti itu dianggap sepi oleh masyarakat. Kosong, cuma ramalan para prophers of doom, ocehan para dewa peramal kiamat, ramalan mengerikan yang tidak kunjung tiba. Hanya yang mengucapkan sinyalemen tahu apa motif latar-belakang dari segala ucapannya pada publik. Dari segi mukadimah UUD yang ingin mencerdaskan bangsa, hal seperti itu sangat negatif. Masyarakat tidak terdidik pada kenyataan yang ada, melainkan pada fakta semu yang dijejal-jejal dan harus dianggap sebagai kenyataan. Pada hal seluruh masyarakat perlu bersikap realistik untuk menangani segala masalah sesuai fakta yang ada – bukan realitas rekayasa hasil kutak-katik benak sendiri. Berkali-kali kita ulangi di sini, Indonesia dan semua orang Indonesia – tentu terutama sekali seluruh aparat keamanan dan pengadilan – harus konsekuen kokoh pada identitas Indonesia sendiri, bersikap Mandiri demi kepentingan Indonesia dalam mengurus segala masalah: kesejahteraan ekonomi, keadilan sosial, juga segala urusan dan kasus di bidang keamanan, politik dan ideologi. Kita perlu betul-betul terbebas dari ideologi luar, bebas dari paradigma Perang Dingin yang kontra-produktif bagi Rakyat dan Negeri. Inilah renungan-singkat kita pada saat mengkaji mana yang unggul antara Marxisme dan Kapitalisme; mana paling bermanfaat bagi Rakyat kita. » Demikian kutipan bagian Penutup Renungan dari Joesoef Isak yang mendampingi buku karya Suaro : Marxisme Sebuah Kajian. Renungan yang juga secara keseluruhannya layak simak. * Kohar : Benarlah Yang Benar Yang Salah Salah BENAR memanglah benar yang benar yah benar. Seperti memang benarlah sikap-pendirian saya yang tiada berubah, yakni senantiasa gembira bila mendengar atau mengetahui adanya hasil terbitan. Semata-mata adanya hasil itu merupakan bukti ekspresi dari hidupnya hak-hak azasi manusia. Sikap-pendirian itu saya emban sejak awal mula berkecimpung di bidang tulis-menulis selaku jurnalis-penulis ; kemudian dalam periode tertentu selaku publisis – terbitan yang bisa digolongkan « pers alternatip ». Kongkritnya, ketika turut mengelola majalah Pembaruan dan mengeditori majalah-majalah Kreasi, Arena dan Mimbar (1989-1999). Upaya terbitan majalah-majalah selain brosur dan buku-buku dalam periode itu, antara lain : …dimaksudkan untuk turut memberi sumbangan bagi perkembangan kebudayaan Indonesia yang demokratik dan yang menghormati hak-hak azasi manusia. (Majalah Kreasi N° 1, 1989). Jelas pula, terbitan yang meski sederhana namun yang bernomor ISBN/ISNN serta beralamat jelas di Holland itu, merupakan pertanda dari eksistensi sekaligus sebagai bentuk perlawanan kami, para penulis yang diberangus oleh penguasa OrdeBaru. Saya utarakan perihal upaya penerbitan tersebut semata-mata untuk sekalian menegaskan bahwasanya diantara para kontributornya adalah Bung Suar Suroso – istimewa sekali sumbangan karya tulis berupa puisi dan esai-esai-nya untuk Majalah Opini & Budaya Pluralis Arena. Dan saya utarakan perihal upaya penerbitan kami tersebut semata-mata untuk menunjukkan kebenaran adanya bukti tertulis akan ragam macam opini yang menanggapi realita-aktualita masa itu – istimewa sekali yang berkaitan dengan sikon nasional dan internasional. Seperti, justeru, antara lain perihal evenement Runtuhnya Imperium URSS dan adanya konstatasi « The End of History »nya Fukuyama yang intinya adalah kecaman terhadap Marxisme, Sosialisme dan Komunisme. Dengan ujung tombak terhadap apa yang disebut « Blok Timur » atau « Kubu Sosialis » yang dikepalai URSS sebagai lawan dari « Blok Barat » atau « Blok Kapitalis » yang dikepalai Amerika Serikat dalam prahara « Perang Dingin ». Benarnya memang benar, bahwasanya dalam suasana hingar-bingar di arena mondial antara pro-kontra terhadap ideologi Marxisme dengan para lawan-lawannya macam Fukuyama itu, via Majalah Pembaruan N° 13 Th 4 Mei 1987 kami siar naskah berjudul « Prométheus Sang Pembawa Obor ». Sebagai bukti salah satu upaya pencerahan kami untuk pembaca yang bertanya-tanya apa-siapa Prométheus yang tertera dalam sajak penyair dan pejuang kebebasan Pilipina Jose Maria Sison dalam Arena nomor sebelumnya. Baris-baris sajak tersebu sebagai berikut : « Penderitaanku apalah artinya / terbanding berjuta-juta mereka yang hidup sengsara / Prométheus mengidap dalam tiap dada manusia / yang haus akan pengetahuan dan kebebasan / Para dewa, mereka, mati dan terlupakan. » (hlm 27) Prilaku Prométheus, lanjut artikel yang saya susun itu, banyak diungkap dalam karya seni. Terutama sekali dalam kesusastraan, seperti dalam karya-karya Hesiode, Eschyle, A.W. Schlegel, Byron, Schelley dan André Gide. Yang pada pokoknya menggambarkan Prométheus sebagai simbol pemberontakan manusia melawan tyrani, dan simbol kecintaan manusia akan kebenaran dan cita-citanya. Sebuah karya Eschyle, dari judulnya saja sudah terungkapkan simbol sekaligus jiwanya : Prométheus Pembawa Obor. Obor yang mengungkap kegelapan dan menerangi jalan bagi kemajuan umat manusia. Itulah sebabnya Prométheus menjadi teladan kaum humanis sejati seperti Karl Marx. Yang dalam karya-karya permulaannya sudah mengagungkan Prométheus dan menderetkannya di barisan terdepan dari « para pahlawan sejadi dan saint-ahli-filsafat ». Sudah sejak masa mudanya Marx tercengkam oleh tuntutan ala Prométheus : Semakin keras hujaman penderitaan, perantauan politik (exil), penyakit, kematian amat menyedihkan anggota keluarganya, semakin membara pula kemauannya yang membaja akan kebebasan, semakin cerlang cemerlang berkas-berkas kebenaran terpancar dari mahluk yang kegandrungannya menggebu-gebu ini, dimana tuntutan akan kejernihan dan kejujuran ditingkatkan sedemikian rupa tingginya hingga membawanya ke jurang penghidupan yang sulit. Dalam sepucuk surat yang ditujukan kepada seorang sahabat, setelah merampungkan jilid pertama Kapital, antaranya berbunyi : « …Kenapa aku tidak menjawab suratmu ? Karena setiap saat aku hampir masuk ke liangkubur. Selagi aku masih mampu bekerja, aku mesti mencurahkan seluruh waktuku untuk merampungkan karyaku. Untuk mana telah kukorbankan kesehatanku, kebahagiaan hidupku dan keluargaku. Kuharap penjelasan ini takkan memancing komentar apapun. Orang yang menamakandirinya manusia yang berpraktek membikin aku gelaktawa dengan kebijaksanaannya… Tapi aku akan betul-betul dianggap sedikit berpraktek, jika sampai ajalku tanpa palingtidak merampungkan naskah bukuku. » Demikian Marx, yang saya petik dari buku Les Marxistes Editions J’ai Lu, Paris 1965 halaman 20. Semata-mata untuk menguatkan argumentasi, bahwasanya « Sebagaimana halnya Prométheus, dengan ajaran-ajarannya Marx adalah pembawa obor untuk mengungkapkan kegelapan dan menerangi jalan perjuangan bagi kehidupan umat manusia yang luhur. Seluruh sejarah yang berlangsung di abad modern ini ditandai oleh Marxisme yang melingkupi kehidupan beratus-ratus juta manusia. » (Pembaruan N° 13 hlm 28-29). Benarlah memang benarnya benar, bahwasanya apresiasi saya baik secara tersurat maupun tersirat akan apa-siapa Karl Marx dan pemikirannya yang disebut Marxisme itu jelas berlainan dengan pakar Fukuyama dan yang semacamnya yang sedang ngetrend saat itu. Yakni kaum yang secara sadar maupun yang apriori menentang Marxisme – Sosialisme dan Komunisme – baik di arena internasional maupun nasional. Dari para pengecam itu, antara lain salah seorang wartawan senior, yang dilansir Kedaulatan Rakyat (05.12.1989) menyatakan bahwa, peristiwa yang terjadi di « Blok Timur » itu sebagai « proses rontoknya sistim komunisme/marxisme/leninisme » yang telah « dimuntahkan oleh rakyat ». Yang tak kurang lucunya, Subagijo I.N. dalam tulisannya di Kedaulatan Rakyat itu mengutarakan rekaannya yang menyinggung adanya orang-orang Indonesia yang tidak bisa pulang sebagai kaum komunis yang « ikut-ikutan belaka », « sedang kebingungan dan kehilangan kiblat. » Sungguh konstatasi macam itu adalah serampangan belaka, jauh dari realita obyektip. Bahwasanya, yang benar adalah adanya ragam macam opini dalam mereaksi apa yang terjadi di « Blok Timur » khususnya, dalam « GKI » (Gerakan Komunis Internasional) pada umumnya. Bahkan, adalah pendapat yang jelas menyatakan, bahwa : « …Yang telah gagal dan rontok adalah sistim Stalinis, ‘sosialisme ala Stalin’ atau Breznev dan semacamnya. » Begitulah salah satu macam dari ragam pendapat, seperti diutarakan oleh Sybrata dalam naskah-naskahnya di Majalah Mimbar N° 1 Th I 1990 Penerbit Stichting Indonesia Media, Amsterdam, ISSN 0925-5176. Majalah MIMBAR (Informasi Studi Diskusi) – Majalah Opini Pluralis – Nomor perdana itu justeru berisi serangkum naskah : Masalah-masalah Sosialisme Dewasa Ini. Naskah-naskah dari Arief Budiman, Asnan, Jose Fort, Liem Soei Liong, Subakat, Sybrata dan V. Zelenin. Kiranya cukup menggelitik apa yang dipaparkan oleh Liem Soei Liong dalam artikelnya bernada pertanyaan : « Pasca Tembok Berlin, Matinya Ideologi Sosialis ? » in Mimbar N° 1 halaman 19-29. Setelah menganalisa perihal « Layunya negara adikuasa » baik Uni Sovyet maupun Amerika Serikat, Liem sampai pada soal « Anjloknya blok sosialis ». Dengan sarkasmenya mengungkap ke-tidak-benar-an pandangan Francis Fukuyama yang menyatakan « Sejarah telah berakhir » itu. « Masalahnya sekarang apa yang dimaksud dengan Fukuyama dengan sistim sosialis dan faham atau ideologi Marxis…. » (hlm 25). Bagi Liem, «ambruknya blok sosialis…bukan berarti ambruknya sosialisme melainkan ambruknya stalinisme (dan juga leninisme). » (hlm 26). Lanjutnya, « yang pasti juga adalah ambruknya sistim totaliter di Eropa Timur merupakan angin segar bagi mereka yang masih setia pada cita-cita sosialis. Imago sosialis selama ini cemar karena diidentifikasi dengan bentuk-bentuk Stalinisme yang dominan di sana. Sekarang mulai era baru dimana demokrasi sampai keujung rambut merupakan bagian integral dari struktur sosialis. Arus demokrasi akan menjadi fenomena politik yang utama ditahun-tahun mendatang. Dampak demokratisasi di Eropa Timur dan usaha serupa di Brasil dan Chili akan terasa juga di Indonesia. Totaliterisme tipe Suharto sudah usang dan sampai dikalangan elit Jakarta pun kesadaran ini mulai berkembang. Sekarang tinggal mengembangkan faktor subyektifnya yaitu organisasi dan penggalangan massa. Ersatz capitalism yang dipertahankan kelompok Suharto sedang dilanda roda sejarah, anti-komunisme-nya rejim Suharto pun sudah tidak laku, tinggal mendongkelnya rame-rame. » (hlm 28-29) Adalah naskah-naskah penting lainnya pengisi Majalah Mimbar nomor perdana itu yang layak kaji dan dijadikan bahan diskusi. Yakni tulisan Subakat berjudul « Masih Adakah Yang Dapat Kita Kerjakan ? » atau « 7 Tesis Untuk Perdebatan Rekonstruksi Gerakan Sosialis Revolusioner di Indonesia. » (hlm 42-63) Yang layak disimak dari pemaparan yang diajukan oleh Subakat dengan « 7 Tesis »nya ini iyalah kentalnya pengaruh pemikiran Leon Trotsky. Suatu naskah yang jadi lebih menarik sebagai bahan bandingan dengan tulisan dari penulis berkecenderungan sosialis lainnya seperti Arief Budiman berjudul : «Tanggal 7 Bulan Februari 1990 Di Uni Soviet » (hlm 36-41) Selanjutnya, naskah dari teoritikus Asnan : « Masalah Sosialisme Dewasa Ini ». Suatu upaya pengupasan masalah-masalah posisi & peranan partai komunis, kekuasaan negara sosialis, ekonomi sosialis dan teori sosialisme. Dalam bahasan yang diutarakan Asnan, antara lain dinyatakan bahwa apa yang terjadi di Eropa Timur boleh saja disesalkan pun boleh tidak perlu disesalkan. Disesalkan, lantaran « harapan-harapan jutaan pejuang dan rakyat akan terciptanya suatu masyarakat sosialis yang meniadakan borok-borok kapitalisme belum dapat diwujudkan di negeri-negeri itu… Di pihak lain, tidak perlu disesalkan atau disayangkan. Sebab yang dibangun di negeri-negeri itu bukanlah sosialisme sebagaimana dicita-citakan dan diperjuangkan oleh kaum sosialis dan komunis. Praktek-prakteknya bahkan mencermarkan citra sosialisme sehingga dibenci dan ditolak oleh rakyatnya. » « Boleh dikata, » lanjut Asnan, « bahwa kejadian-kejadian di Eropa Timur menutup suatu fase dalam perkembangan sosialisme. Tapi ini samasekali tak berarti habisnya atau berakhirnya sosialisme. » Ditegaskannya, bahwa : « Sistem kapitalisme tetap tidak mampu memberi jalan keluar. Mayoritas rakyat di dunia ini yang hidup di bawah kapitalisme menderita kesengsaraan dan kemelaratan. Mereka tak akan menghentikan usaha dan perjuangannya untuk suatu masyarakat yang adil dan makmur, suatu masyarakat sosialis. Demi menjaga terulangnya kesalahan perlu kerjasama dan perpaduan antara kaum komunis, kaum sosialis dan semua kekuatan politik yang ingin bebas dari penindasan kapitalisme dan mewujudkan masyarakat sosialis, masyarakat yang demokratis dan manusiawi. » (hlm 87) Kiranya cukup menggelitik, dalam naskah salah seorang teoritikus Marxis sekaliber Asnan itu, mensitir makna penting anjuran Mao Zedong agar « seratus bunga mekar bersama dan seratus aliran bersaing suara ». Seraya menandaskan, bahwa : Dalam memupuk semangat toleransi patut dijunjung ucapan Voltaire, pemimpin Perancis yang terkenal : « Sungguhpun aku membenci pandanganmu, tapi akan kubela dengan jiwaku sendiri hakmu untuk mengutarakannya. » DEMIKIANLAH sekedar bukti nyata dalam tulisan yang tercetak dari beberapa pandangan Marxis yang menunjang tulisan berjudul « Benarnya Yang Benar Yang Salah Salah ». Iyah, memang benarlah adanya kebenaran opini yang membantah yang salah berupa pernyataan « Sejarah Telah Berakhir » nya Francis Fukuyama. Benarnya opini yang benar atas yang salah – yang diutarakan kurang-lebih dua dasawarsa yang lalu itu teruji kebenarannya. Benarnya bahwa runtuhnya imperium Uni Sovyet bukan berarti runtuh atau matinya Marxisme sekalian gerakan Sosialis dan Komunisnya di bola bumi yang bundar ini. Bahkan, di atas puing-puing « Blok Timur » sendiri, aliran dan gerakan tersebut masih terus eksis hingga dewasa ini. Bahkan juga, di negeri-negeri eks-kediktaoran Amerika Latin, Marxisme dan gerakan Sosialis kian banyak diminati. Begitulah pula halnya di Indonesia sendiri. Meskipun Marxisme telah diharamkan sejak berdirinya rezim OrdeBaru bahkan hingga kini, organisasi-organisasi dan pengikut serta simpatisan bahkan mereka yang hanya diduga-duga saja pun mengalami penindasan yang luarbiasa, namun teori atau ajaran Karl Marx dan Engels itu tidak bisa terbasmi. Terbukti, dengan satu atau cara lain, kendati dalam ancaman penjara atau maut, Marxisme senantiasa diminati oleh sementara kalangan orang. Bahkan, selain adanya beragam terbitan kiri, belakangan ini buku karya Marx yang paling penting berjudul Kapital telah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Dalam konteks sikon seperti itulah, benarnya ungkapan Suar Suroso untuk menunjang hasil karya tulisnya berupa buku berjudul « Marxisme – Sebuah Kajian », bahwasanya yang « dinyatakan punah malah kiprah ». Semoga buku yang merupakan sumbangan penting demi memperkaya kepustakaan Indonesia menjadi salah satu bahan pertimbangan berharga pula bagi para pembaca yang berkenan. Bagi para peminat untuk memperluas wawasan, memperhangat diskusi atau perdebatan. Diskusi dan atau perdebatan yang selayaknya. Dengan dada lapang menggunakan nalar mau dan mampu mendengar keberbedaan maupun kebersamaan ; secara kritis berupaya mengungkap mana yang benar mana yang salah. Dalam rangka menimba pelajaran dari pengalaman, memetik yang dianggap bermanfaat seraya menanggalkan yang tidak. Manfaat bagi perjuangan untuk perwujudan masyarakat yang aman, adil dan makmur. Masyarakat manusia yang manusiawi atau masyarakat sosialis yang selayaknya. Akhirul kalam, dapatlah diketahui bahwasanya tulisan ini hanyalah sebatas sambutan atas penerbitan buku itu sendiri dan bahan yang saya terima berupa Perkenalan Buku dari Bung Suar Suroso belaka. Karena belum saya miliki, maka isi keseluruhan buku tersebut belum lagi saya telaah adanya. *** 27.03.2009 (A.Kohar Ibrahim)
 Posted by Ibrahim on Dec 26, '08 9:16 AM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | A.Kohar Ibrahim |
SITOYEN SAINT-JEAN : ANTARA HIDUP DAN MATI Novel : A.Kohar Ibrahim Dari Penerbit : Novel Sitoyen Saint-Jean : Antara Hidup Dan Mati ini berkisahkan seorang anak manusia, salah seorang putera kelahiran Jakarta 1942 yang mencintai tanah tumpah darahnya, bangsanya, kebudayaannya dan tentu saja Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Namun setelah keberangkatannya pada 27 September 1965 ke Tiongkok kemudian terjadi Tragedi Nasional 1965, anak tunggal pasangan Ibrahim & Maemunah yang memiliki cita-cita dan ragam impian ini terpaksa menjadi salah seorang yang oleh mantan Presiden R.I. Gus Dur sebagai « kaum kelayaban » di Mancanegara alias kaum eksilan. Bagaimanakah jejak langkah dan warna-warni jalur jelujur kehidupan anak bangsa yang lahir dan dibesarkan serta kiprah dalam perjuangan hidup sampai usia 23 tahun tapi lantas harus terpaksa jadi pengelana buana selama lebih dari empat dasa warsa ? Bagaimana dia menjaga cita dan cinta serta impiannya sejak masa bocah ? Bagaimanakah dia menjawab pertanyaan dan memaknai Hidup dan Kehidupan bahkan Kematian ? Kiranya pembaca bisalah memahaminya dengan menyimak novel pendek ini – sebuah karya prosa yang tergolong bergaya realisme romantis malah biografis – dari awal sampai akhirnya. Novel ini terdiri dari serangkum kisah dengan masing-masing judulnya sendiri dan sebagian besar bisa disajikan atau dibaca secara tersendiri seperti cerita pendek. Salah sebuah dari padanya berjudul « Terowongan » ; pernah dipasang di beberapa blog, seperti Abekreasi Multiply.com. Salah seorang pembaca yang mengapresiasinya tak lain adalah sastrawan Hudan Hidayat, yang atas seizinnya kami sertakan dalam buku ini. Kepada Hudan Hidayat, atas kemurahan hatinya kami ucapkan banyak terima kasih. Sedangkan kepada pembaca yang berkenan kami persilakan. (Penerbit) * Hudan Hidayat : Terowongan Kehidupan cerita pendek ini menyapa hampir-maut dengan lembut sekali – nyaris sebuah kepasrahan dari seseorang yang telah sabar mengalami derita panjang, derita yang nampaknya bukan sekedar dalam makna pikiran, tapi derita pikiran dan derita fisik dari sebuah perjalanan hidupnya yang panjang. saya adalah anak sejarah yang masa-masa lalu itu seolah sejarah itu sendiri. sejarah pahit yang gelap. hingga saat ini pun masih gelap. tak tahu apa yang terjadi sebenarnya. ada pernah saya diberitahukan, bahwa karya sastra orang-orang lekra adalah tak lebih dari pamplet belaka. semua kata yang mengungkap peristiwa dan makna memuara ke satu arah : politik revolusi. sehingga cerita-cerita mereka, demikian sejarah itu memberitahukan, tak ada yang bermakna. tapi waktu membaca pram, semua kesimpulan semacam itu pupus. apalagikah makna kalau kita berhadapan dengan cerita besar seperti bumi manusia itu misalnya. lalu kini saya tertumbuk dengan sebuah cerita kecil hidup seseorang, yang dilambangkannya dengan terowongan. terowongannya, aduh, alangkah pas tanda ini untuk mengatakan hidup itu sendiri. hidup adalah terowongan panjang yang kita tak tahu ujungnya. sehingga berteriaklah orang seperti albert camus : absurd. dan karena absurd, aku memilih tak bertuhan saja. tapi lihatlah cerita kohar ibrahim ini. tiap katanya adalah sapaan lembut kepada tuhannya. kata yang berlapis membentuk dan mencampur dari jenis kata yang sama, seolah menganya labirin, seolah memasuki dan terowongan kata itu sendiri. seakan ia hendak berkata : sudah kulalui macam-macam terowongan fisik dan terowongan makna – seperti yang disebutkannya dengan mengutip beberapa cerita fiksi dari awal karangannya ini. lalu apa lagi yang harus kutakuti? tentu saja takut bukanlah kata yang tepat. yang lebih tepat lagi asing. perasaan asing yang aneh seperti yang bolak-balik dikaitkannya dengan alat-alat medis agar ia selamat dari terowongan yang bernama operasi itu. tapi dari cerita ini saya melihat sekali suatu ekspose dari manusia fakta dan manusia fiksi (yang lagi menuliskan ceritanya – seorang narator bernama aku) yang dengan terowongan itu seolah mengajak kita mengenang akan sepenggal kehidupan agar dari sepenggal kehidupan itu kita merenungkan apakah artinya dan apakah kesudahannya. di ruang yang sangat kecil ini, perasaan itulah yang saya alami. mungkin kalau saya mengetik di ruang layar yang lebar komputer kelak beberapa denyar yang merasuki hati saya ini bisa saya elaborasi ke dalam detil-detil yang mungkin menjadi hak bagi peristiwa dan makna yang diletakkan, atau yang telah terjadi di sana. saya kagum dengan cerita anda, bung kohar. izinkan saya mengambilnya dan memasangkan ke blog saya. mungkin malam ini juga akan saya perluas untuk tulisan di milis-milis yang saya ikuti. bagi saya sebuah cerita adalah kebajikan hidup itu sendiri. saya yang menggemari cerita ingin mengumpulkan sebanyaknya dan kalau bisa, menyuarakannya sebagai suara dari kehidupan itu sendiri. kehidupan yang penuh warna-warni dari manusia yang mengalaminya sendiri. (hudan hidayat) * SITOYEN SAINT-JEAN : ANTARA HIDUP DAN MATI Novel A.Kohar Ibrahim Penerbit : Yayasan Titik Cahaya Elka, Batam, Kepri, 2008. ISBN 987-979-25-8704-3 ISI Pengantar Penerbit Sepatah Kata Hudan Hidayat * I Sitoyen II Servis Urgen III Bidadara Bidadari IV Terowongan Maut : Kemenangan Hidup * Catkas tentang Penulis Catkas: Keterangan * Catatan Tentang Penulis : A.KOHAR IBRAHIM Nama lengkap : A. Kohar Ibrahim. Nama pelukis : Abe. Lahir : 1942, Jakarta, Indonesia. Menerima pendidikan Seni Rupa : Académie Royale des Beaux-Arts de Bruxelles, Belgia. Alamat : Bruxelles, Belgia. Batam, Jakarta, Indonesia. Penghargaan/Diploma : (1) Brevet d’Exellence & Diplôme de Fin d’Etude de l’Académie Royale des Beaux-Arts de Bruxelles (1975, 1979). (2) Prix de Gouden Pluim (Spectraal, Gent, 1981). (3) Médaille d’Argent du Mérite Artistique Européen (Coxyde, 1987). (4) Médaille d’Argent de l’Académie Internationale des Arts Contemporains et Diplôme d’Officier (pour reconnaître et protéger sa valeur artistique) 1986. (5) Médaille d’Or (1987) et Médaille de Platine de l’AIAC (Engghien, 1988). Bibliographie. Biodata : (1) Media massa, antara lain : Le Soir, La Lanterne, La Dernière Heure, Le Pourquoi Pas ?, Le Jalon des Arts, Gazet Van Antwerpen, Het Laste Nieuws, De Autotoerist, Sontags Kurier, Cellerche Zeitung. Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Harian Sijori Pos, Harian Batam Pos, KB Antara dan media online : SwaraTV, DepokMetro.net, Cybersastra.net, Cimbuak.net, Sastra Indonesia.net, Art Culture Indonesia Blogspot dan lainnya lagi. (2) Spectraal Kunstkijkboek VI, éd. Spectraal, Gent 1984. (3) 50 Artistes de Belgique, par Jacques Collard, critique d’art, éd. Viva Press Bruxelles 1986. (4) Art Information, éd. Delpha, Paris 1986. (5) Who’s who in Europe, éd. Database, Waterloo 1987. (6) Who’s who in International Art, international biographical Art dictionary, éd. 1987-1996, Lausanne, Suisse. (7) Dictionnaire des Artistes Plasticiens de Belgique de XIXe et XXe Siècles – Editions Art in Belgium 2005. (8) Artistes Peintre Abe alias A.Kohar Ibrahim dan Karya Lukisnya oleh Lisya Anggraini, Batam, Indonesia 2005. Exposisi : Sejumlah eksposisi individual maupun kolektif. Antara lain : Galerie Hendrik De Braekeler (Antwerpen, 1977). Galerie Rik Wauters (Bruxelles, 1977). Galerie Van de Velde (Gent, 1979). Les Arts en Europe (Bruxelles, 1979). Galerie APAC (Schaerbeek, Bruxelles, 1980). Mérite Artistique Européen (Coxyde, 1980, 1987, 1990). Galerie Escalier (Bruxelles, 1980). Spectraal (Gent, 1981). Galerie Gouden Pluim (Gent, 1982). Galerie Erasme (Anderlecht, 1983, 1990). Galerie Schadow (Celle, RFA, 1986). Europa Bank (Gent, 1987, 1988, 1990). 50 Artistes de Belgique (Bruxelles, 1986). A.I.A.C. (Enghien, 1987). Spectraal (Nieuwpoort, 1988). Galerie Het Eeuwige Leven (Antwerpen, 1993). De Kreiekelaar (Schqerbeek 1997). Parcours d’Atistes (Commune de Schaerbeek, 1998). En Modus Vivendi (Oude Kerk, Vichte, 2003). Galeri Novotel (Batam, Kepri, 2004). Museum Haji Widayat (Magelang, Indonesie, 2004). Galeri Novotel (Batam, Kepri, 2006). Ruang Expo Balaikota Hotel Communale de Schaerbeek, Brussel 2007. Galeri Guillaume & Caroline, Brussel 2008. Sebagai Penulis: Sebagai penulis, A. Kohar Ibrahim mulai banyak menulis prosa dan puisi serta esai atau kritik sastra dan seni sejak akhir tahun 50-an di beberapa media massa Ibukota, antara lain Bintang Timur, Bintang Minggu, Harian Rakyat, HR Minggu, Warta Bhakti dan Zaman Baru. Setelah Era Reformasi, berkas-berkas karya tulisnya ada yang disiarkan di media massa cetak dan online. Anatara lain : Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Harian Sijori Pos, Harian Batam Pos, Majalah Gema Mitra, Majalah Budaya Duabelas (Penerbit : Dewan Kesenian Kepri), Cybersastra. net, Depokmetro.com, Swara.tv, Bekasinews.com, Art-Culture Indonesia, Sastra Indonesia.net, Apresiasi Sastra, Multiply. Dari tahun 1989-1999, selama sedasawarsa mengeditori terbitan yang tergolong pers alternatip, terutama sekali berupa terbitan Majalah Sastra & Seni KREASI ; Majalah Budaya & Opini Pluralis ARENA dan Majalah Opini MIMBAR. Berkas-berkas esai seni dan sosio-budaya lainnya berupa : (1) Catatan Dari Brussel : Dari Bumi Pijakan Kaum Eksil ; (2) Sekitar Tempuling - Kupuisi Rida K Liamsi ; (3) Sekitar Tembok Berlin : Lagu Manusia Dalam Perang Dingin Yang Panas ; (4) Hidup Mati Penulis & Karyanya : Polemik Pramoedya-Lekra vs Manikebu ; (5) Sekitar Aktivitas Kreativitas Tulis Menulis Di Luar Garis ; (6) Sekitar Prahara Budak Budaya ; dan lainnya lagi. Kumpulan tulisan individual maupun bersama yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku kucerpen, kupuisi dan kuesai, antara lain : (1) Kumpulan cerpen : Korban, penerbit Stichting Budaya, Amsterdam, 1989. (2) Kumpulan puisi : Berkas Berkas Sajak Bebas, penerbit Stichting Budaya, Amsterdam, Kreasi N° 37 1998. (3) Kumpulan esei bersama: Lekra Seni Politik PKI, penerbit Stichting Budaya, Amsterdam, Kreasi N° 10 1992. (4) Kumpulan sajak bersama : Puisi, penerbit Stichting Budaya Amsterdam, Kreasi N° 11 1992. (5) Kumpulan esei bersama : Kritik dan Esei, penerbit Stichting Budaya Amsterdam, Kreasi N° 14 1993. (6) Kumpulan cerpen bersama : Kesempatan Yang Kesekian, penerbit Stichting Budaya Amsterdam, Kreasi N° 26 1996. (7) Kumpulan sajak bersama : Yang Tertindas Yang Melawan Tirani I, penerbit Stichting Budaya Amsterdam, Kreasi N° 28 1997. (8) Kumpulan sajak bersama : Yang Tertindas Yang Melawan Tirani II, penerbit Stichting Budaya Amsterdam, Kreasi N° 39 1998. (9) Kumpulan sajak bersama : Di Negeri Orang, penerbit Yayasan Lontar Jakarta & YSBI Amsterdam, 2002. (10) Buku Telaah Puisi : Sekitar Tempuling Rida K. Liamsi, penerbit Yayasan Sagang, Pekanbaru 2004. (11) Kumpulan esai bersama : Identitas Budaya Kepri, terbitan Dewan Kesenian Kepri, Tanjungpinang 2005. (12) Kumpulan Esai bersama : Identitas Budaya Kepri, penerbit Dewan Kesenian Kepri, 2005. (13) Kumpulan tulisan bersama : Antologi Puisi-Cerpen-Curhat-Esai Tragedi Kemanusiaan 1965-2005, penerbit Sastra Pembebasan, 2005. (14) Kumpulan Esai bersama Lisya Anggraini : Kepri Pulau Cinta Kasih, penerbit Yayasan Titik Cahaya Elka, Batam, Kepri, 2006. (15) Novel : Sitoyen Saint-Jean – Antara Hidup Dan Mati, penerbit Yayasan Titik Cahaya Elka, Batam, Kepri, 2008. (16) Kumpulan Esai : Sekitar Polemik Pramoedya-Lekra vs Manikebu, idem segera terbit. (17) Kumpulan Puisi : Untukmu Kekasihku Hanya Hatiku, idem segera terbit. (18) Kumpulan Cerpen bersama Lisya Anggraini : Intuisi Melati, idem segera terbit. Info lebih jauh bisa disimak-lacak di beberapa situs/blog, antara lain, sebagai berikut : http://16j42.multiply.comhttp://painting.multiply.comhttp://4pulauriau.multiply.comhttp://apsas.multiply.comhttp://www.sastraindonesia.nethttp://artcultur-indonesia.blogspot.comhttp://artscad.com/@/AKoharIbrahimCatatan : Nama asli, alias dan samaran. Sejak mulai melakukan kegiatan tulis menulis medio tahun 50-an, sebagai tanda-tangan digunakan nama asli A. Kohar Ibrahim atau lengkapnya : Abdul Kohar Ibrahim. Tanda-tangan untuk semua karya lukis : Abe. Sedangkan nama samaran atau pen-name : Aki, A. Brata Esa, Sybrata, Rahayati, Bande Bandega, DT atau Dipa Tanaera. (Desember 2008). ***  Posted by Ibrahim on Dec 25, '08 9:55 AM for everyone  Info Terbitan :
Mawie Ananta Jonie
Anak Minang Itu Ke Peking
Kata Pengantar : Bonnie Triyana
Penerbit : Stichting Indonesia Media Nederland ISBN : 978-90-71390-03-6 Editor : A.Tahsin, G.Rusiyanadi Desain Sampul : G.Rusiyanadi Foto Sampul Tien An Men : Tahir R. Wibowo
APAKAH mendengar kabar yang benar ataukah hanya kabar burung dan apakah secara kongkrit menerima hasil terbitan, hatiku selalu gembira. Lantaran aku senantiasa menjaga sikap pendirian serupa sejak dahulu kala – semasa mengelola penerbitan sederhana yang tergolong pers alternatip : 1989-1999. Semasa panen 100 judul berupa buku, brosur dan majalah-majalah : Kreasi (Stichting Budaya, Amsterdam), Arena (Stichting ISDM, Culemborg) dan Mimbar (kerjasama dengan Stichting Indonesia Media, Amsteream).
Di masa berjayanya OrBa dengan kegelap-pengapan yang luarbiasa, betapapun sederhana dan sedikit oplahnya, tak urung masa itu merupakan periode bersejarah dalam kehidupan kaum eksilan Indonesia. Dengan ciri semangatnya : «menyambut menghargai menyebarluaskan kreasi » ; « sukarela, berdikari dan setiakawan ». Ditambah dengan hasil terbitan perorangan lainnya, lumayanlah jumlah hasil terbitan kala itu. Maka terhadap pertanyaan « apakah sastra eksil Indonesia eksis », tak berlebihanlah jika jawabannya affirmatif : Iya. Memang iya. Terbuktikan dengan adanya hasil pencetakan dari ragam macam hasil kreasi kami itulah. Persis selaras kata pepatah Perancis : « le parole s’envole, l’écrit reste. » Omongan mabur sedangkan tulisan menetap jadi bukti atau pertanda keberadaannya. Begitulah.
Iya. Begitulah. Zaman berubah. Setelah kuranglebih sedasawarsa rezim zalim OrBa tumbang, semasa « Era Reformasi », banyak perubahan terjadi. Terutama sekali perubahan penggunaan sarana canggih internet berkat Revolusi Informatik. Maka aktivitas-kreativitas para penulis eksilanpun berkembang dengan memanfaatkan perubahan-perubahan sikon dengan menunjukkan kiprah lebih gairah lagi. Semata-mata untuk menunjukkan eksistensinya sekalian memaknai ibadahnya sebagai penulis. Terbuktikan dengan adanya serangkaian situs, milis atau blog dan juga penerbitan buku yang lebih layak dan bagus, baik dalam penampilan maupun isinya yang ragam macam.
Istimewa sekali kini dan tahun mendatang, dari kabar tertulis yang telah tersiar maupun baru sebatas dengar-dengar, nampaknya kita memasuki periode baru berupa « musim panen » terbitan karya tulis ? Salah satunya, kami (saya dan Lisya) baru saja menerima kiriman buku berjudul Anak Minang Itu Ke Peking karya Mawie Ananta Jonie. Buku yang merupakan kelanjutan dari Anak Minang Itu Bercerita (2005).
Kiriman tersebutlah yang menjadi pemicu untuk menyusun info terbitan ini, sekedar pertanda sambutan kami dengan rasa gembira. Sambutan yang mudah-mudahan akan disusul dengan resensi selayaknya. *** 25.12.2008 (A.Kohar Ibrahim)
 Posted by Ibrahim on Oct 24, '08 11:39 AM for everyone  BEKASI NEWS - Wednesday, 26 December 2007
Pramoedya Ananta Toer Dan Kebudayaan Rakyat Yang Mati Hidup Langgeng
Hidup Mati Penulis & Karyanya (25) Oleh : A.Kohar Ibrahim SAMPAI pada bagian akhir tapi bukan yang terakhir – apa pula akhir dari pada zaman – ini kiranya bisalah lebih cerah dalam menyimak soal yang menjadi persoalan – jelasnya dalam makna memaknai politik yang melingkupi ragam bidang kehidupan masyarakat manusia bernegara. Kiranya, bisa dinyatakan bahwa sudah sejak lahir sampai matinya manusia berurusan dengan politik. Jika bukan Anda tentulah Politik yang berurusan dengan Anda. Disadari ataukah tidak disadari, mau ataukah tak mau, secara langsung maupun tak langsung. Dari pelajaran sejarah perkembangan masyarakat manusia, baik skala dunia maupun nasional, bagi tiap insan – apa pula selaku pekerja kebudayaan – betapalah perlunya menaruh perhatian dan memahami politik. Politik dengan jurus-jurusnya. Dan dari 2 jurus seperti urai Joebaar Ajoeb, pilihan yang cerah pastilah terletak pada «jurus sejarah kebudayaan yang nasional dan kerakyatan » dan bukan pada lawannya, yakni : « jurus sejarah kebudayaan kolonial dan feodal ». Dalam kaitan itulah pentingnya makna semboyan yang dianut oleh Lekra : « Politik Adalah Panglima ». Semboyan yang secara cerah dijabarkan maknanya oleh Joebaar Ajoeb. Semboyan yang mendorong untuk mengenal situasi dan tahu keadaan sekaligus memperluas wawasan dalam rangka aktivitas dan kreativitas kebudayaan atau kesenian maupun kegiatan lainnya dalam bidang-bidang kehidupan masyarakat. Dengan wawasan luas demikian, memberikan kemudahan untuk memahami bahwa segala bentuk perjuangan politik pada hakikatnya adalah perjungan untuk mencapai kekuasaan. Maka adalah suatu kenyataan yang benar, bahwa justeru dalam soal yang jadi persoalan seperti pepolitikan itulah timbul-jadi-nya keberbedaan sikap-pendirian yang ragam macam – dari yang kecil sekecil-kecilnya sampai yang besar sebesar-besarnya; dari yang tenang lunak sampai pada yang bergejolak bahkan sebagai prahara yang berdampak menghancur-binasakan. Oleh karena itu, bukanlah tanpa alasan atau bukanlah dengan argumentasi asal-asalan, jika dinyatakan bahwa mengalpa-lupakan politik dan kepura-puraan atasnya, merupakan hal yang berbahaya. Hal mana bisa mengandung bahaya atau mengundang marabahaya malah. Karena bisa memperoksokkan manusia atau menjadikan manusia terperoksok tanpa tahu apa sebab musababnya. Dan jikalau tahu, jikalau sadar, maka dengan kepura-puraan atau pembuta-tulian akan politik, bisa dianggap sebagai suatu manifestasi dari aksi yang keji dan biadab. Dalam lembaran sejarah Indonesia, baik di zaman kolonial maupun sesudah diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia, bukti-bukti akan dampak buruk sekaitan dengan soal dan persoalan politik kiranya cukuplah banyak adanya. BEGITULAH dalam hal yang menjadi tumpuan bahasan kita sekitar polemik Pramoedya-Lekra vs Manikebu ini, memang benar asal-usul mulanya memang gara-gara sikap menyikapi soal politik. Di satu pihak – pihak yang pertama – menganggap politik adalah soal yang lumrah, pun penting maknanya, sampai disemboyankan “politik adalah panglima”, yang merupakan wawasan yang luas maknanya. Di pihak lain – pihak yang kedua – menentang soal ini. Maka terjadilah persoalan – perbedaan pendapat sampai terjadi perdebatan atau polemik. Polemik yang bukan hanya terjadi ada orang perseorangan, melainkan antara grup, kelompok, kaum dan atau golongan; baik di forum-forum terbatas, di akademi atau universitas, pun sampai pada perluasannya di media massa bahkan di lembaga-lembaga resmi maupun non-resmi. Kiranya telah terbukti, bahwa lewat perjuangan di bidang kebudayaan dengan segala variasinya, orang pun menyaksikan keragaman opini bahkan dari kalangan mereka sendiri yang tergolong “pihak kedua” alias kaum penentang semboyan “politik adalah panglima”. Karena, apapun perwujudan atau pernyataan baik lisan maupun tulisan, bahkan orang yang menjatakan “tak berpolitik”, “tak suka politik”, “menentang politik” dan sebagainya lagi itu, pada hakikatnya orang itu lagi berpolitik. Dengan caranya sendiri. Maka gamblang sekali, dalam hal adanya manifestasi aksi berupa Manifes Kebudayaan (Manikebu) yang dikonsepsi dan dideklarasikan oleh sementara kalangan budayawan, sastrawan dan penyair Indonesia itu tak lain tak bukan merupakan peristiwa politik – bukan semata-mata kebudayaan. Mari kita simak, bahkan pernyataan dari kalangan, kaum atau kubu Manikebu sendiri atau mereka yang pada hakikatnya sama saja dalam sikap-pendiriannya yang mendasar. Misalnya, opini yang dibawakan oleh budayawan kondang Ajip Rosidi, cukuplah signifikan dan layak jadi perhatian. “Para seniman dan budayawan yang terutama berkumpul di sekitar majalah Sastera sangat berkeberatan terhadap diletakkannya politik sebagai panglima….” Tulis Ajip, dalam bukunya “Sastera Dan Budaya”, Pustaka Jaya, Jakarta 1995, hlm 165). “Karena itu akhirnya mereka mengumumkan sebuah pernyataan sikap yang kemudian terkenal dengan nama Manifes Kebudayaan.” Menurut Ajip Rosidi, “Kira-kira pada bulan Juli 1963, ketika menginap di rulah Toto S. Bachtiar di Gang Eddy, Jalan Halimun, Jakarta, Soe Hok Djin (sekarang Arief Budiman) menyodorkan konsep pernyataan yang kemudian akan dikenal sebagai Manifes Kebudayaan dan mengajak kami menandatanganinya, kami pun menolaknya.” “Kami beranggapan bahwa langkah seperti itu berbahaya, karena tidak lagi merupakan langkah kebudayaan, melainkan sudah langkah politik, karena bagaimana pun pernyataan itu merupakan pernyataan politik.” (hlm 168) “Memang, isi Manifes Kebudayaan itu sendiri tidak ada apa-apa yang baru, dilihat dari segi pemikiran kebudayaan; ia hanya berupa pernyataan sikap yang menolak konsep “politik sebagai panglima”; sementara konsep penjelasan yang menyertainya yang disusun oleh Wiratmo Soekito jelas memancing pihak Lekra/PKI untuk turun tangan adu kekuatan…” (hlm 168-169).
Lebih jauh, penjelasan Ajip Rosidi menjadi lebih penting lagi ketika menunjukkan betapa kaitan eratnya kaum Manikebu dengan KKPI dan didirikannya organisai pengarang bernama KPI (Karyawan Pengarang Indonesia) dengan pihak kekuatan militer alias ABRI. Dengan menunjuk beberapa sosok tokoh yang memegang peranan penting dalam pengimplementasian “politik sebagai panglima” secara nyata selaras versi dan selaras cara serta tujuan politik mereka. “Menurut Darsjaf, “Golongan Manifes sadar massa-aksi PKI/Lekra yang mengganyang mereka, harus dihadapi dengan massa-aksi. Timbullah pikiran untuk menggalang persatuan di antara mereka dengan mengadakan Konferensi Karyawan Pengarang seluruh Indonesia…” “Pernyataan ini menarik sekali, karena bertentangan dengan pernyataan para tokoh Manifes Kebudayaan pada masa itu, yang selalu menekankan bahwa mereka tidak berpolitik dan tidak main politik.” (hlm 205-206) “Seperti yang pernah saya kemukakan, bagi kami sendiri penandatanganan Manifes Kebudayaan itu merupakan tindakan politik. Jusrtru karena itulah maka saya dan kawan-kawan dari Bandung menolak ajakan Arief Budiman untuk menandatanganinya.” (hlm 206) “Bahwa ABRI, terutama Angkatan Darat, yang memang anti-komunis melihat kelompok Manifes Kebudayaan ini sebagai kekuatan yang dapat dimanfaatkan secara politik untuk menghadapi PKI, dapat bdimengerti. Darsyaf dengan gamblang menyatakan bahwa “KKPI adalah proyek Angkatan Darat dalam rangka machtsvorming penggalangan kekuatan menantang machtsvorming PKI/Lekra”.
Demikianlah, dan dalam hal penting bahkan genting ini, peranan salah seorang tokoh yang dijuluki sebagai konseptor Manikebu, organisator sekaligus promotor Manikebu/KKPI/KPI seperti Wiratmo Soekito menjadi amat bermanfaat untuk disimak. Supaya memudah-cerah-kan kita untuk memahami betapa implementasi jurus politik Militer dalam perjuangan di bidang kebudayaan. Lagi pula, selain Wiratmo Soekito, ada sejumlah budayawan dan pengarang yang memang bekerja atau berdinas militer. Seperti yang paling terkemuka: Kolonel Nugroho Notosusanto. Di samping tokoh-tokoh yang jadi “orang militer”, yang bekerja secara langsung maupun tak langsung, resmi maupun tak resmi, untuk kaum militeris. Ketika ada yang sepertinya lagi “kebakaran jenggot” mereaksi tulisan saya yang menyinggung tokoh Wiratmo Soekito sebagai bukti salah seorang dari tokoh Manikebuis yang mengimplementasi “politik adalah panglima” versi kaum militeris, saya bukan lagi memfitnah. Melainkan lagi mengungkapkan kenyataan yang benar. Benar juga, saya mendapat sambutan dari salah seorang sahabat yang juga pengarang, esayis dan penyair yang bermukim di Negeri Paman Sam, bahwa ada bukti bahwa Wiratmo Soekito itu memang agen militer – seperti yang pernah disinyalir Zainal Afif. Sang sahabat yang bermukim di negerinya Ben Anderson itu membantu saya untuk menunjukkan pengakuan Wiratmo Soekito sendiri, seperti tertera dalam bukunya sendiri yang berjudul: « Kesusasteraan dan Kekuasaan » (1984). Wiratmo Soekito merasa gagah dan amat serta memiliki banyak pengetahuan sekitar Manikebu dan KKPI baik yang diumumkan maupun yang tak diumumkan alias latar belakangnya. Pasalnya, seperti diakuinya pada halaman 41, adalah :
« …oleh karena ketika itu « bekerja » secara sukarela pada dinas rahasia Angkatan Bersenjata, saya dapat mengetahui latar belakang larangan Manifes maupun latar belakang permintaan maaf kepada Sukarno. » Dan sang sobatku dari Amerika itu meminta perhatian khusus akan kata « bekerja » yang ditaruh dalam tanda petik itu, yang seolah-olah dikutip, tetapi jelas maksudnya memakai huruf tebal, bahwa dia bekerja (dengan huruf tebal) sekalipun dengan suka rela. Maka cocok sekali maknanya dengan yang juga dikonstatasi oleh Ajip Rosidi dalam bukunya “Sastra dan Budaya” itu, bahwa: « …Wiratmo Soekito bekerja untuk tentara, mungkin sebagai teknokrat. » (hlm 194). Akan halnya tokoh-tokoh lainnya, kiranya juga amat penting untuk dicermat ungkapan Ajip dalam bukunya pada halaman 166: “Dalam tahap selanjutnya, sangatlah menentukan peran seorang pengarang muda dari Medan, Bokor Hutasuhut namanya, salah seorang penandatangan awal Manifes Kebudayaan. Bokor “didrop” ke Jakarta sebenarnya untuk mempersiapkan jalan agar pencalonan Kolonel Noor Nasution untuk menjadi Gubernur Sumatea Utara dapat berjalan lancar. Karena itulah Bokor mempunyai saluran dengan tentara. Bokorlah yang menjadi penghubung kesepakatan kelompok Manifes Kebudayaan dengan Menko Pertahanan-Keamanan Jenderal A.H.Nasution yang telah diketahui memang anti komunis. Sebagai hasilnya ialah kesepakatan untuk menyelenggarakan Konferensi Karyawan Pengarang se-Indonesia (KKPI) yang akan melahirkan sebuah organisasi pengarang di bawah naungan Angkatan Darat. Dipasangnya nama “karyawan” di situ, niscaya untuk mengesahkannya sebagai proyek kekaryawanan ABRI”. Begitulah, lebih lanjut, pada halaman 187-188, pengungkapan Ajip menjadi semakin tegas lugas lagi akan manifestasi aksi politik dari kaum Manikebuis dan Militeris di medan juang kebudayaan Indonesia. Dengan memanfaatkan makna “politik adalah panglima” dan “tujuan menghalalkan cara” menurut versi mereka sendiri. “Memang ada hal-hal mendasar yang berbeda antara kami para pengarang Bandung dengan kawan-kawan kaum Manifestan,” tulis Ajip Rosidi, “misalnya tentang kemandirian pengarang dan seniman dalam masyarakat. Saya sendiri dalam sidang-sidang berkali-kali menyatakan keberatan bahwa sebuah konferensi pengarang diketuai oleh seorang yang sama sekali bukan pengarang, meskipun dia jenderal, yaitu Mayor Jenderal Dr. Sudjono. Saya katakan bahwa hal itu merupakan suatu keganjilan yang akan merusak citra kepengarangan.” (hlm 187) “Saya tahu bahwa didudukkannya jenderal tersebut dalam konferensi itu niscaya hasil kesepakatan kaum Manifestan dengan Menteri Pertahanan dan Keamanan pada waktu itu, yaitu Jenderal A.H.Nasution. Sebagai imbalannya, konferensi mendapat berbagai fasilitas dari Angkatan Bersenjata, terutama Angkatan Darat, termasuk uang untuk membiayai para peserta dari daerah-daerah.” (hlm 187-188)
KINI adalah gunanya untuk mengungkap seraya menggaris-bawahi mengenai eksistensi masing-masing yang saling berlaga memperagakan aktivitas-kreativitasnya seraya bersaing suara di medan juang kebudayaan Indonesia. Meskipun dalam kenyataannya pula, dan di dalam masa tertentu pula, tidaklah dalam keadaan seimbang. Karena adanya keberbedeaan yang nyata, baik dalam pandang maupun dalam kekuatan dan kemampuan yang terpandang. Tapi, satu hal yang pasti, adalah benarnya konstatasi yang antara lain juga datang dari budayawan kaliber nasional sekaligus internasional macam Ajip Rosidi. Yakni bahwa kekalahan dan kehancuran Lekra itu bukanlah oleh kekuatan kaum Manikebu, melainkan oleh kekuatan kaum militeris OrBa. Yang dengan gampang mengatasi “G30S” dan memanipulasi sikon politik sejak 1 Oktober 1965, hingga penumbangan rezim Sukarno sekalian aksi penumpasan para pendukung utamanya, yakni PKI serta kaum nasional dan demokrat lainnya. Suatu masa tragis yang amat sangat berbeda dengan beberapa masa singkat sebelumnya, yakni setelah pelarangan Manikebu. Dalam bukunya yang tersohor itu, pada halaman 194, Ajip Rosidi terlebih dahulu melukiskan sikon ringkas namun bernas. “Dengan dilarangnya Manifes Kebudayaan”, jelas Ajip Rosidi, “maka para pendukungnya kehilangan forum untuk “berjuang”, karena praktis tidak ada media massa yang bersedia menampung karya-karya mereka, bahkan dengan memakai nama samaran sekalipun. Dari tempatnya bekerja di lembaga-lembaga pemerintah, mereka pun didepak. Sebagian –seperti Wiratmo Soekito- bekerja untuk tentara, mungkin sebagai teknokrat. Sebagian lagi menggabungkan diri dengan gerakan-gerakan bawah tanah. Tetapi kebanyakan menggabungkan diri ke dalam lembaga-lembaga kebudayaan yang bersedia menampung dan melindunginya.” “Ketika kemudian Lekra tumbang karena PKI terlibat dalam kudeta Gestapu yang gagal (1965), orang-orang Manifes Kebudayaan banyak yang menggabungkan diri dengan kesatuan-kesatuan aksi, tetapi peluang itu sendiri bukanlah hasil perjuangan mereka. Karena itu adanya anggapan dari tokoh Manifes Kebudayaan seakan-akan Lekra hancur karena perjuangan mereka, hanyalah suatu impian romantis belaka.” (hlm 194) Kemudian, hal itu lebih ditegaskan lagi oleh Ajip Rosidi dalam bukunya itu pada halaman 214: “Tidak ada maksud saya hendak mengecilkan peranan Manifes Kebudayaan ataupun pihak yang lain. Yang saya kemukakan dalam kalimat itu sudah jelas karena merupakan fakta-fakta sejarah. Gagalnya kudeta Gestapu PKI bukanlah karena perjuangan golongan Manifes Kebudayaan, walaupun banyak di antara kaum Manifestan yang kemudian bersama-sama dengan Kesatuan Aksi mengganyangnya. Kegagalan kudeta Gestapu adalah berkat ketangkasan ABRI di bawah pimpinan Mayor Jenderal Soeharto yang ketika itu menjadi Panglima Kostrad. Pada hari-hari pertama yang menentukan setelah 1 Oktober 1965, tidak pernah tercatat adanya peranan kaum Manifes Kebudayaan dalam melumpuhkan kaum pemberontak. Sebaliknya ketegasan dan keberhasilan ABRI pada hari-hari pertama bulan Oktober itu, memberikan peluang kepada kekuatan-kekuatan rakyat yang anti-komunis, termasuk kaum Manifes Kebudayaan, untuk bergerak. Jelas bukan kaum Manifestan yang menciptakan peluang itu.” Konstatasi Ajip Rosidi itu memang sarat kebenaran faktual. Wajar. Karena selain budayawan, sastrawan, penyair, intelektual juga dikenal sebagai sejarawan. Terbuktikan antara lain dari hasil telaahnya berupa buku “Ikhtisar Sejarah Sastera Indonesia”. Dalam mana, Ajip menunjukkan obyektifitas akan keberadaan para sasterawan Indonesia, termasuk di dalamnya para sasterawan anggota Lekra. Di situ, terbukti tidak diberlakukan pemenggalan atau pembunuhan dalam arti kiasan, barang tentu. Lagi pula, secara faktual, baik secara kwantitas maupun kwalitas barisan pekerja kebudayaan, seniman dan sastrawannya -- kekuatan maupun kemampuan barisan Pramoedya/Lekra tidaklah sepadan dengan kaum Manikebu memang. Begitulah betapa besar jasa dan pengaruh Lekra dalam upaya perjuangan pembinaan kebudayaan Indonesia yang nasional dan merakyat, tak bisa dibandingkan dengan sekelompok kaum Manikebu. Bahkan, dalam masa berjaya-jayanya rezim OrBa, apa lagi sesudahnya, prestise sekaligus prestasi Pramoedya/Lekra tetap amat signifikan, baik dalam skala nasional maupun internasional.sepertinya pantang sirna. Dengan kata lain, semangat yang dibawakan Pramoedya dan jiwa dari gerakan kebudayaan nasional yang merakyat di bumi Indonesia senantiasa langgeng saja adanya. *** 22.12.2007 Catatan: Ikustrasi kulitbuku himpunan esai "Hidup Mati Penulis & Karyanya: Sekitar Polemik Pramoedya-Lekra vs Manikebu" yang segera terbit.  Posted by Ibrahim on Oct 12, '08 7:36 AM for everyone  Gado-gado Betawi :
Sekitar Prahara Budak Budaya
Oleh : A. Kohar Ibrahim
(1)
AWAL mulanya bermula dalam suasana Beranda Betawi dengan selang seling irama musik menggelitik mampu mengundang mesem ayem sampai tawa cekikik. Manakala terdengar duel sepasang lelaki-perempuan, seniman-seniwati, membawakan lagu : « I don’t know. Apa artinye ? » Tanya berbalas jawab mengumandang sindiran lagu manusia. Seperti lagak lagu tinggi-pendek hati, pinter-keblinger, tahu tapi tak tahu ; si miskin berlagak kaya, tua-tua keladi dan sebagainya lagi.
Pertama-tama ditanya lelaki apakah bisa ngomong Inggris, perempuan yang ditanya menjawab : Itu mah bahasa sehari-hariannya. Setelah bilang : « Ah sombong, lu, » sang lelaki, si Abang Betawi penasaran, nggak tahan nguji :
« I don’t know – apa artinye ? »
« Aye nggak tau…» jawab sang perempuan, tentu sembari mesem.
« Bodo, lu ! » cetus sang lelaki, manis-pedes seperti rujak ulek.
Aku mesem terkesankan betapa dalam pernyataan dirinya orang bisa dengan sengaja atau tidak sengaja tergelincir jadi pinter keblinger. Malah secara tak malu-malu mengangkat diri sendiri seraya merendahkan orang lain dengan memberikan cap : bodoh. Meskipun faktanya yang menerima tudingan bodoh itu menyatakan kebenaran alias tidak bersalah.
Iya. Begitulah lagak lagu manusia. Masih dalam suasana Beranda Betawi aku alih dengar suara duel Bang Ben dan Ida Royani dengan lagu Jali Jali. Salah sebuah lagu yang memang enak merdu sekali. Meski cerita macam-macam tentang ular naga dan ular kadut, dari Turki ke Bojong Lompong, keloyoran sana sini tak bisa tidur sampai Kramat hanya bisa berakhir di Cikini.
Sungguh suatu kebetulan yang menimbulkan kesenangan sekaligus membikin hati dan pikiranku terusik, pabila iringan musik Gambang Kromong menyajikan juga lagu Jali Jali yang merupakan variasi berjudul Jali Jali Bunga Siantan, Mat Nuh mendadak datang seraya bilang : « Ade kiriman dari temennye Muntaco, Bang. Mpok Linah. »
« Dari Mpok Linah ? »
« Iye : Mpok Erlinah, bininye Bang Zainal, temennye pengarang Gambang Kromong – Firman Muntaco. Preksa aje tuh kirimannye di Apsas. Nyangkut soal Pram. »
« Hooh, deh, Mat. Nanti ane preksa, » kataku, lantas Mat Nuh kembali ke kamarnya. Meneruskan urusannya mengumpulkan bahan-bahan dari Internet yang diperlukan. Tentu saja, sembari terus mendengarkan lagu Betawi dengan suara Bang Ben si Item Manis aku buka kotak email, hanya untuk menemukan kiriman dari si Mpok bersangkutan. Aku tak kuasa menahan mesem selagi mendengar lagu Item Manis bareng teringat Mpok Linah – orang Betawi asal Batak yang berkulit putih bersih. Sang mantan wartawan Sulindo merangkap redaktur Berita Minggu itu tentu saja juga temannya pengarang cerita Betawi yang kondang : Firman Muntaco pengelola rubrik Gambang Kromong yang diisinya tiap minggu. Dan kebetulan kami tinggal sama-sama di daerah Petamburan -- aku di Gang Kiapang, sedangkan Firman di Kober. Letak rumahnya di tikungan jalan menuju Palmerah, dekat Toko sekaligus bengkel batu nisan.
Akan tetapi, perihal Mpok Linah, dia aku kenal bukan saja sebagai jurnalis dan penulis, melainkan juga deklamatris kondang. Yang sering tampil memeriahkan acara malam budaya di Gedung Kesenian. Pada masa itu, Zainal Afif yang kelak jadi suaminya selain penyair dan esayis serta penyiar di RRI juga deklamator. Seperti juga Anak Medan lainnya : Kamaludin Rangkuti, Aziz Akbar dan Amarzan Ismail Hamid.
« Hebat banget ! » bisikku dalam hati, ketika membuka kiriman Mpok Linah alias Rondang Erlina Marpaung itu. Justeru, ketika aku teringat pada beberapa penulis Anak Medan atau Sumut itu, apa yang dikirimkannya adalah artikel yang ditandatangani suaminya, Z. Afif , berupa komentar « Pram dan Hadiah Nobel ». Nyambung sekali dengan salah satu pembicaraan milis Apsas dalam periode akhir September awal Oktober 2008 ini. Pembicaraan yang berkisar pada situasi sastra Indonesia dan soal persoalan hadiah – terutama sekali Hadiah Nobel dan hadiah internasional lainnya seperti Magsaysay Award. Dalam mana, lagi-lagi nama sastrawan terkemuka Indonesia Pramoedya Ananta Toer jadi persoalan lagi.
Dalam naskah komentar Afif tertanggal 24 September 2004 itu pun tertera beberapa nama anak, budak atau bidak budaya lainnya, selain yang dijagokan seperti Guo Xingjian si pemenang Hadiah Nobel asal Tiongkok, juga Mahfud dari Mesir, Pramoedya dari Indonesia ; selain deretan para pembincang seperti Ramses, Widjaya, Ubes dan Ikranagara. Bahkan tertera nama Afif-Rondang puteri : Nyala Baceh, sang Magister Sinolog.
Tulisan berupa komentar dari Afif (2004) itu tentunya dimaksudkan untuk menyambung-ingatkan tulisan dari Ikranagara tertanggal 1 dan 2 Oktober 2008. Tulisan yang juga terutama sekali bersambut dengan tulisan dari Akmal Nasery Basral dan Hasan Aspahani serta yang lainnya lagi. Tulisan-tulisan yang nada intinya masih menyanyikan lagu lama, dengan ujung tombak tertuju pada Pramoedya Ananta Toer. Pada yang mereka anggap « dosa-dosa » Pramoedya di masa lalu, tegasnya di zaman Orde Lama. Seperti yang digemakan dalam buku « Prahara Budaya » dan kemudian dalam manifestasi aksi dari kalangan penulis yang menentang Hadiah Magsaysay untuk Pramoedya Ananta Toer.
Dalam hingar-bingar mana, terkait pula salah seorang penyair kiri bernama Mawie dengan sajaknya berjudul « Kunanti Bumi Memerah Darah ». Semata-mata untuk terus menimbulkan kesan atau melanggengkan pembenaran garis politiko-ideologi anti-komunis Orde Baru terhadap kaum Kiri. Lebih tegasnya lagi : untuk terus mencanangkan akan kelatenan bahaya Komunisme atau PKI ?
Rupanya mentalitas Orbais macam itu ternyata memang bukan saja belum sirna, meski Era Reformasi sudah sekian lama, melainkan masih terus dipelihara. Seperti dibuktikan oleh pernyataan KSAD Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo, dalam upacara tahlil dan doa di Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya (30/9/2008) bahwa : « Upaya Kebangkitan Komunis Semakin Nyata ».
Terus terang saja, aku memang tergelitik oleh hal-ihwal yang saling bersangkutan dengan sejarah tersebut. Sejarah yang selain mampu menggugah juga layak digugat lantaran ditulis dengan penuh rekayasa oleh penguasa Orba. Seperti yang dikonstatasi oleh sejarawan Dr Asvi Warman Adam baru-baru ini. Maka itulah sebabnya kenapa saya merasa terdorong untuk menuliskan serangkai catatan ini.
Dorongan menulis dalam suasana irama musik Betawi seperti Gambang Keromong dengan Jali Jalinya. Lantaran tumpuan utama ingatanku pada serangkai peristiwa di kota Jakarta, istimewa sekali di Jalan Hayamwuruk. Kongkritnya di kantor koran Bintang Timur. Lebih kongkrit lagi : di ruang kebudayaan koran tersebut dengan nama termasyhurnya : Lentera. Tempat kekuasaan seseorang yang menjadi simbol kaum pengarang kiri bernama Pramoedya Ananta Toer. Sebagai pengelola Lentera. Yang, justeru, antara lain menyiar sajak « Menantikan Bumi Memerah Darah ». Sajak yang oleh kaum Manikebuis dijadikan salah satu unsur untuk mendasari serangannya terhadap pekerja kebudayaan kiri, istimewa sekali : Lekra.
Sementara aku girang nyaris bergerak nandak mendengarkan irama musik Gambang Kromong, di bola mataku beruntun duyun para budak dan bidak, bocah atau anak pekerja budaya yang ragam macam. Semuanya bergerak anjak langkah di arena budaya dalam upaya turut memeriahkan suasana. Menari-nari atau riang gembira bernyanyi atau mencak-mencak selaras nada irama yang disuka. ***
(11 Oktober 2008)
 Posted by Ibrahim on Sep 14, '08 2:27 PM for everyone  Nota A.Kohar Ibrahim: Sepatah Kata Untuk Hudan (Dari Milis Apresiasi Sastra) Sepatah kata saja lebih dulu, Hudan. (1) Soal rekonsiliasi. Soal rekonsiliasi bagiku, kiranya nggak jadi soal, alias: setuju. Dalam kenyataan dan praktisnya, secara perorangan antara seniman atau pengarang, sudah, sedang dan terus terjadi dan mungkin terjadi, kok. Aku pernah mengambil contoh tipikal, misalnya, antara Sobron, Asahan dan aku sendiri dengan Ajip Rosidi. Tapi itu baru tahap orang perorangan, Hudan. -- Masalahnya bukan yang terutama di situ letaknya, tapi pada perangkat peraturan buatan Kekuasaan, Hudan. Dan soal yang jadi persoalannya, bukan hanya persoalan "bertolak-tolakan" di bidang kebudayaan belaka, tapi menyangkut berbagai bidang kehidupan. (2) Soal sejarah yang utuh. Kalau aku kerap ulang bilang, bahwasanya aku menginginkan tegaknya kebenaran dan keadilan, juga berkaitan erat dengan persoalan kesejarahan. Iya, aku merindukan sejarah Indonesia yang utuh di segala bidang; tentu saja yang amat menarik bagiku sejarah kebudayaan Indonesia, istimewa sekali kesusastraan Indonesia. Aku ingin, misalnya, para budayawan dan atau pengarang dan penyair yang memang layak disebut demikian (berdasarkan aktivitas-kreativitasnya) mendapatkan tempat di lembaran sejarah dengan layak selayaknya pula; tidak disingkirkan atau didiskriminasikan atau malah dibunuh atau tergolong "orang hilang". (3) Dengan sikap pendirian begitulah, Hudan, aku bisa mengapresiasi aktivitas-kreativitas para budayawan, sastrawan dan penyair Indonesia yang aku ekspresikan dengan cara lisan maupun tulisan. Seperti dikau dapat dengan mudah simak di beberapa blog atau milis. (4) Soal Ideologi. Ah, aku sendiri mempertanyakan diri: ideologiku apa, yah? Sementara aku menjadikan guru-guruku sederetan nama, antara lain Pram dan (yang jadi guru Pram juga) Multatuli, yang intinya untuk: Menjadi Manusia. (Kalau menurut bahasa Mbahku: "Jadi Orang", katanya). Dan aku suka sekali mengutip ujarkata Mahmoud Darwich (Mahmud Darwis), bahwasanya: "Warisan Peradaban manusia adalah satu: diperkaya oleh suatu proses yang panjang" (Sekitar Tempuling Rida K Liamsi, Yayasan Sagang 2004, hlm 100). Aku yakin itu. Bayangkan saja, ketika mengkaji makalah Mao Zedong tentang Sastra dan Seni di Jenan, juga Marx, aku malah nyelonong menelusuri jejak Zarathoustra dengan Ahuramazda-nya! Aku bukan saja menemukan Jalaluddin Rumi, tapi juga simbol Garuda perkasa mereka dan Nyala Api mereka.... Maka dari itu, ketika ada orang yang gemar teriak teriak tentang ideologi Lenin & Stalin, tentang Proletkul (kebudayaan proletar) sembari mencak mencak nuding sana sini "borjuis", hehehe...aku cuma mesem mesem aja. Dan aku pengutuk segala tindakan yang bertentangan dengan Hak Hak Azasi Manusia. (5) Ada yang ingin aku garisbawahi, sekaitan dengan situasi sastra, istimewa sekali aktivitas-kreativitasmu, yakni bahwasanya: Kita membutuhkan kemauan dan kemampuan untuk menguasai (baca: memiliki) daya apresiasi seni. Maka dari itu, terhadap manusia macam Hudan, aku angkat topi. Sekian dulu, Hudan. Nanti kusambung lagi, mudah mudahan, yah? Salam, (Kohar) --- En date de : Sam 13.9.08, Hudan Hidayat Objet: Re: Bls: [*Apresiasi-Sastra*] puisi tardji & tulisan bertolak tolakan kohar ? À: Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com Cc: jurnalperempuan@yahoogroups.com, "Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com FPK" , "artculture indonesia" Date: Samedi 13 Septembre 2008, 14h13
iya bung kohar.
saya membacai tulisan tulisanmu, adalah sebuah suara dari dunia jiwa yang galau. kalau saya berada dan berdiri di sisi bung waktu itu, barangkali kegalauan jiwaku sudah meledak tak bisa ditahan lagi.
saya tidak tahu apakah saya adalah bagian dari generasi yang beruntung: bergaul dengan sastra di alam kebebasan.
dulu waktu orde baru saya ada membuat cerita yang bersimpati dengan orang orang kalah, antara lain nampan mati atau tamlikha yang sudah saya posting di milis ini.
kadang kita suka berkata dalam hati: brengsek para pengamat sastra di negeri ubi kayu ini, meminta minta sastra yang kontekstual dengan masyarakatnya. sedang diri mereka adalah para pengamat pemalas yang sudah terbelit oleh jejaring modal dan kekuasaan sastra.
Juga masyarakat banyak yang bersuara begini brengsek. Seolah mereka itu membaca sastra saja. Padahal baru membaca satu dua buku sastra yang tak bisa merepsentasikan kenyataan sastra.
memang enak kalau hanya berkata: buatlah sastra dengan memotret keadaan masyarakat. tapi sastra sudah dibuat tapi pengamatnya sembunyi ke dalam peti mati: bersuara kalau datang panitia mengundang mereka bicara. mereka yang tak bekerja dengan cermat dan berpayah tapi senimannya yang disalahkan.
tak ada dari mereka itu mau berpayah payah mencari dan membacai karya orang. lalu membuatkan ulasannya. diminta atau tidak diminta. diundang atau tidak diundang.
dan jurnalisme sastra kita pun ikut -ikutan. tenggelam saja pada irama rating berita masyarakat, tentang apa yang kira kira disenangi dan akan jadi berita di masyarakat.
makanya kaum seniman itu banyak ngamuk. mereka yang puluhan tahun menulis dan berpayah payah menulis, e artis dengan sebiji buku puisi atau buku cerpen yang ditasbihkan.
Tak percaya: cobalah lihat misalnya buku kitab rajam amien wangsitalaja. Buku puisi dengan nilai nilai yang amat dalam itu. Siapa yang membicarakannya dan siapa yang memberitakannya?
aku sering melihat undangan agar mengumpulkan karya perlawanan untuk diterbitkan ke dalam ontologi. kuacuhkan aja. juga kemarin di milis ini ada undangan yang menurutku brengsek: fredum institut meminta mengirimkan karya untuk ontologi. ngirimnya juga lewat kawan kawan kita. juga lomba puisi hutan yang saya lihat kemarin: silahkan mengirim biodata kesini untuk kami nilai menjadi juri.
Waduh apa ini? Mengapa tidak panggil saja konsultan sastra siapa yang pantas jadi juri?
lha sang seniman sudah berpayah membuat karya, tapi orang diluar sedikit pun tak mau pro aktif. bahkan terkesan menghina menurutku. mengapa mereka tidak punya peta tulisan? peta sastrawan? dan berdasar peta itu dikocok mana yang mau diambil.
aku tak pernah mau melibatkan diri pada kegiatan seperti itu. biarlah saja menulis di milis. menulis di koran. harus ada pembagian kerja dong: seniman sudah payah menulis lalu apa kerjanya lembaga budaya, kalau masih juga meminta minta kirimkan ini dan kirimkan itu.
nampak semuanya mau sederhana dan tidak ada yang berpayah.
tapi kenapa pula saya merutuk soal ini ya? kan soalnya bukan ini tapi soal bung kohar yang bertolak-tolakan itu.
Nah kalau aku memandang soal ini begini: rekonsiliasi.
Tapi bagaimana formulanya? Saya tidak tahu jawabnya. Ini kan sudah kawasan konteks dan konstelasi politik. Wah runyam jadinya.
Lagi pula sejujurnya saya tidak tahu apa yang terjadi dulu. Banyak buku dan banyak orang. Tapi kita tahu buku dibuat orang dengan latar belakang masing masing. Buktinya buku satu berkata begini dan buku lainnya segera membantah. Dan semuanya adalah pakar. Padahal kebenaran hanya satu.
Jadi mana yang benar? makanya kami kami ini tidak tahu persisnya. Orang lisan? La lidah pun tak bertulang. Jadinya serba sukar. Yang saya tahu ada banyak pembunuhan dan itu kejam.
Makanya saya bisa mengerti kegalauan bung meminta kebenaran dan keadilan itu.
Bagaimana mungkin orang dibunuh dan diasingkan dari negerinya sendiri dan dari keluarganya sendiri. Kalaupun katakanlah mereka bersalah, sekali lagi kalau ya, maka kesalahan itu sudah sangat ditebus dengan segala macam penderitaan dengan kepedihan dan keterbuangan.
Adalagi kadang saya dengar: awas hati hati, bangkitnya komunis.
Bagi saya terserah aja. Saya sudah tidak penting lagi ideologi. Ideologi apa aja yang mimpin yang penting mereka menang secara demokratis sesuai dengan atruan yang ada. Dan yang penting lagi adalah mereka baik. Bukan malah menyengsarakan orang atau membunuh orang.
Sebab apalah artinya ideology? Hanya tumpukan kata kata di kertas mati. Tentu saja ideology itu hidup tapi akhirnya tergantung manusianya juga. Yang penting mereka baik. Tidak membunuh orang dan tidak membuang orang dalam arti seluas luasnya.
Lagi pula kalau kita baca buku marx kan bagus itu. Marx mau keadilan dalam masyarakat yang tidak adil. Apalagi kalau saya baca madilog, wah luar biasa tokoh ini. Bagaimana mungkin dia bisa membuat buku dengan mutu yang tinggi seperti itu, dalam keadaan serba tertekan dan serba berkurangan.
Makanya kalau saya lihat penulis yang mau enaknya aja tidak melakukan pencarian habis habisan dalam menulis, saya suka ketawa sendiri. Tidak kah mereka berkaca bahwa dunia menulis itu dibuat orang dengan darah dan air mata?
Apalagi mereka yang sebenarnya punya talenta tapi berpuas diri dengan blog atau ha ha hi hi di milis, wah, tambah lagi saya ketawa. Tidak kah mereka tahu karya besar lahir dari segenap penderitaan jiwa penulisnya.
Tapi memang hak orang ya untuk berkarya. Kembali ke orangnya sendiri.
Tapi kalau saya lihat lenin dan stalin saya juga tidak bisa membenarkan komunis sebagai gerakan serupa itu: membunuh.
Itu jalan penuh darah dan bagaimana mau menimbulkan kebahagiaan pada orang lain. Maka memang sukar ya? Makanya saya anti pada politik. malas pada politik.
Politik saya adalah kebudayaan saja. Manusia dalam kebudayaan. Politik yang saya senang adalah manusia dengan karyanya. Terutama manusia dengan karya sastra.
Bakat kita kurang dan tenaga pun tidak cukup. Biarlah kita di bidang ini dan berbahagia melihat semua kejadian dalam hidup ini. Bahagia sebagai manusia dan simpati serta empati sebagai manusia.
Tidak menyalah nyalahkan orang yang sudah jelas jelas menderita dalam waktu yang demikian panjang.
Saya kagum sama anda. Dalam keadaan terbuang begitu tetap eksis menulis dan tiada henti hentinya menulis. Itu kan upaya yang luar biasa sukar: menulis tanpa henti henti.
Aduh, dunia ini memang begini ya bung: terbelah dalam belahan takdir dan nasib yang mengimbas kepada manusia manusianya.
hudan
--- Pada Sab, 13/9/08, abdul kohar ibrahim menulis: Dari: abdul kohar ibrahim Topik: Re: Bls: [*Apresiasi- Sastra*] puisi tardji & tulisan bertolak tolakan kohar ? Kepada: Apresiasi-Sastra@ yahoogroups. com Tanggal: Sabtu, 13 September, 2008, 9:54 AM
Bertolak tolakan tulisanku, Hudan? Hehehe... ilayah kalau begitu: Lantaran orang orang macam Pram dan aku dihajar, dibuang, disingkirkan bahkan dibunuh malah tanpa tahu jelas berdosa apa -- seperti kata penyair Bandaharo. Diadili pun tidak, meski katanya negara sini negara hukum, kan? Hudan, berkas berkas tulisanku itu intinya adalah asa semoga kebenaran dan keadilan ditegakkan; sekalian sebagai sumbangan dariku selaku saksimata dan pelaku gerakan kebudayaan Indonesia. Semuanya sebagai bahan pertimbangan sahaja, Hudan; kutujukan bagi generasi muda dan atau lebih muda dariku; tertuju bagi orang waras yang memanfaatkan pancainderanya. Itu saja. Salam, pendekar Hudan. (Kohar)
--- En date de : Sam 13.9.08, Hudan Hidayat a écrit :
De: Hudan Hidayat Objet: Re: Bls: [*Apresiasi- Sastra*] puisi tardji À: Apresiasi-Sastra@ yahoogroups. com Cc: jurnalperempuan@ yahoogroups. com, "artculture indonesia" , "Forum-Pembaca- Kompas@yahoogrou ps.com FPK" Date: Samedi 13 Septembre 2008, 5h08
iya singo. kalau saya tidak salah baca, hb jassin pun berhadap-hadapan dengan hamka sebagai lawan dalam sidang kasus cerpen langit makin mendung, lalu mereka pulang bersama satu mobil, jassin dan hamka itu.
padahal hamka adalah saksi yang memberatkan jassin dalam tuduhan jaksa yang diprovokasi banyaknya penolakan terhadap cerpen langit makin mendung sebagai cerpen yang akan merusak kaidah orang islam.
di dalam sidang itu hamka menatap jassin tajam tajam dan jassin dengan segala keluguannya tetap bertahan bahwa cerpen langit makin mendung tetaplah sebuah kawasan imajinasi yang tidak bisa dihakimi.
(maka "ponografi" tak bisa dihakimi dengan membuatkan uu pornografi)
karena "pornografi" ini pun bisa juga terjadi di dalam nilai nilai diluar ketelanjangan tubuh tapi ketelanjangan iman atau kepercayaan kepada tuhan. seperti cerpen langit makin mendung itu. di mana tuhan digambarkan pakai kaca mata emas dan sebagainya. sesuatu yang porno - tabu menurut kaca mata formal agama yang belum kena tafsir.
padahal saat hamka dihujat oleh orang orang lekra bahwa tenggelamnya kapal vanderwijck sebagai karya jiplakan, hb jassin lah yang mati-matian membela hamka. tapi hamka terdorong oleh perlawanan masyarakat atas cerpen itu dan terdorong oleh keyakinannya sendiri, mengatakan bahwa cerpen itu salah dan hb jassin salah juga dalam soal ini. tapi dengarlah kata kata hamka:
jassin salah tapi tidak perlu dihukum.
nah begitulah orang orang tua kita dulu memainkan keyakinan mereka tapi begitulah juga mereka menampakkan sikap persahabatan mereka satu sama lain.
penuh rasa kemanusiaan tanpa kehendak untuk membunuh.
tapi saya lihat orang orang lekra dan manikebu hingga hari ini belum juga berdamai. terakhir kan kita menyaksikan sendiri betapa muhtar lubis semasa hidupnya masih menolak pram dengan jalan mengembalikan hadiah magsaysaynya kembali.
tapi goenawan hadir saat kematian pram dan di beberapa tulisannya seakan ada juga simpati pada kaum lekra. walau tulisan tulisan kohar saya lihat masih juga bertolak tolakan. saya belum tahu bagaimana sikap bung ikranegara.
dan yang jelas taufiq ismail membuat buku prahara budaya. banyak yang digugat anak muda (antara lain muhidin m dahlan) dalam buku ini: misalnya soal pembakaran buku oleh orang lekra. tapi kita tunggulah buku muhidin seutuhnya: apa yang sebenarnya yang hendak ia katakan dan bagaimana kelak sejarah mengklare pandangannya dan pandangan taufiq ismail dalam soal lekra dan manikebu ini.
saya pribadi hendak memainkan dunia sastra tanpa luka dan tanpa dendam. ingin netral saja karena siapa pun dan apapun dia tetaplah manusia. tapi seandainya ada dominasi atau kehendak mematikan sebuah nilai, di situlah kita melawan. selebihnya adalah kaum seniman semua yang bolehlah saling bertepuk di kedua tangan.
maka saya ringan aja menulis tiap semua orang dan tiap kejadian. bukankah ini adalah daerah kebebasan dan bukankah semua orang bisa saling mengungkap kebebasannya? - kata lain dari kebenaran yang kita yakini.
maka manusia bisa salah di satu saat tapi bisa benar di saat yang lain. maka tidak boleh ada sikap mutlak-mutlakan.
tapi kalau di politik lain lagi: tubuh tubuh tergeletak sampai mati. mati dari tubuh yang mati. bukan nilainya lagi yang mati tapi tubuh itu sendiri terbujur tanpa hidup lagi.
mungkin bagus juga orang politik ini berkaca pada sikap hamka dan jassin itu: kamu salah tapi tidak perlu harus dihukum.
tapi sukar: kerajaan politik adalah alam benda benda dan kuasa nyata. sedang kerajaan orang sastra hanyalah alam nilai nilai yang berputar putar dalam kepala.
memakai momentum ramadhan, marilah kita saling bermaaf maafan. tapi apa ya yang dibermaafkan terhadap keyakinan masing-masing? mungkin pada sesama status manusianya.
manusia yang hanya kita kita ini saja yang hidup di muka bumi. tak ada orang lain toh?
hudan
maka manusia bisa salah di satu saat tapi bisa benar di saat yang lain. maka tidak boleh ada sikap mutlak-mutlakan.
--- Pada Sab, 13/9/08, Senggutru Singomenggolo menulis: Dari: Senggutru Singomenggolo Topik: Re: Bls: [*Apresiasi- Sastra*] puisi tardji Kepada: Apresiasi-Sastra@ yahoogroups. com Tanggal: Sabtu, 13 September, 2008, 1:19 AM
dalam sastra juga banyak anomali
dari kawan jadi lawan
dari lawan menjadi rekanan
Chairil dan HB Jasin muda pernah bertikai
tapi HB Jasin juga yang mengangkat Chairil tokoh 45
belum yang masih gres semacam nabi tanpa wahyu dan TI
maupun kelompok Lekra dan Manifesto
Sastra pedalaman dan sastra kota
sastra internet dan sastra koran
jadi anomali itu yang mengasyikkan seperti membaca cuaca
atau puisi gelap tahun 2000an
yang jelas anomali bukan anoman yang berbulu putih!
--- In Apresiasi-Sastra@ yahoogroups. com, Hudan Hidayat
wrote:
di kesempatan lain ya akmal. banyak nian yang bisa diceritakan dalam
sastra kita ini. yang senang dan yang sedih dengan pendekatan
kemanusiaan. mesra akhirnya karena kita kelak akan menjadi tua dan
meninggal dunia semua.
kelak di surga kau dan aku bisa saling kaget sambil tertawa:
lho, kau di sini!
lha ketemu lagi kita!
surga ternyata selebar daun kelor juga
he he he
hudan
*
 Posted by Ibrahim on Sep 7, '08 1:29 PM for everyone  EXPO Peintures Photographies Sculptures Antoietta Corti – Hamid Douieb – Abe Kohar Ibrahim – Michel Thomasset – Michel Dusariez – Michel Léger – Silvia Bauer – Sandrine Bouleau – Huber Verbruggen GUILLAUME et CAROLINE EURENT UN FILS… Les Arts plastiques accostent au Chien Vert Dans le bâtiment qui vogue, toutes voiles dehors, en face des célèbres Tissus du Chien Vert, les propriétaires ont invité les arts à s’exposer. Associant la peinture - Antonietta CORTI di CURIO (www.antoniettacorti.com), - - Hamid DOUIEB (www.hamid-douieb.com), - - ABE KOHAR Ibrahim ( http://artscad.com/@/AKoharIbrahim), - - Michel THOMASSET ( http://web.mac.com/marcthomasset/foreva/bienvenue.html) la photographie - Michel DUSARIEZ (www.pano360.org), - Michel LEGER ( http://www.michelleger.artblog.fr) la sculpture - Silvia BAUER ( http://www.lagalerie.be/silvia/index.htm), - Sandrine BOULEAU (www.sandrinebouleau.be), - Hubert VERBRUGGEN (www.matongart.be/fr/art_verbruggen/art.html), cette importante exposition d’ensemble présente des œuvres aussi bien figuratives qu’abstraites. Son vernissage se déroulera le vendredi 26 septembre 2008 à 18 h 30. Elle sera ouverte gratuitement au public, de 11 h à 18 h les samedi et dimanche 27 et 28 septembre ainsi que les 4 et 5 octobre. La galerie « Guillaume et Caroline eurent un fils… » est située à Molenbeek-St Jean, quai des Charbonnages, 40, le long du canal. * Nama lengkap : Abdul Kohar Ibrahim Nama pelukis (tandatangan karya lukis) : Abe Lahir 16 Juni 1942 di Jakarta, Indonesia. Menerima pendidikan Seni Rupa di : Académie Royale des Beaux-Arts de Bruxelles, Brussel, Belgia. Alamat: Belgia : Bruxelles, Belgique. Indonesia : Jakarta & Batam, Indonesia. Blogs: http://painting.multiply.com/tag/abekreasi/Penghargaan / Diploma: (1) Brevet d’Exellence & Diplôme de Fin d’Etude de l’Académie Royale des Beaux-Arts de Bruxelles (1975, 1979). (2) Prix de Gouden Pluim (Spectraal, Gent, 1981). (3) Médaille d’Argent du Mérite Artistique Européen (Coxyde, 1987). (4) Médaille d’Argent de l’Académie Internationale des Arts Contemporains et Diplôme d’Officier (pour reconnaître et protéger sa valeur artistique) 1986. (5) Médaille d’Or (1987) et Médaille de Platine de l’AIAC (Enghien, 1988). Biodata. Bibliographie : (1) Media Massa, antara lain : Le Soir, La Lanterne, La Dernière Heure, L e Pourquoi Pas ? Le Jalon des Arts, Gazet Van Antwerpen, Het Laste Nieuws, De Autotoerist, Sontags Kurier, Cellerche Zeitung. Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Harian Sijori Pos, Harian Batam Pos, KB Antara dan media online: SwaraTV, DepokMetroNet, CybersastraNet, CimbuakNet. (2) Spectraal Kunstkijkboek VI, éd. Spectraal, Gent 1984. (3) 50 Artistes de Belgique, par Jacques Collard, critique d’art, éd. Viva Press Bruxelles 1986. (4) Art Information, éd. Delpha, Paris 1986. (5) Who’s who in Europe, éd. Database, Waterloo 1987. (6) Who’s who in International Art, international biographical Art dictionary, éd. 1987-1996, Lausanne, Suisse. (7) Dictionnaire des Artistes Plasticiens de Belgique de XIXe et XXe Siècles – Editions Art in Belgium 2005. Exposisi : Sejumlah eksposisi individual maupun kolektif. Antara lain : Galerie Hendrik De Braekeler (Antwerpen, 1977). Galerie Rik Wauters (Bruxelles, 1977). Galerie Van de Velde (Gent, 1979). Les Arts en Europe (Bruxelles, 1979). Galerie APAC (Schaerbeek, Bruxelles, 1980). Mérite Artistique Européen (Coxyde, 1980, 1987, 1990). Galerie Escalier (Bruxelles, 1980). Spectraal (Gent, 1981). Galerie Gouden Pluim (Gent, 1982). Galerie Erasme (Anderlecht, 1983, 1990). Galerie Schadow (Celle, RFA, 1986). Europa Bank (Gent, 1987, 1988, 1990). 50 Artistes de Belgique (Bruxelles, 1986). A.I.A.C. (Enghien, 1987). Spectraal (Nieuwpoort, 1988). Galerie Het Eeuwige Leven (Antwerpen, 1993). De Kreiekelaar (Schqerbeek 1997). Parcours d’Atistes (Commune de Schaerbeek, 1998). En Modus Vivendi (Oude Kerk, Vichte, 2003). Galeri Novotel (Batam, Kepri, 2004). Museum Haji Widayat (Magelang, Indonesie, 2004). Galeri Novotel (Batam, Kepri, 2006). Hôtel Communal de Schaerbeek, Bruxelles 2007. Galerie Guillaume et Caroline, Bruxelles 2008. ***  Posted by Ibrahim on Sep 3, '08 5:44 AM for everyone  Sitoyen Saint-Jean : Antara Hidup Dan Mati I Sitoyen
6 Selain Itu
SELAIN itu? Masih ada lagi? Ah, Sang Ingatan kolokan menagih lagi. Membikin aku tersipu sambil meneruskan tagihan pada ingatan pula adanya. Ada lagi memang impian yang berubah kenyataan. Seperti impian masa muda remajaku sebagai jurnalis-penulis yang mengagumi kaum jurnalis-penulis perempuan yang seringkali begitu cakap lagi cakep dalam penampilan. "Tapi itu soal yang terlalu berkaitan dengan persoalan pribadi termasuk kandungan keprivasiannya. Tunda saja dulu...
"Oke. Oke. Dan yang lainnya masih ada?"
"Ada. Iya. Tentu ada lagi," kata hati dan pikiran hampir bareng. Mendorong lebih cerah-segarnya memori diri pribadiku. Seperti masa selagi duduk di bangku sekolah, salah sebuah mata pelajaran yang aku suka adalah geografi di samping sejarah. Aku memang tertarik sekali keberadaan alam dunia sekalian semestanya. Fenomena bumi atau tanah juga air dan udara serta api terutama sekali yang selalu menggelitik hati, pikiran dan imajinasiku. Sumber atau mata-air, kalenan, kali dan sungai-sungai panjang lagi besar, laut dan samudera raya sekalian pantai-pantainya, pun empang, setu dan danau sering senang aku ingat aku kenang. Seperti kolam atau empang di dekat pesawahan. Seperti Setu Gintung, Telaga Warna dan Danau Toba dengan Pulau Samosir. Dan begitulah pula yang terhampar di mancanegara, seperti yang selalu memancing ketakjuban dan menggoda daya-bayang berkembang adalah Danau Baikal. Danau yang pernah mengisi masa perjalanan di waktu malam dengan mata terpejam alias sebagai mimpi atau menjadi impian.
"Mengunjungi Danau Baikal yang merupakan impian berubah kenyataan itu terjdi dalam musim panas tahun 1972. Dalam perjalanan panjang membelah benua -- dari Beijing via Moskow menuju ujung Eropa Barat -- selama seminggu, dengan kendaraan keretapi Trans Siberia. Yang amat signifikan adalah bukannya kunjungan atau kesempatan mampir di tepian Danau Baikal yang bagaikan laut itu sendiri, melainkan makna perjalanan yang panjang itu sendiri. Dalam kaitannya dengan wilayah tempat pementasan drama berupa peristiwa-peristiwa bersejarah yang kental muatan sosio-politiko-budayanya. Seperti yang terutama sekali berkaitan dengan hasil karya para penulis Rusia seperti Tolstoi, Dostoievski, Gogol, Chekhov, Maiakovski, Gorki dan karya tulis Boris Pasternak "Dokter Jivago" dan yang paling menggemparkan hasil karya Alexandre Soljenitsyin "Archipel Goulag".
Memang sungguh benarlah betapa indah dan luasnya Danau Baikal itu. Airnya yang menggelombang kebiru-biruan bagaikan laut saja adanya. Pantai dan sekalian tetumbuhan seputarnya merupakan pemandangan alam yang mampu menggugah pengunjung biasa pun bisa mengundang inspirasi bagi penulis dan pelukis. Aku rasa mengenai makna dan bagaimana memaknainya tidak lah syak lagi, bahwa salah satu pertanda bukti impianku yang berubah kenyataan, kesaksianku tentulah ada hikmahnya.
Namun demikian, adalah makna lain dari pembuktian itu yang lebih jauh dan lebih mendalam menggugah-gugat perasaan dan pikiranku. Jelasnya, bahwa perjalanan membelah benua dengan keretapi "Trans Siberia" itu, maka aku pun menjadi saksimata akan luas maha luasnya wilayah Uni Soviet -- malah hanya wilayah Rusia sajapun sudah sedemikian menakjubkan. Menakjubkan tentang keadaannya dari musim ke musim dan dari zaman ke zaman -- mulai dari zaman kekuasaan nyaris absolut dari Tsar maupun yang kekuasaan selanjutnya yang tak kurang pula "mengabsolutkan" makna kekuasaan politik dengan memonopolinya. Maka dari itu di sepanjang laju perjalanan dengan "Trans Siberia", selagi memperhatikan luasnya pemandangan alam raya Rusia -- tanah datarannya berupa perladangan maupun perhutanannya, jalur jelujur jalan-jalan-nya, kerap kali hadir rangkaian gambaran di pelupuk mata yang mengerikan sekaligus mendebarkan dada. Bayangan suka dan duka silih berganti, dengan yang kebanyakan bayangan tragedi manusia yang terjadi ulang. Tragedi perbenturan antara peradaban dan kebiadaban -- dengan korban manusianya yang luar biasa dari zaman ke zaman. Seperti halnya bayangan-bayangan kisah dramatika disekitar-panjang sepanjangnya Tembok Besar Tiongkok. Yang essensinya, dalam periode-peropde tertentu sepanjang hidup kehidupan manusia, di bawah kekuasaan tiranika, hak-hak azasi manusia bukannya dijaga dan dihormati melainkan sebaliknya. Maka dari itu pula, di sepanjang panjangnya jelujur jalur keretapi sepertinya situasi suka-ria jauh dikebawahkan oleh duka-nestapa yang terjadi dalam rangkai tragedi baik di zaman Tsar maupun di zaman kontemporer Rusia -- seperti yang dilukis-gambar-kan oleh Sojenitsyin dengan "Archipel Goulag"nya. Beratus-ratus ribu bahkan berjuta-juta manusia jadi kaum buangan, mengalami derita-sengsara dalam kamp-kamp konsentrasi kerja-paksa. Sekian banyak korban manusia korban penindasan manusia atas-nama kekuasaan negara yang mengibarkan panji-panji yang dipersuci-murni-kan dalam doa dalam dakwah atau pedato-pedato messiah tentang janji-janji muluk-tinggi swargawi di akhirat maupun di atas bumi ini. Akan tetapi janji adalah janji yang hanya bisa teruji oleh tindakan atau fakta nyata perbuatan. Dan ketika janji hanayalah janji belaka, sekalipun direkayasa dengan bungkusan bagus propaganda dusta dan kemunafikan, maka cepat ataukah lambat terjadilah malapetaka sebagai akibat yang dahsyat. La Verita Pravda Dusta pun tak terelakkan tertelanjangi dengan sendirinya di hadapan Kebenaran Fakta Yang Benar. Maka yang disebut-sebut sebagai sang penguasa Adikuasa pun berubah Adilemah tak berdaya -- bahkan tak mampu membendung kelengser-longsorannya sendiri. Sebuah imperium modernpun seperti imperium-imperium zaman dahulu tak ayal jadi buyar ambyar dalam tempo relatip sebentar.
Pertanda sebagai bukti terkuat hal itu sudah kian aku nampak-rasa-rasa ketika seketika meninggalkan kawasan "sosialisme tangsi" dan lebih-lebih lagi selama dalam perjalanan dengan Trans Siberia itu. Ketika aku -- oh, dampak lanjut impian melihat Danau Baikal berubah kenyataan -- menjadi penghuni salah sebuah gerbong dari sekian gerbong keretapi ekstra tersebut. Sebagai kesan dari observasi dan kerap kali konversasi dengan para penumpang sejak awal-tolaknya dari Beijing, maupun dengan para penumpang Rusia sendiri mulai dari stasiun pertama luar perbatasan Tiongkok-Rusia. Suatu fenomena yang semula menimbulkan keherananku, tapi kemudian sirna. Hanya untuk dijadikan bahan untuk dipahami. Memang dari percakapan ngalor-ngidul dengan sejumlah penumpang keretapi Trans Siberia itu, aku bisa memperoleh informasi sekaligus konfirmasi yang nampaknya remeh-temeh namun cukup signifikan. Bahwasanya orang-orang Rusia itu nampaknya saja gemar borong memborong barang-barang, tetapi sebenarnya mereka bukannya penggemar melainkan lantaran dahaga semata. Karena sekalipun mereka punya uang tapi di negerinya sendiri tak bisa memiliki barang-barang yang dibutuh-inginkan. Bukannya lantaran harganya mahal melainkan lantaran yang mau dibeli tidak atau jarang ada.
Ketika sekali waktu di waktu makan siang di gerbong-restoran kami -- aku, bung Wiharnadi dan Aboebakar -- duduk semeja bersama dan ngobrol ngalor-ngidul, ternyata masing-masing pun memperoleh kesan keanehan yang serupa. Yaitu, ada upaya-upaya dari para penumpang maupun para pekerja keretapi itu untuk memanfaatkan keadaan dengan melakukan semacam mini bisnis informal.
"Anehnya, ada lebih dari seorang menawarkan tukar-menukar mata-uang mereka, Rubel, dengan Dollar," ujar Bung Wiharnadi, sang mantan aktivis sekaligus anggota pimpinan pusat serikat buruh.
"Dengan saya, ada ibu-ibu yang naksir sweater woll yang saya pakai dan mau membayarnya, tapi hanya dengan Rubel," kata si Bakar, yang nyaris sebaya denganku. Seraya menaikkan alis dan menunjuk dengan ujung hidung-nya ke arah meja dimana duduk seorang perempuan Rusia dengan dua bocah remaja -- putera-puterinya.
"Oh, si Ibu Ludmila itu!" ujarku setengah berbisik. "Saya sudah sempat beberapa kali ngobrol dengan sang Ibu dengan anak perempuannya bernama Ludmila. Beberapa makanan dalam kaleng, termasuk Liche, sudah pindah ke dalam koper si Ibu."
"Sudah secepat itu?" ujar bung Win dengan nada penasaran teriring senyum sarat sangkaannya.
Senada juga dengan celetukan si Bakar yang terasa ada tambahan kecemburuannya. Mau konfirmasi: "Makanan kalengan itu masuk koper sang Ibu atau sang dara Ludmila?"
"Napa rupanya?" tanyaku belagak pikun. "Pan sama saja. Lagi pula mereka cuma membawa sebuah kopor besar.
"Oh..." dengus si Bakar.
"Lagi pula sang gadis itu baru umur limabelas..." jelasku menambah-nambah informasi, nyaris bersifat privasi pribadi.
"Oh..." ulang dengus si Bakar. "Sudah sejauh itu, hehehe...."
Menyaksi-dengar-kan dialog kami, dua pemuda nyaris sebaya, Bung Wiharnadi hanya mesem-mesem tapi diam bungkam saja. Dan si Bakar malah cengis-ceringisan, sepertinya diapun sudah melirik dilirik si dara Ludmila ataukah mungkin juga Bunda-nya? Ah, macam-macam saja pikiran ini. Mungkin sekali aku keliru. Jika mendengar kesan penjelasan dari Bung Wiharnadi, bahwa dari percakapannya sekali dengan sang Ibu itu, dia tahu bahwa perempuan itu seorang janda sejak lima tahun. Suaminya kader militer tewas dalam Perang Vietnam di sisi pasukan Tentara Pembebasan melawan pasukan agresor Amerika.
"Saya kira Bundanya Ludmila pun bukan orang awam," tambahku menjelaskan, "nampaknya malah berpendidikan tinggi. Pengetahuannya cukup luas dan basa Inggrisnya lancar banget."
"Mereka mau menjalani masa pakansi ke Sotchi, kan?" ujar si Bakar dengan nada bangga, sampai tahu mau berangkat ke mana mereka itu.
"Dan Sotchi adalah tempat peristirahatan para kader yang kesohor," tambah Bung Wiharnadi. Kesannya itu begitu cepat mungkin sekali tepat karena diapun salah seorang kader. Kader pusat pula! Seraya menambahkan, yang membikin jantunghatiku rada keras berdegup-debar. Bahwasanya keluarga Ludmila itu kemungkinan sekali memang kader. Betapa tidak. Mereka penduduk kota Vladiwostok, mana mungkin punya syarat-syarat untuk menghabisi masa pakansi di Sotchi. Jarak antara kedua kota itu cukup jauh.
"Abisnya mau pakansi ke luar negeri, Eropa atau Amerika mereka nggak bisa. Mending menghabisi uang di taman raya pakansi kaum aparacik seperti di Sotchi sana," ujar tambah si Bakar pula, sarat nada kebanggaan bisa mengorek-ungkapkan info lagi.
"Ada lagi kesan saya yang lebih penting," aku menandinginya.
"Apaan tuh?" tanya Bung Wiharnadi penasaran sekali.
"Sang Ibu itu," jelasku, "bilang, bahwa di stasiun Moskow kedatangan kita sudah ditunggu-tunggu...."
"Wah!" ujar si Bakar dengan nada nyaris seperti orang linglung yang barusan sadar. "Kok? Dari mana dia tahu?"
Aku diam, sebentar membungkam. Bung Wiharnadi juga. Meski seketika kemudian mengutarakan analisanya: "Perempuan itu isteri seorang kader, yang kemungkinan sekali kader pula, meski di lain bidang. Sebagai guru sekolah. Bukan pula tak mungkin, dia pun punya kontak resmi dengan penanggungjawab keamanan Trans Siberia. Atau siapa tahu, juga bagian dari komite internalnya. Ada tandanya, bahwa, katanya tiket yang mereka gunakan untuk perjalanan pulang-pergi adalah tiket gratis."
"Jangan-jangan dia anggota dari bagian dinas rahasia...." kataku, tapi cuma di dalam hati.
Akibat setelah obrolan saling mengutarakan kesan-kesan selagi berada di gerbong-restoran itu iyalah aku jadi segan untuk mengambil kesempatan bercakap-cakap dengan keluarga Ludmila. Sampai kami turun dari gerbong Trans Siberia di Stasiun Moskow. Dan memang benar saja apa adanya para penyambut kami yang diinfokan sang Ibu Ludmila itu. Lima orang Indonesia, seorang diantaranya dikenal sebagai Ali Manan, memposisikan diri sebagai orang pertama dari delegasi "5 Serangkai" itu. Mereka menampakkan diri begitu antusias dan keramah-tamahannya terkesan berlebihan -- lebih cenderung kandungan bujukan. Dan memang ternyata begitu: selama masa transit sehari semalam kami ditemani terus-menerus, dari mulai di Stasiun Moskow sampai pada beberapa tempat peninjauan singkat. Seperti melihat-lihat Moskow by night, ke Toko Negara Serba Ada yang hanya sebutannya saja ada tapi isinya serba langka. Mengunjungi sekalian menikmati Metro Moskow yang menakjubkan, sampai kunjungan silaturahmi pada sementara orang Indonesia yang jadi mahasiswa Universitas Persahabatan Patrice Lumumba. Bujukan itu, ringkas kata, supaya kami membatalkan diri menuju Berlin Barat untuk ke Eropa Barat. Karena dari atasan mereka, untuk kami sudah disiapkan tempat dan segalanya untuk bermukim di Uni Soviet. Yang muda-muda macam aku dan si Bakar sudah disepakati untuk bisa meneruskan studi di perguruan tinggi. Sedangkan untuk seorang kader macam Bung Wiharnadi akan mendapatkan posisi di suatu organisasi internasional yang berkaitan dengan gerakan perburuhan dunia. Kesemuanya kami tolak dari detik pertama pertemuan sampai detik akhir melanjutkan perjalanan ke ujung Barat Eropa. Penolakan seperti yang pernah terbetikkan dalam salah sebuah kreasi tulisanku berjudul "Transit":
bagiku transit pertama kali di bulan september'65: pnompenh kamboja menuju kanton china. transit kedua bulan juni '72: moskow uni soviet menuju ujung eropa.
di kamboja kami tak disambut keturunan pangeran di moskow nomenklatura datang dengan rayuan.
ah, tidak, ah, ogah... kalau cuma untuk menyanyikan lagu itu-itu juga hakekatnya 'kan sama saja.
kami tak sudi lagi jadi pelopor dalam lingkaran setan dididik jadi aparacik pemuja kekuasaan. kami mau meneruskan perjalanan sekali pun berlika-liku namun wajar dalam kehidupan.
Stasiun KA - Metro Loskow, 1972.
Demikianlah dari Moskow kami meneruskan perjalanan dengan keretapi menuju kota tenar yang terbelah dua: Berlin. Berlin Timur sebagai ibukota Republik Demokratis Jerman Timur. Lantas setelah sehari semalam di bagian timur, kami melintasi perbatasan untuk memasuki bagian barat: Berlin Barat yang merupakan kota bagian Jerman Barat. Perbatasan yang aku maksudkan itu tak lain tak bukan kecuali sebuah tembok yang tak kurang masyhurnya di dunia ini. Yakni Tembok Berlin. Tembok simbol Perang Dingin. Perang atau kongkritnya peperangan disebeut dingin tapi sebenarnya perang yang panas mengganas. Perang peperangan selaras logika kelanjutan politik imperialis. Terutama sekali yang kelangsungannya di bagian-bagian lain bumi ini. Dengan titik terpanas-ganasnya di Asia Tenggara. Kongkretnya berupa Perang Vietnam. Dan juga di Indonesia -- yang disebut oleh Noam Chomsky sebagai Archipel Bloodbath dan perang di Timor Timur. Serta di bagian-bagian lainnya di Bola Bumi kita ini.
Baik Moskow maupun Berlin tersebutkan itu tentu saja bukan merupakan tempat-tempat yang pernah jadi impian atau yang pernah termimpikan untuk aku kunjungi, melainkan tak terelakkan dan merupakan pelengkap saja. Melengkapi perjalanan panjang lebih dari sepekan dari Beijing menuju ujung Eropa Barat.
"Oke, oke," kata sang Ingatan seraya tak luput mengingatkan: "Cemana mengenai adanya impian berubah kenyataan dalam kaitan yang bersifat kehidupan pribadi atau malah sarat akan ke-privasi-an itu?"
Diam. Senyum tersipu-sipu. Menggumam: "Hmmm... Ah, ah... Soal itu nanti saja aku perjelaskan, pada saatnya yang paling cocok," kata hatiku. "Yang pasti, ada kaitannya yang sangat erat bahkan mendasar dengan awal mula aktivitas-kreativitas tulis-menulisku.
"Oh...!"
"Oh, iya. Memang iya. Sebenarnyalah begitu."
Senyum lagi. Menambahkan: Perempuan itu, barusan aku dengar suaranya yang sarat akan kekangenan teriring keprihatinan luar biasa seraya bertanya mengajukan pertanyaan bagaimana keadaan kesehatanku yang sesungguhnya kini. Begitu aku mulai menjalani hari sebagai sitoyen St.Jean. Dia ingin keterjelasan yang sejelas-jelasnya kenapa hanya setelah mencapai titik gawat keadaan kesehatanku itu baru dirasa dan dikonstatasi? Dan aku ngaku, bahwa itu lantaran kebadunganku yang salah kaprah -- merasa, ah, meski badan sudah merasa amat lemah teriring pertanda lainnya berupa pernafasan mudah terengah-engah, aku lamban untuk pergi konsultasi kepada Dokter Delille. Seorang dokter traitant yang sudah sekian lama berurusan dengan persoalan kesehatanku. Ringkas kata, aku ngaku bahwa sebab musababnya sampai begitu-begini seperti ini, lantaran keteledoranku sendiri. Meski belum terlalu terlambat hingga menjadi amat gawat yang tidak ketulungan. Dan tak usah terlampau dikuatirkan amat.
"Di sini penguasanya menjalani sistim demokrasi, bukan arogansi aristokrasi, tidak pula macam sistim ala Suhartokrasi atau yang semacamnya lagi," jelasku dalam upaya menghapus ke-was-was-annya. « Di sini, sebagai sitoyen, aku merasa benar-benar mendapat perlakuan yang wajar – selaku manusia selayaknya manusia dengan hak-hak azasinya. »
 Posted by Ibrahim on Sep 3, '08 5:27 AM for everyone  Sitoyen Saint-Jean : Antara Hidup Dan Mati I Sitoyen
5 Apa Lagi
APA lagi? Ada lagi pertanda bukti impian berubah kenyataan? Seketika Sang Ingatan mengajukan pertanyaan bak satu dari matarantai ujian.
"Iya. Tentu saja itu..." ujar kata hatiku.
"Apa itu?" desak Sang Ingatan seraya membangkitkan kesegaran.
"Bermula lantaran aku suka lenong dan cokek serta tarian barongsai; selain suka bakso dan kue cina yang kelegitannya, juga kegurih-manis-annya begitu nikmat...."
"Tapi kau tak pernah jadi penari barongsai pun pedagang kue..." sela Sang Ingatan.
"Tunggu dulu, dong," tukasku membalas sembari memeras sang Ingatan pula. Kan aku bilang bermula dari semua itu... Aku jadi tambah tertarik pada Tiongkok, terutama justeru pada keadaan alam buminya dan keluasannya yang kayak benua saja. Benua dimana berdiri-rentang panjang bangunan raksasa sepanjang belasan ribu kilometer, terkenal dengan sebutan bersahaja saja: Tembok Besar Tiongkok. Apalagi, selagi sebagai jurnalis-penulis aku suka membaca sejumlah karya penulis Tiongkok baik yang zaman dulu maupun yang modern seperti Lu Sin; selain menulis resensi pertunjukan kesenian yang disajikan rombongan seniman-seniwati RRT pada waktu terjadi Pesta Politiko-Budaya Konferensi Bandung dan sesudah itu. Seperti dalam menyambut-rayakan Festival Film Afrika-Asia dan sebagainya lagi.
Maka pada bulan Oktober tahun 1965, dalam rangka serangkaian acara peninjauan Negeri Kerajaan Tengah atau Zong Guo alias Tiongkok itu, kami -- Kusni, Sukaris, Afif dan Aziz serta aku sendiri -- berkesempatan menaik-nunggangi naga maha giga: "Tembok Besar". Dengan begitu, salah sebuah impian berubah kenyataan dalam perjalanan hidup kehidupanku. Dalam mana, aku pernah menulis baris-baris kata demi mengabadikannya dalam Catatan Perjalananku: Antara lain "Peninjauan": tiap kali acara peninjauan / tiap kali kurekam irama serupa / keterbelakangan dan kemajuan / sebelum dan sesudah pembebasan. / menyaksikan sendiri kenyataan jauh lebih berkesan / dari rekaman lagu-lagu bernada membosankan / ketika tembok besar berada di bawah telapak kaki / kesedaran semakin menjadi: betapa besarnya negeri ini." Selanjutnya, adalah baris-baris kata yang aku tulis pula dalam "Tembok dan Tembok":... 1965: musim rontok di tiongkok / hati berdebar selagi berpijak di atas tembok besar."
Pasalnya? Selagi tegak berdiri tercengkam-kagum pada bangunan maha giga bikinan manusia yang merupakan monumen raksasa dari tegak-runtuhnya peradaban-kebiadaban, ada ketikanya tubuhku gemetar begitu melempar pandang ke seputar. Betapa tidak? Jika dicoba ingat berapa banyaknya kaum pekerja yang dipekerjakan sebagai budak untuk membina Sang Tembok yang membelah sekaligus memagari negeri-negara raksasa itu? Tak kurang dari beratus-ratus ribu sampai berjuta-juta jiwa manusia! Juga, bayangkan saja, betapa banyak jumlah peperangan di sepanjang dan di sekitar Tembok Besar itu. Berapa banyak pula jumlah tubuh jatuh bergelimpangan, yang terluka dan yang tewas? Baik ketika dalam pertempuran melawan para agresor barbar dari luar negeri maupun dalam negeri -- antara pasukan-pasukan kerajaan atau raja-raja perang yang saling baku-hantam berebutan kekuasaan? Begitu di zaman kuna yang feodalis, cemana pula di zaman modern? Dalam zamannya pepeperangan kolonialis dan imperialis serta sosio-imperialis? Betapa di kedalaman dadaku jantung tidak kan berdebar selagi kedua belah tapak kaki memijak Tembok Besar itu. Jika diingat, selain keunggulan bangunan itu sendiri juga keunggulan yang pasti banyaknya manusia yang menderita sakit, terluka atau bahkan mati. Jika di zaman dulu peperangan dilangsungkan dalam waktu panjang terutama dengan ragam macam senjata tajam -- mulai dari anak-panah, pisau, golok, tombak atau pedang. Tapi kemudian di zaman modern dengan ragam macam senjata api -- dari pistol dan senapan sampai pada meriam dan bom bahkan nyaris digunakannya senjata termo-nuklir! Seperti dalam krisis Perang Perbatasan Tiongkok-Uni Soviet -- sebagai kelanjutan sekaligus variasi gagalnya peperangan politiko-ideologi yang dibawakan oleh pihak masing-masing.
 Posted by Ibrahim on Sep 3, '08 5:24 AM for everyone  Sitoyen Saint-Jean : Antara Hidup Dan Mati I Sitoyen
4 Hidup
HIDUP itu mimpi, kata penyair HR Bandaharo yang juga sebagai guru, pemimpin sekaligus kolegaku di keredaksian ruang kebudayaan HR Minggu. Baik semasih berdinas di Jalan Pintu Besar Utara Jakarta Kota maupun di Jalan Pintu Air Dua. Ketika kenangan timbul-sambung kepada sang penyair 5 zaman itu, seketika ujung hidungku kembang-kempis. Lantaran sepertinya bau timah zetter dan letter handset ruang redaksi dan percetakan PT Rakyat sedang kembali mengisi kedua lubang hidungku. "Akan tetapi, Pak Banda, benarkah hidup itu hanya impian?" rasa kangen menimbulkan keinginan untuk dialog dengannya. Suatu ke-kangen-inginan yang muskil, lantaran sang penyair sudah menyusul Arthur Rimbaud dan Chairil Anwar.
Tetapi, kata hatiku, bukankah pernyataan Bandaharo itu pun pernah dinyatakan oleh pendahulunya? Seperti penyair Tiongkok zaman dahulu kala: Li Tai Po? Pun orang Rusia macam Vladimir Ilyitch malah menjelas-tambah bagaimana makna memaknai mimpi itu. Bahwasanya mimpi, memiliki impian itu diperlukan dalam mengayomi hidup kehidupan, asal saja kedua belah tapak kaki kita memijak tanah senantiasa. Artinya bukan mimpi sekedar mimpi belaka, melainkan selayaknya diiringi dengan daya upaya bagi perwujudannya.
"Sesungguhnyalah begitu," bisik hatiku, mempertebal keyakinan. Yakin keyakinan yang telah tumbuh dan aku pupuk-jaga sepanjang hidupku. "Tanpa mimpi, tanpa impian, idaman atau cita-cita yang layak digapai dengan kiprah, ah, hidup ini akan bagaimanalah jadinya."
"Ternyata, selagi masih muda pun ada impian masa bocah yang terwujudkan sudah, kan?"
"Iya. Ternyata ada yang sudah terwujudkan. Salah satunya, di awal tahun 1964. Begitulah benar kebenarannya, tentang impian dan hasrat keinginanku untuk diterima di Istana Negara dan bertemu dengan Bung Karno itu!" kata hatiku melonjak-lonjak girang teriring ingatan yang segar kian menyegar. Betapa gembiranya aku menjadi salah seorang dari rombongan seratusan seniman dan seniwati serta cendekiawan yang datang diundang ke Istana Negara untuk bertemu dengan Bung Karno. Pertemuan bersejarah itu adalah dalam rangka untuk lebih mendorong maju membina kebudayaan nasional. Malam temu budaya antara kaum seniman rakyat dengan Presiden Sukarno yang juga selain intelektual pun pengarang yang gemar senirupa, tari dan nyanyi itu dimeriah-gairah-kan dengan sajian acara kesenian, termasuk menyanyi dan menari bersama. Malam itu, Bung Karno memperagakan kelebihannya dalam gerak tari dan nyanian teriring irama kalipso-lenso dan cha-cha-cha. Tari dan musikalia riang gembira Latino-Amerika yang juga digemari salah seorang puterinya: Megawati.
Bayangkan saja! Bagaimana aku bisa melupakan peristiwa malam budaya seperti itu. Sungguh! Itulah pertanda bukti impian yang berubah kenyataan. Impian masa bocahku selaku pengagum para pejuang kemerdekaan yang berhasil mendirikan negara Republik Indonesia itu menjadi kenyataan pada usia duapuluh dua tahun! Tetapi, memang dalam usia semuda itu -- sejak muda remaja -- selain sebagai pengagum juga telah bergiat di alam ragam perjuangan rakyat Indonesia. Gerak kiprah perjuangan untuk turut merampungkan Revolusi Agustus sekalian upaya perealisasian aspiranya yang mulia. Gerak kiprah ragam macam manifestasi aksi dan kreasi sosio-politiko-ekonomi-budaya. Terutama sekali selaku jurnalis-penulis. Kongkritnya, selain turba atau turun ke bawah demi lebih mengenal dan lebih mendorong maju perjuangan yang selaras dengan garis Bung Karno, juga menyusun ragam macam tulisan berupa reportase, esai budaya, juga kreasi prosa dan puisi. Yang, jika tidak dimusnahkan rezim militer fasis Orde Baru, tentu bukti-buktinya bisa dilacak di berbagai suratkabar dan majalah zaman itu yang tersimpan di Perpustakaan Nasional. Terutama sekali tulisan-tulisan yang berkenaan dengan perjuangan kaum buruh dan tani serta nelayan serta prajurit yang melakukan pembebasan Irian Barat. Seperti antara lain contohnya sebuah novellete berjudul "Pembebasan" yang disiar sebagai cerita bersambung atau cerber Harian Bintang Timur dalam tahun 60-an. Seperti juga tentang gerakan kaum buruh perkebunan, kaum tani dan nelayan Indramayu dan gerakan kebangkitan kaum tani di Jawa Tengah. Yang salah sebuah judulnya "Bangkit Berlawan". Berupa kumpulan cerpen yang sudah diedit dan dikoreksi siap cetak namun keburu musnah dimusnahkan kaum serdadu penyerbu PT Percetakan Rakyat, di Jalan Pintu Besar Utara dan Jalan Pintu Air Dua, Jakarta. Seperti ragam reportase dan resensi mengenai manifestasi aksi demonstrasi mendukung BK mengutuk rentetan aksi kaum kontra-revolusi yang melakukan aksi teror dalam Peristiwa Cikini Raya, percobaan kudeta militer pimpinan AH Nasution dan kaum 17 Oktobris lainnya; aksi-aksi kaum pemberontakan bersenjata DI/TII, PRRI/PERMESTA dan RMS serta aksi-aksi dalam rangka perjuangan pengganyangan proyek nekolim Malaysia dan perjuangan Pembebasan Irian Barat. Manifestasi dan aksi-aksi mendukung perjuangan pembebasan rakyat Asia-Afrika dari rantai belenggu kaum nekolim. Tambahan pula perhatian atas kehidupan rakyat pekerja kota di Ibukota -- dari kaum proletariat sampai kaum lumpen-proletariatnya, seperti tukang becak dan kaum miskin-papa lainnya.
 Posted by Ibrahim on Sep 2, '08 3:51 PM for everyone  Sitoyen Saint-Jean : Antara Hidup Dan Mati I Sitoyen
3 Se Juni
SEKETIKA aku kangen pada BK. Sang Presiden Republik Indonesia, pembina bangsa dan pemimpin perjuangan kemerdekaan melepas belenggu feodalisme, kolonialisme dan neo-kolonialisme serta imperialisme. Presiden yang aku hormat-hargai dan dicintai oleh rakyat Indonesia. Juga dihormat-hargai oleh para pejuang kemerdekaan dan rakyat Asia-Afrika. Pun, Presiden yang ahli pedato, penulis dan pencinta seni yang berjiwa besar.
"Lantaran juga sesama kaum Juni-an, yah?" suara hatiku tergelitik, sedangkan di relung telinga terngiang-ngiang suara seorang perempuan, kekasihku, yang memang lahiran bulan Juni. Jika BK 6 Juni, kekasihku 25 Juni dan aku sendiri 16 Juni.
"Iya. Memang iya begitu," jelas kata pikiranku. Lebih jauh lagi, menekankan: BK itu sosok tokoh negarawan kaliber internasional. Dengan pertanda tonggaknya keberhasilan sebagai organisator sekaligus tuan rumah Konferensi Bandung. Salah seorang pemrakarsa garis politik gerakan internasional: Non-Blok dan garis berporoskan Jakarta-Peking-Pyongyang. Tambahan lagi, dalam tahun yang sama diselenggarakannya Konferensi Asia-Afrika atau Konferensi Bandung 1955, di bawah kepresidenan BK dilangsungkan Pemilu yang merupakan manifestasi aksi demokratis yang berhasil.
Iya. Ngaku saja terus secara blak-blakan, bahwa penghormat-hargaanku serta kekagumanku memang semata-mata lantaran sikap-pendirian dan perjuangan nyata seperti tersebutkan itu. Gambaran hidupnya sebagai Orang Besar itulah yang menjadi tambahan penting bagi pemupukan kebanggaan dan kecintaanku pada tanah tumpah darahku; pada Ibu Pertiwiku Indonesia; pada peristiwa bersejarah Revolusi Agustus sekalian aspirasinya; pada ke-sitoyen-an Republik Indonesia. Pada semua yang sama-sama berjuang untuk mewujudkan aspirasi kebebas-merdekaan mencapai kehidupan tiap sitoyen yang manusiawi dan beradab.
Sedemikian rupa kegandrunganku pada sosok tokoh BK dan garis politik yang dibawakannya, maka keinginan berjumpa langsung pun berkembang menjadi salah sebuah impian. Impian semasih masa anak baru gede. Pemuda remaja. Mimpiku itu adalah mimpia bisa mengunjungi Istana Negara dan menatapnya seraya berkata: "Paduka Presiden Yang Mulia, saya seorang putera Indonesia adalah pengikut jejak langkah perjuangan Paduka..."
Di kedua belah pelupuk mataku, lukisan kenyataan dan impian beruntun silih bergantian, kadang menggugah rasa senang kadang pula rasa gundah-resah datang begitu mencengkam, malah merejam. Betapakah tidak ? Jika diingat masa perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan yang salah seorang pembina sekaligus pemimpinnya adalah Bung Karno. Yang salah seorang proklamator kemerdekaan adalah Bung Karno. Yang menjadi Presiden Republik Indonesia adalah Bung Karno. Yang menggelorakan perjuangan pembebasan rakyat dari belenggu kolonialis dan neo-kolonialis serta imperialis di kolong langit ini adalah juga Bung Karno.
Namun, betapa besar problimatika yang harus ditanggulangi sekalian ancaman yang teramat besar dan gawat terhadap kepemimpinan bahkan atas diri pribadinya sendiri. Lawan-lawan politiknya berhasil menggagalkan dambaannya untuk mewujudkan hidup kehidupan masyarakat manusia Indonesia yang manusiawi.
 Posted by Ibrahim on Sep 2, '08 3:47 PM for everyone  Sitoyen Saint-Jean : Antara Hidup Dan Mati I Sitoyen
2 Pasalnya PASALNYA? Oh, tentu saja, sejak semula aku sadar, bahwasanya diriku pertama-tama sebagai sitoyen atau penduduk negeri bernegara Republik Indonesia. R.I. di bawah penguasa atau pemerintahan Bung Karno. Sampai usia 23 tahun, aku lahir, dibesarkan, terdidik, tertempa di kancah perjuangan hidup kehidupan tanah tumpah darahku tercinta itu. Terdidik memperoleh pendidikan, pelajaran, bukan hanya di bangku sekolah. Melainkan juga, dan yang sungguh berharga, dalam kiprah melakukan aktivitas-kreativitas. Sebagai penulis dan jurnalis muda hingga usia dewasa memperoleh kedudukan sebagai redaktur.
Akan tetapi kemudian terjadi perubahan situasi yang drastis-dramatis hingga terpaksa menejadi perantau berkepanjangan. Jelasnya, setelah terkatung-katung menunggu terjadinya perubahan situasi kembali yang menguntungkan, selama tujuh tahun lamanya bermukim di Tiongkok, lantas hijrah dan menjadi penduduk Kerajaan Belgia. Be dari Trio pelopor terbentuknya Uni Eropa: Be-Ne-Lux. Belgia Nederland Luxembourg. Lebih jelasnya, sejak 1972 aku adalah salah seorang sitoyen Belgia. Negeri-negara dengan ibukotanya: Brussel, kota berusia lebih dari seribu tahun berpenduduk sejuta jiwa. Kota yang terdiri dari 19 Komune atau penguasa lokal yang langsung mengatur-urus penduduk setempat. Belgia yang merupakan Monarki Konstitusional alias memberlakukan sistim demokrasi parlementer. Dengan Raja sebagai Kepala Negara, namun lebih cenderung berfungsi sebagai pemimpin simbolistis. Sedangkan Penguasa yang praktis adalah Pemerintah dengan Perdana Menteri sekalian seperangkat Menteri-Menteri-nya hasil Pemilu yang demokratis. Dengan kata lain, Kerajaan Belgia memang ter-sebut-kan sebagai suatu negeri-negara monarkis, namun sistim yang diberlakukan bukannya sistim feodalis atau aristokrasi. Melainkan sistim demokrasi parlementer yang selain sebagai negara hukum yang demokratis juga menghormati hak-hak azasi manusia. Suatu Kerajaan dalam sebutan namun sebagai Republik dalam kenyataan. Suatu kenyataan yang logis lantaran negeri-negara ini dilahirkan oleh suatu revolusi -- Revolusi Juli 1830 -- dalam mana pasukan-pasukan sitoyen pejuang kebebas-merdekaan berhasil mengusir Penguasa Belanda. Suatu pertanda bukti manifestasi aksi yang tak lepas dari inspirasi-aspirasi Revolusi Perancis dengan Hak-Hak Azasi Manusia-nya yang kenamaan. Revolusi Besar Eropa yang mampu mengubah wajah Dunia. Revolusi yang menumbangkan sistim Monarko-aristokrasi seraya menegakkan Demokrasi.
"Sistim pemerintahan yang beda sekali dengan Suhartokrasi alias Orde Baru, yah?" suara kata pikiranku mengusik. "HMS Presiden Republik hanya namanya saja, sebenarnya Presiden Dewek serta klik atau kaum kroni-nya belaka."
"Kerna Presiden Republik Indonesia yang benar sebenar-benarnya adalah republiken Bung Karno, pembina bangsa, pejuang dan proklamator kemerdekaan yang anti-kolonialis dan neo-kolonialis serta imperialis. Sedangkan HMS adalah pengkhianat atasnya," kata hatiku. « Pengkhianatan yang mendatangkan bencana tragedi sampai pada menyengsarakan sebagian besar rakyat Indonesia. Salah seorangnya adalah diriku sendiri. Yang senantiasa mendambakan kemerdekan bangsa Indonesia yang penuh, dengan terwujudnya aspirasi Revolusi Agustus’45. Tercapainya kehidupan masyarakat yang bebas merdeka, aman tenteram dan subur makmur.»
 Posted by Ibrahim on Aug 26, '08 12:19 PM for everyone  SITOYEN SAINT-JEAN
Antara Hidup Dan Mati
Novel
A.Kohar Ibrahim
* I Sitoyen sabtu 29 maret pasalnya se juni hidup apa lagi selain itu
II Servis Urgen rabu sore darah malam panjang servis urgen
III Bidadara Bidadari makan sakit obat pengobat
IV Terowongan Maut : Kemenangan Hidup harapan terowongan maut keharmonisan
*
I Sitoyen
1 Sabtu 29 Maret
ARSITEK pinter! Bisikku begitu melewati kamar-kamar yang kadang mengeluarkan suara orang mendengkur atau meradang atau percakapan yang menyenangkan atau menggelisahkan. Kegelisahan tercerminkan dalam laga lagu para pasien yang ragam macam, baik asal muasal maupun penyakit yang di deritanya.
Tapi kali ini, jejak langkahku terasa lebih ringan lantaran hatiku girang seketika menampak dan langsung memasuki ruang beranda berbentuk separuh lingkaran kurang lebih seluas 15 meter persegi. Ruang yang mungil, berdinding jendela kaca bersih layaknya tembus pandang jelas-jemelas suasana seputar di luar. Pemandangan sepanjang panjangnya Boulevard Botanique berhiaskan taman selang-seling gedung-gedung pencakar langit. Meski menggelitik, tapi untuk seketika mataku lebih tertuju pada meja kecil, mencari posisi dan terduduk di salah sebuah dari 4 kursinya yang empuk. Sekejap keduabelah pelupuk mata terkatup, entah lantaran nikmat ataukah ngantuk. Meski menyadari kesadaranku senantiasa terjaga sewajar-wajarnya.
"Pilih! Hidup atau mati ! » Suara itu suara yang datang mengisi relung telinga. Suara bernada tidak seperti komandan pasukan perang, pun bukan seperti suara bandit yang bermakna kekuasaan sekaligus kekerasan dari manusia terhadap manusia. Tapi suara tanpa pamrih itu sesungguhnya datang dari dalam diriku sendiri.
"Aku mau hidup !" teriakku, tentu pada diriku sendiri pula. Pasalnya? Seperti kata orang Perancis: "La Vie est belle". Karena hidup itu indah. Anugerah indah yang terindah malah. Apa dan bagaimana pun juga. Meski aku juga memiliki keyakinan bahwa hidup itu perjuangan. Sekali pun perjuangan yang terjadi dan yang dimulai di dalam diri sendiri, selagi hidup di alam masyarakat manusia.
Maka aku sudah mengambil keputusan. Sudah beritikad bulat untuk melakukan yang bisa aku lakukan dan berani menerima segala konsekwensinya. Seperti dalam menghadapi tantang-ujian dewasa ini. Lebih-lebih setelah mengetahui segala ragam asa dari sanak keluarga. Terutama sekali isteriku tercinta. Kekasihku. Perempuan swargaku. Seorang perempuan yang mengucap doa setiap usai solat dan upaya penyampaian gema rohaniah pertanda kasih-sayang dan kerinduan yang teramat dalam. Semata-mata demi kembali pulihnya kesehatanku. Teriring pesan senantiasa.
"Berdoa dan kuatkan tekad, Kohar," pesan isteriku dengan nada berat sepertinya sulit mengalir dari tenggorokannya. "Kau pasti lulus ujian ini. Seperti yang sudah-sudah. Aku yakin itu."
Aku harus memasuki situasi yang amat gawat lagi amat menentukan karenanya amat mencengkam. Tubuhku akan mengalami pemeriksaan yang intensip dan pembedahan yang dimungkinkan. Dalam tercengkam situasi gawat antara hidup dan mati memang rasanya lebih terasa betapa perhatian sesama manusia, dari kalangan terdekat, terutama sekali tentu dari kalangan keluarga. Seperti dari isteriku itulah. Seperti juga Ibu mertuaku. Sekali pun jarak jauh, amat jauh -- lebih dari duapuluh ribu kilometer -- memisah raga, namun hati dan pikiran dekat terasa. Dan dalam keadaan terjebak antara hidup dan mati, seperti yang barusan aku alami, betapa pula makna nyata pertanda kaitannya dengan Sang Penguasa. Tegasnya Penguasa -- atau government atau gouvernement kata orang Eropa -- yang berkedudukan sebagai pengatur kehidupan masyarakat manusia. Penguasa, yang di sini disebut-maknai sebagai para penanggung-jawab untuk memberikan service atau layanan kepada citoyen atau penduduk. Layanan di berbagai bidang kehidupan penduduk agar menjalani hidup kehidupan yang baik dan lebih baik lagi selaku manusia. Kehidupan manusia yang aman tenteram sejahtera dan beradab. Dengan segala hak-haknya yang azasi: mulai dari masa kelahiran -- bahkan selagi dalam kandungan -- sampai pada saat kematian. Dalam mana, salah satunya adalah soal kesehatan tiap individu mendapat perhatian yang selayaknya.
"Tapi, kenapa aku perlu menegas-tandaskan hal-ihwal itu semuanya?" timbul pertanyaan dikau tentunya. Penasaran akan motivasiku.
 Posted by Ibrahim on Aug 13, '08 11:51 AM for everyone  Renungan Orang Rangkasbitung Rendra
Sekitar Aktivitas Kreativitas Tulis Menulis Di Luar Garis (24) Oleh : A.Kohar Ibrahim * Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, yang hadir di sini, setelah memahami sejarah, saya betul tidak lagi merasa sepi. Dan memang tidak relevant lagi bagi saya untuk merasa sia-sia atau tidak sia-sia, sebab jelaslah sudah kewajiban saya. Ialah : hadir dan mengalir. (Rendra) * Penjelasan Rendra BRUSSEL, 13 Agustus 2008. Dua karya puisi berupa sajak W.S. Rendra masing-masing berjudul « Demi Orang-orang Rangkasbitung » dan « Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung Di Rotterdam » itu merupakan karya sastra monumental dan bersejarah. Bersejarah bukan hanya lantaran mengungkap-angkat lagu manusia di zaman penjajahan, namun juga di zaman setelah 45 tahun diproklamirkannya Kemerdekaan Bangsa sekaligus didirikannya Negara Republik Indonesia. Nyala api juangnya yang dijaga seraya dikobarkannya senantiasa bermakna indah dari masa ke masa. Oleh karena itu, kiranya tidaklah sia-sia keturut-sertaan kami untuk menyiarkannya pada masa itu, pun dalam rangka penyegar-bugaran ingatan dewasa ini.
Kedua sajak yang dimuat Majalah Kreasi N° 7 (1991) itu disertai penjelasan Rendra, tertera pada halaman 28 sampai dengan 35. « Melalui sajak Demi Orang-orang Rangkasbitung, saya hanya ingin bertanya, apakah rakyat Indonesia sudah mendapat hak hukum. » Demikian Rendra memulai penjelasannya atas kreasi puisinya yang dilarang dibacakan di Taman Ismail Marzuki 8-9 Nopember 1990, yang disiarkan PELITA 11 Nopember 1990. Lanjutnya : Ini ‘kan pertanyaan wajar lho, tidak menyalahi hukum akal sehat juga tidak menyalahi undang-undang. Kalau rakyat tidak mempunyai hak hukum untuk menghadapi adipati-adipati yang baru, apa itu namanya bangsa merdeka. Negara Anda sudah merdeka, tapi apa bangsa Anda sudah merdeka ? Kalau bangsa Anda tidak punya hak hukum, apakah bisa disebut bangsa yang merdeka ?
Tokoh dalam puisi itu juga merasa sedih. Karena tidak hanya ada di Indonesia, di Belanda dan di mana mana pun ada ketidak-adilan. Namun pada akhirnya ia menyadari juga. Kalau memang ini masalah sejarah, bahwa sejarah itu selalu saja punya ketidakadilan. Tapi nyatanya sejarah selalu melahirkan orang semacam Multatuli. Jadi, persoalannya bukan masalah sia-sia, tetapi harus hadir dan mengalir.
Ya, penyair itu sebagian dari hati nurani penguasa juga. Karena penyair pada hakikatnya ya hati nurani dan kemanusiaan. Penyair itu bukan buku yang bisa dibakar atau dilarang, bukan juga benteng yang bisa dihancurleburkan. Ia adalah hati nurani yang tidak bisa disamaratakan dengan tanah. Ya, dikalahkan memang bisa, tapi tidak bisa disamaratakan dengan tanah. Begitu saja.
Jadi, sajak itu hanya keluh kesah biasa seperti seorang yang tidak tega melihat bantuan-bantuan asing kepada negara berkembang yang hanya menguntungkan negara maju saja. Atau tentang rakyat yang kehilangan tanahnya supaya orang kaya bisa main golf, atau menghasilkan bendungan untuk tenaga listrik bagi industri dengan modal asing. Dan para petani yang kehilangan tanah itu diberi ganti rugi yang yang nilai per meter perseginya sama dengan harga satu bungkus rokok bikinan Amerika. Itulah gambaran sajak Demi Orang-orang Rangkasbitung.
Lalu sajak yang kedua, judulnya Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung Di Roterdam. Ini kegelisahan anak muda, calon sarjana, calon intelektual yang pada suatu malam dihinggapi rasa trauma melihat kok dalam sejarah kemanusiaan ada biksu membakar diri memprotes perang, lalu ada kaisar-kaisar negara berkembang yang menindas hak azasi. Lalu, orang-orang kulit hitam yang diperlakukan tidak adil, hak hukumnya ditiadakan dan itu terjadi di tanah leluhurnya sendiri. Dan orang-orang kulit putih yang lain. Meskipun negaranya berprinsip demokrasi, nyatanya membantu Afrika Selatan. Anak muda itu juga berpikir tentang nuklir. Lantas jadi trauma. Lalu dia ditanya-tanya bapaknya : « Kapan kau menikah, kapan kau kasih aku cucu ? »
Terus dia menjawab, « Waduh. Masa aku harus melahirkan anak yang nanti mungkin akan menghadapi perang dunia III yang memakai kekuatan nuklir, setiap awan akan mengandung bahaya. Lalu anak saya bagaimana untuk menghadapi rontok rambut, kulit terbakar mengelupas. Kenapa saya harus punya anak ? »
Dia juga mengeluh rakyat Rangkasbitung ada yang meninggalkan desa menuju kota karena kehidupannya sudah tidak baik. Yang perempuan menjadi tukang pijit dan yang lelaki menjadi gelandangan yang nantinya diusir. Pemuda itu takut namun akhirnya menemukan keberanian juga. Dia menegur dirinya sendiri, kenapa menghiba. Hidup saja ! Tok…begitu. Lalu ia mengambil air wudlu. Pendeknya, ia akhirnya bisa mengatasi depresinya itu.
Jadi, saya kira, tidak ada hal yang melanggar hukum dan melanggar akal sehat. Tapi kedua sajak itu dilarang, meski izin pertunjukannya tidak dilarang. Jadi, sebenarnya saya masih bisa tampil, kalau saja saya ikhlas kedua sajak itu dilarang. Tapi saya tidak ikhlas kedua sajak itu dilarang. Karena itu berarti menghalangi penuntasan ungkapan hati nurani saya. Bahasa perlawanan yang saya punya, ya hanya itu. Aku ngga mau yang lain.
Saya juga terharu ada penonton pada datang. Mau ngga mau saya bertanya kepada diri sendiri, ya kalau penonton saya setia, masa saya akan begitu saja mengkhianati hati nurani saya. Mereka datang kesini bukan mencari hiburan karena saya bukan penghibur. Mereka juga bukan untuk huru-hara, karena saya tidak bisa menyajikan huru-hara. Mereka datang ke sini untuk berbagi ungkapan hati nurani bersama saya. Kalau saya mengkhianati hati nurani dihadapan mereka, itu ‘kan tidak pada tempatnya. Jadi, untuk menghormati penonton saya menolak untuk mengkhianati hati nurani saya.
Sajak itu sudah saya kirim ke Jepang, ke Australia dan sebagainya. Saya memang ada kontak dengan penerbit di sana. Semua sajak yang akan saya baca ini belum pernah saya baca. Sajak-sajak itu hasil renungan yang lama sekali. Setiap kali saya diajak mertua saya ke Banten, pasti lewat Lebak dan ke Rangkasbitung.
Dengan pelarangan ini, sekarang yang terlintas di pikiran saya adalah : betullah kenyataan bahwa negara kita memang sudah merdeka, tetapi bangsa Indonesia belum merdeka. Nurani kita belum merdeka atau dimerdekakan.
Saya berkeyakinan, persoalan pelarangan sajak itu tidak hanya soal menilai. Pelarangan ini harus memiliki dasar hukum. Rule of the game itu jangan hanya feeling. Dalam zaman keterbukaan, aturan permainan ini harus jelas secara hukum. Misalnya boleh ada aktivitas melahirkkan pikiran dan hati nurani selama tidak melanggar hukum atau menghina pribadi. ***
DEMI ORANG-ORANG RANGKASBITUNG
Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, Salam sejahtera ! Nama saya Multatuli. Datang dari masa lalu. Dahulu abdi Kerajaan Belanda, Ditugaskan di Rangkas Bitung, Ibukota Lebak saat itu. Satu pengalaman yang penuh ujian, Rakyat ditindas oleh bupati mereka sendiri. Petani hanya bisa berkeringat, tidak bisa tertawa, dan hak pribadi diperkosa. Demi kepentingan penjajahan, Kerajaan Belanda bersekutu dengan kejahatan ini. Sia-sia saja mencegahnya. Kalah dan tidak berdaya. Saya telah menyaksikan bagaimana keadilan telah dikalahkan oleh para penguasa dengan gaya yang anggun dan sikap yang gagah. Tanpa ada ungkapan kekejaman di wajah mereka. Dengan bahasa yang rapi Mereka keluarkan keputusan-keputusan Yang tidak adil terhadap rakyat. Serta dengan budi bahasa yang halus Mereka saling membagi keuntungan keuntungan Yang mereka dapat dari rakyat Yang kehilangan tanah dan ternaknya. Ya, semuanya dilakukan sebagai suatu kewajaran.
Dan bangsa kami di negeri Belanda pada hari Minggu berpakaian rapi, berdoa dengan tekun, sesudah itu bersantap bersama, menghayati gaya peradaban tinggi, bersama sanak keluarga, menghindari perkataan kotor, dan selalu berbicara dalam tata bahasa yang patut, sambil membanggakan keuntungan besar di dalam perdagangan kopi, sebagai hasil yang efisien dari tanam paksa di tanah jajahan. Dengan perasaan mulia dan bangga kami berbicara tentang susksesnya penaklukan dan penjajahan. Y, begitulah. Kami selalu mencuci tangan sebelum makan dan kami meletakkan serbet di pangkuan kami. Dengan kemuliaan yang sama pula kami perintahkan para marsose agar membantai orang-orang Maluku dan orang-orang Jawa yang mencoba mempertahankan kedaulatan mereka ! Ya, kami adalah bangsa yang tidak pernah lupa mencuci tangan.
Kita bisa menjadi sangat lelah apabila merenungkan gambaran kemanusiaan dewasa ini. Orang Belanda dahulu juga mempunyai keluh kesah yang sama apabila berbicara tentang keadaan mereka di jaman penjajahan oleh Spanyol. Mereka memberi nama yang buruk kepada Pangeran Alba yang sangat menindas. Tetapi sekarang apakah mereka lebih baik dari Pangeran yang jahat itu ?
Tentu tidak hanya saya yang merasa gelisah terhadap dawat hitam yang menodai iman kita. Pikiran yang lurus menjadi bercela karena tidak pernah bisa tuntas dalam menangkal keadilan. Sementara waktu terus berjalan dan terus memperlihatkan keluasan ruang di dalam pemikiran kita Memang kita telah bisa berpikir lebih canggih dan komplex, tetapi belum bisa lebih bebas tanpa sekat-sekat dibanding dengan keluasan waktu. Bagaimana keadilan bisa ditangani dengan pikiran yang selalu tersekat-sekat ? Ya, saya rasa kita memang lelah. Tetapi kita tidak boleh berhenti di sini.
Bukan kah keadan keadilan di sini belum lebih baik dari jaman penjajahan ? Dahulu rakyat Rangkas Bitung tidak mempunyai hak hukum apabila mereka berhadapan kepentingan dengan Adipati Lebak. Sekarang apakah rakyat kecil sudah mempunyai hak hukum apabila mereka berhadapan kepentingan dengan Adipati-adipati masa kini ? Dahulu Adipati Lebak tidak bisa lolos dari hukum. Adipati-adipati yang kejam dan serakah sekarang apakah sudah bisa dituntut oleh hukum ? Bukankah kemerdekaan yang sempurna itu adalah kemerdekaan negara dan bangsa ? Negara anda sudah merdeka. Tetapi apakah bangsa anda juga sudah merdeka ? Apakah bangsa tanpa hak hukum bisa disebut bangsa merdeka ?
Para pemimpin negara-negara maju bisa menitikkan air mata apabila mereka berbicara tentang demokrasi kepada para puteranya. Tetapi dari kolam renang dengan sangat saniat dan penuh kewajaran mereka mengangkat telpon untuk memberikan dukungan kepada para tiran dari negara lain demi keuntungan-keuntungan materi bangsa mereka sendiri.
Oh ! Ya, Tuhan ! Saya mengatakan semua ini sambil merasakan rasa lemas yang menghinggapi seluruh tubuh saya saya mencoba tetap bisa berdiri meskipun rasanya tulang-tulang sudah hilang dari tubuh saya. Saya sedang melawan perasaan sia-sia.
Saya melihat Negara-negara maju memberikan bantuan ekonomi. Dan sebagai hasilnya banyak rakyat dari dunia berkembang kehilangan tanah mereka, supaya orang kaya bisa main golf, atau supaya ada bendungan yang memberikan sumber tenaga listrik bagi industri dengan modal asing. Dan para rakyat yang malang itu, ya Tuhan, mendapat ganti rugi untuk setiap meter persegi dari tanahnya dengan uang yang sama nilainya dengan satu pak sigaret bikinan Amerika.
Barangkali kehadiran saya sekarang Mulai tidak mengenakkan suasana ? Keadaan ini dulu sudah saya alami. Apakah orang seperti saya harus dilanda oleh sejarah ? Tetapi ingat ; sementara sejarah selalu melahirkan masalah ketidak-adilan, Tetapi ia juga melahirkan orang seperti saya. Menyadari hal ini tidak lagi saya merasa sia-sia atau tidak sia-sia.
Tuan-tuan, para penguasa dunia, kita sama-sama memahami sejarah. Senang atau tidak senang ternyata tuan-tuan tidak bisa meniadakan saya. Nama saya Multatuli saya bukan buku yang bisa dilarang dan dibakar. Juga bukan benteng yang bisa dihancur-leburkan. Saya Multatuli ; Sebagian dari hati nurani tuan-tuan sendiri. oleh karena itu saya tidak bisa disama-ratakan dengan tanah.
Tuan-tuan, para penguasa dunia, apabila ada keadaan yang celaka, apakah perlu ditambah celaka lagi ? Pada intinya inilah pertanyaan sejarah kepada anda semua.
Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, yang hadir di sini, setelah memahami sejarah, saya betul tidak lagi merasa sepi. Dan memang tidak relevant lagi bagi saya untuk merasa sia-sia atau tidak sia-sia, sebab jelaslah sudah kewajiban saya. Ialah : hadir dan mengalir.
Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, terimakasih.
Bojong Gede 5 Nopember 1990 Rendra
*
DOA SEORANG PEMUDA RANGKASBITUNG DI ROTERDAM
Bismillahir rohmanir rohiim
Allah ! Allah ! Napasmu menyentuh ujung jari-jari kakiku yang menyembul dari selimut. Aku membuka mata dan aku tidak bangkit dari tidurku. Aku masih mengembara di dalam jiwa.
Burung-burung terbakar di langit dan menggelepar di atas bumi. Bunga-bunga apyun diterbangkan angin jatuh di atas air hanyut di kali, dibawa ke samodra, disantap oleh kawanan hiu yang lalu menggelepar jumpalitan bersama gelombang.
Aku merindukan desaku lima belas kilo dari Rangkasbitung. Aku merindukan nasi merah, ikan pepes, desir air menerpa batu, bau khusus dari leher wanita desa, suara doa di dalam kabut.
Musna. Musna. Musna, Para turis, motel dan perkebunan masuk desa. Gadis-gadis desa lari ke kota bekerja di panti pijat, para lelaki lari ke kota menjadi gelandangan. Dan akhirnya digusur atau ditangkapi disingkirkan dari kehidupan. Rakyat kecil bagaikan tikus. Dan para cukong selalu siap membekali para penguasa dengan semprotan antihama. Musna. Musna. Musna.
Kini aku di sini. Di Rotterdam. Menjelang subuh. Angin santer. Jendela tidak terbuka, tapi tirainya aku singkapkan. Kaca basah. Musim gugur. Aku mencium bau muntah. Orang Negro histeri ketakutan dikejar teror orang kulit putih di tanah leluhurnya sendiri di Afrika Selatan. Kekerasan. Kekuasaan. Kekerasan. Dan lantaran ada tambang intan di sana, kekuatan adikuasa orang-orang kulit putih juga termasuk yang demokrat, memalingkan muka, bergumam seperti orang bego, dan mengulurkan tangan di bawah meja, melakukan kerja sama dagang dengan para penindas itu. Dusta. Dusta. Dusta. Ya, Allah Yang Maharahman ! Tanganku mengambang di atas air bersama sampah peradaban.
Apakah aku akan berenang melawan arus ? Langit nampak dari jendela, Ada hujan bulu-bulu angsa. Aku hilang di dalam kegagapan. Ada trem lewat. Trem ? Buldoser ? Panser ? Apakah aku akan menelpon Linde ? Atau Adrian ? Berapa lama akan sampai kalau sekarang aku menulis surat kepada Makota Oda di Jepang ? Sia-sia. Musna. Dusta.
Rotterdam ! Rotterdam ! Hiruk-pikuk suara pasar di Jakarta. Bau daging yang terbakar. Biksu di Vietnam protes membakar diri. Perang saudara di India yang abadi. Aku termangu. Apakah aku akan menyalakan lampu ? Terdengar lonceng berdentang. Berapa kali tadi ? Jam berapa sekarang ? Ayahku di Rangkasbitung selalu bertanya : Kapan kamu akan menikah ? Apakah kamu akan menikah dengan perempuan Indonesia atau Belanda ? Kapan kamu akan memberiku seorang cucu ? Apakah lampu akan kunyalakan ? Di Rangkasbitung pasti musim hujan sudah datang. Kenapa aku harus punya anak ? Kalau perang dunia ketiga meletus nuklir digunakan, angin bertiup, hujan turun, setiap mega menjadi ancaman. Jadi anakku nanti harus mengalami semua ini ? Rambut rontok. Kulit terkelupas. Ampas bencana tidak berdaya. Ah, anakku, sekali kamu dilahirkan tak mungkin kamu kembali mengungsi ke dalam rahim ibumu !
Suara apakah itu ? Electronic music ? Jam berapa sekarang ? Apakah sudah terlambat untuk salat subuh ? Buku-buku kuliah di atas meja. Tanganku menjamah kaca jendela. Dan dari jauh datang mendekat : wajahku. Apakah yang sedang aku lakukan ? Ya Allah Yang Maharahman ! Tanganku mengambang di atas air bersama sampah peradaban. Apakah aku harus berenang melawan arus ? Astaga ! Pertanyaan apa ini !
Apakah aku takut ? Ataukah aku menghiba ? Apakah aku takut lalu menghiba ? Pertanyaan apa ini ! Ya, Allah Yang Maharahman. Aku akan menelpon Linde dan juga Adrian. Aku akan menulis surat kepada Makoto Oda. Tanganku mengepal di dalam air tercemar sampah peradaban. Tidak perlu aku merasa malu untuk bicara dengan imanku.
Allah Yang Maharahman, imanku adalah pengalamanku. Bojong Gede 6 Nopember 1990 Rendra * Berkelanjutan « Sekitar Aktivitas Kreativitas Tulis Menulis Di Luar Garis (25) : Semarak Lagu Juang Simanjuntak ». *** (13.08.2008)
 Posted by Ibrahim on Jul 29, '08 6:09 AM for everyone  K e h a r m o n i s a n
Cerpen
Oleh : A.Kohar Ibrahim
SAMAR samar suara aku dengar : « Monsieur masih tertidur. » Lantas : « Iya. Kita biarkan dahulu ngasoh. Nanti kita singgah lagi. »
Suara percakapan itu suara wanita. Meski aku coba membuka mata, tapi tak mudah. Hanya samar samar pula aku menampak dua sosok tubuh berbusana serba putih putih. Dalam alam realita-imajinasi, suara dan tubuh tubuh itu seperti bidadari yang begitu perhatian menghampiriku. Menjagaku. Merawat kesehatanku.
Sesungguhnya, sesaat kemudian aku sedari. Telah terjadi perubahan yang begitu cepat, nyaris tak terasa cepatnya seperti kilat. Perubahan dari beban keadaan berat teramat berat berubah ringan sangat. Rasa perasaan dan pikiranku begitu. Ragaku juga begitu. Terasa ringan teramat ringan seperti sehelai daun malah seperti sehelai bulu burung feniks yang ringan layang melayang di awang-awang lantas singgah dengan mudah di atas keharum-lembutan tanah. Seperti berada kembali ke asal bermulanya.
Iya. Begitulah adanya jiwa dan ragaku. Selagi terbaring di atas ranjang salah sebuah kamar Klinik Saint-Jean lantai atas, jelasnya di tingkat tiga dekat beranda. Terbaring dalam kesejukan hati kedamaian pikiran dan ringannya badan. Keadaan yang kontras dengan beberapa waktu sebelumnya.
Sebelumnya, terasa teramat berat di kepalaku. Pening. Juga tubuhku terasa berat keberatan yang melemah-lelahkan. Jadinya hanya bisa terbaring, terlentang di atas ranjang pasien. Untuk bisa mengangkat badan merubah posisi atau bangun beranjak beberapa langkah ke toilet, aku harus menggunakan alat berupa besi segi tiga yang menggelantung – disebut « peroqué ».
Tetapi, sesungguhnya, rasa perasaan berat itu bukan semata-mata volume atau berat badanku yang hanya 67 kilogram. Pun bukan lantaran besarnya kepalaku. Melainkan terutama sekali lantaran beban perasaan dan pikiran serta angan-angan yang saling baur berbauran bahkan berbenturan. Perbenturan antara asa dan kekurangan bahkan nyaris ketiadaan ; akan rajaman rasa ketidak-pastian, kepengapan dan kegelapan-pengapan berkenaan dengan apa yang akan segera aku alami. Mengalami aksi kekerasan berupa operasi bedah ; bagaimana menghadapinya ; bagaimana kelangsungannya ; bagaimana akhirnya atau hasilnya.
Sesunggunyalah percampur-bauran bahkan saling tabrakannya ragam perasaan itu tak lain tak bukan adalah bentuk perjuangan hidup-mati di dalam jiwa-ragaku. Manakah yang akan mengatasi dan menang – apakah hidup kehidupan ataukah mati kematian. Dalam pejamkan mata, kehitam-gelapan pelupuk mata terisi silih ganti permunculan lukisan klasik maupun modern yang berkaitan dengan perjuangan hidup-mati. Teristimewa sekali lukisan Pieter Bruegel : Le triomphe de la mort. Menangnya Kematian atau Kemenangan Sang Maut. Lukisan Bruegel tahun 1562 yang juga dinamai Teror itu suasananya mirip dengan peristiwa Teror Putih 1965 di Nusantara. Dalam mana dibawah komando RPKAD, pasukan bersenjata militer dan sipil melancarkan pembunuhan massal yang menelan korban manusia yang luarbiasa banyaknya. Kaum algojo itu, sembari secara salah-kaprah berteriak-teriak kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa dan Pengasih Penyayang, telah melakukan aksi teror di berbagai kota dan daerah sampai pelosok desa, bertindak selaku Malaikal Maut mencabut jutaan nyawa manusia tanpa dosa. Belum lagi teror berupa pembunuhan politik yang menerkam-cengkam jutaan manusia lainnya dengan rajaman ketakutan, was-was dan ragam macam penderitaan lahir-batin lainnya.
Lukisan Kemenangan Sang Maut Pieter Brugel itu lantas disusul dengan lukisan yang tak urung dahsyat gugah-gugatannya sekaitan dengan soal hidup dan mati. Yakni lukisan Rembrant : « La leçon d’anatomi du Dr Nicolaes Tulp », 1632. Sungguh, lukisan tentang mata pelajaran anatomi yang diberikan Dokter Tulp itu membikin hati dan pikiranku tergetar badanpun gemetar. Lantaran segera membayangkan diriku sendiri terbaring di atas meja operasi dikitari oleh team kedokteran dan para juru-rawat. « Aku belum mati ! » mendadak sontak teriakku dalam keterlelapan. Seketika terjaga. Tapi bola mataku sangat lambat terbuka. Sedang mulutku terasa kering mengering. Nafas terengah-engah. « Aku tak mau mati ! Aku mau Hidup ! » teriakku lagi, dengan bola mata masih tertutup pelupuk. Pelupuk mata yang hitam kelam lantas tersembul lukisan « Teriak » Edvard Munch. Lukisan yang mengekspresikan rasa was-was dan ketakutan itu terasa kian menakjubkan. Terasa, sepertinya, melukiskan teriakan jiwa-ragaku juga adanya.
Rejaman rasa perasaan waw-was dan ketakutan itu sepertinya tak mau usai menghujam jiwa-ragaku. Debar jantungku terasa begitu cepat, sedangkan mulut dan tenggorokan kian kering mengering. Tak tertahankan. Jari jemariku seketika menekan tombol warna merah, minta pertolongan juru-rawat. Yang dipanggil segea datang. Bukan hanya seorang melainkan dua orang juru-rawat perempuan mendampingi Dokter Dansart. Ketiganya berwajah sumringah. Belum lagi sempat aku membuka mulut, sang Dokter sudah mendahului dengan ujar kata yang ramah campur gembira :
« Keadaan gawat sudah lewat, Monsieur. Operasi berjalan lancar. Daya tahan Tuan luar-biasa. Istirahatlah baik-baik sembari menerima pengobatan lanjutan. Dalam beberapa hari Anda boleh pulang ke rumah. »
« Merci infiniment, Monsieur le Docteur, » ujarku dengan nada lemah tapi jelas. « Terima kasih tak berhingga, Tuan Dokter. »
« Apakah Anda memerlukan sesuatu ? » tanya salah seorang juru-rawat. « Jangan segan-segan, yah ? »
Anehnya, aku hanya menjawab pertanyaan sang juru-rawat itu dengan senyum, menggelengkan kepala pelan. Senyum yang mempertandakan kegembiraan di dalam diriku yang luar biasa. Rasa peningku dan rasa hausku sepertinya sirna seketika. Baru saja benar-benar menyadari, bahwasanya saat-saat yang paling gawat dan menentukan telah aku lewati. Untuk beberapa saat tak sepatah kata terucap, hanya saling menatap, saling menganugerahi senyum bening dan pandang mata memancarkan cahya keberhasilan. Keberhasilan menunaikan misinya masing-masing. Cahaya kemenangan hidup atas kematian itu bersinar. Sinar yang mudah dimaknai, sekali pun tanpa ujar kata. Tatkala mereka beranjak pamit, sang dokter yang mengepalai team operasi bedah itu sempat mengulang pesan supaya aku bisa istirahat dengan penuh ketenang-santaian.
Pesannya aku balas dengan senym dan anggukan perlahan. Seketika tak terasa, bola mataku basah. Kiranya merekapun memahami, betapa hatiku gembira, bahagia campur haru. Bahkan bangga. Kebanggaan menerima layanan perawatan dari team kedokteran dan pengobatan yang cakap, penuh perhatian dan keramah-tamahan. Dengan perangkat peralatan yang modern dan canggih pula adanya. Sehingga aksi kekerasan terhadap tubuhku berupa operasi bedah itu berlangsung dengan lancar, nyaris tak terasa apa-apa.
Benarlah suatu kebenaran yang diucapkan oleh Dokter Dansart itu, sehari menjelang operasi, pernah bilang untuk meyakinkan diriku supaya tidak perlu khawatir. Karena tugas apa yang akan dipenuhinya itu bukan yang pertama kali, melainkan keseratusan kali. Dengan tambahan penjelasan tentang bagian usus atau kolon yang akan kena operasi. Jelasnya yang akan dikikis-habis hanyalah pada bagian yang teridap tumor saja. Untuk itu, ada bagian atas perutku yang akan ditembus tiga lubang kecil, dan di bawah puser akan kena bedahan sepanjang sepuluh sentimeter. Sesudah penjelasan yang diberikan dokter ahli bedah itu, menyusul penjelasan dari Dokter Dumas yang mengepalai Servis Anesthésie. Selain penjeleasan yang diberikan mengenai anesthésie atau pembiusan anti-rasa-kesakitan itu, juga dimintanya aku untuk menanda-tangani dokumen kesepakatan untuk itu.
Iya, memang aku sepakat dengan isi dokumen berupa penyerahan kepercayaan kepada team kedokteran sekalian pengobatan-perawatan untuk menunaikan misinya, demi keberhasilan dan pemulihan kesehatanku sendiri. Kesepakatan yang utuh menyeluruh dan yang mampu memberikanku kepercayaan yang sarat akan asa terbaik. Kesepakatan yang menyejuk-tenangkan kalbuku. Meski kemudian, tak urung, aku kurang tidur. Lantaran rajaman perasaan lain yang tak mau terhapuskan, bahkan kadang kala menjadi-jadi : perasan khawair, was-was dan ketakutan akan terjemput Sang Maut. Jika saja operasi bedah atas diriku tidak mencapai hasil seperti yang diharapkan atau malah gagal total.
Perasaan yang menyakitkan itu terseling oleh pejaman mata beberapa jam, sampai jam enam pagi hari. Kemudian selingan yang berlangsung beberapa jam pula – semasa persiapan menjelang masuk kamar operasi bedah pada jam sebelas. Pagi-pagi sekali dua orang juru-rawat sudah datang dengan misi membersihkan seluruh badanku. Supaya mencukur habis sampai kelimis kumis dan bagian intimku, lalu mandi di bawah pancuran air kamar mandi dengan menggunakan cairan sabun khusus. Semuanya aku lakukan dengan lancar dan sabar, malah dengan gembira. Wajah sumringah, karena perasaan lega itu hanya berubah ketika – dalam keadaan terbaring di ranjang pasien -- aku dibawa ke lantai bawah-tanah. Ke ruangan besar bagian operasi bedah yang terasa lembab dan dingin.
Sementara menunggu saat yang menentukan, aku kembali berupaya melawan kegelisah-resahan, was-was dan ketakutan yang kembali menerkam-rajam semau-maunya. Untunglah, ingatanku senantiasa segar dan telingaku berfungsi wajar. Aku terkenang dan di telinga terngiang pesan dari team kedokteran dan pengobat-rawatan sekalian keluarga tercintaku untuk tabah dan menjaga kesabaran, bahkan keberanian menghadapi ujian.
Dalam suasana terasa dingin dan kediaman yang mencengkam, aku terus terlentang di atas ranjang, pelupuk mata terkatup. Hanya untuk mengisinya dengan serangkaian kenangan semenjak masa bocah, terutama saat pesta sunat. Lantas masa remaja ketika jadi bintang di sekolah sebagai juara gambar, pemenang lomba olah raga atau seni suara. Selagi jadi penulis sekaligus jurnalis pemula sampai berkedudukan sebagai redaktur untuk akhirnya terpilih sebagai anggota delegasi pengarang ke luar negeri. Ke negeri Kerajaan Tengah alias Tiongkok. Setelah dari Beijing membelah benua dengan keretapi Trans Siberia, melintasi Danau Baikal, transit di Moskow dan Berlin Barat, untuk akhirnya sampai ke ujurng Eropa Barat. Jadi sitoyen kota Brussel, Belgia. Melanjutkan aktivitas dan kreativitas sebagi penulis dan pelukis. Dari masa muda, dewasa sampai lansia. Entah berapa banyak naskah yang telah aku susun. Entah pula berapa karya gambar atau lukis yang aku gubah. Akan tetapi aku merasa belum cukup dan tak pernah merasa puas diri untuk akhirnya berhenti berkreasi. Masih banyak gagasan, rencana yang harus dan aku yakin bisa kutunai-rampungkan.
Namun apa daya, ketika memasuki hari pertama masa pensiunan -- yang sesungguhnya bagiku bukan berarti menghentikan aktivitas-kreativitas, melainkan sebaliknyalah – mendadak sontak kesehatanku terganggu. Amat terganggu malah.
Begitulah jadinya, dampaknya, maka terjadi kontradiksi atau pertempuran di dalam diriku antara hasrat keinginan, impian dan idaman di satu pihak dengan aral perintang berupa kesulitan, terutama sekali gangguan kesehatan. Terkena telikungan keadaan badan yang kekurangan akibat kehilangan darah. Karenanya mesti menerima prawatan sampai menjalani operasi bedah di Klinik Sait-Jean ini. Yang baru saja aku alami dan lewati.
*
KINI hari ini, di sini, aku masih terbaring terlentang di atas ranjang pasien. Ketika seketika tapak tangan kanan meraba dada dan perutku untuk meyakinkan diri apa yang telah aku alami, tiada ada rasa keanehan atau nyeri. Kecuali terbukti adanya balut pembalutan tiga potong tipis, persis letaknya seperti digambarkan oleh Dokter ahli bedah Dansart.
« Azaib, » bisiku, dalam hati, « aneh malah. Operasi bedah itu dan sesudahnya kini, sepertinya tak pernah terjadi apa-apa. Berlangsung santai dan usai begitu saja. Padahal telah terjadi aksi kekerasan berupa operasi bedah pembedahan atas tubuhku. Jelasnya atas perutku. Dalam keadaan terbaring, aku jadi terkenang kisah seorang pejuang. Kisah seorang serdadu yang tumbang di medan juang. Seperti yang dilukiskan penyair Arthur Rimbaud dalam karya puisinya berupa sajak berjudul « Le dormeur du val ».
Yang Tertidur Di Lembah
Adalah sebuah lubang di hamparan hijau di mana sebatang kali bernyanyi Berpeluk seerat-eratnya pada rangkum rumput rerumputan jerami Keemas-emasan, di mana mentari, di atas gunung megah, Bersinar : adalah sebuah lembah yang membiaskan sinar.
Sorang serdadu muda, mulut ternganga, telanjang kepala Dan tengkuk tenggelam dalam jerembak biru segar, Tertidur : dia terlentang di atas rerumputan, bernaung mega, Pucat pasi di atas ranjang hijaunya bermandikan sinar.
Kedua belah kaki di antara rerumputan, dia tertidur. Senyum seperti Senyuman bocah menderita sakit, dia terlena. Alam, dekaplah dia erat hangat : dia lagi kedinginan !
Harum wangi-wangian tak mengusik hidungnya ; Dia tertidur bersimbah cahya mentari, tapak tangan di atas dada Dia tenang. Dua lubang merah menembus iga kanannya.
Sajak Rimbaud itu mengingatkanku pada sajak Chairil Anwar « Antara Kerawang--Bekasi » yang juga menyanyikan lagu pejuang dalam menjalani misi perjuangan hidup kehidupan manusia. Terasa makna kehamonisannya. Keharmonisan bukan saja dalam makna isi dan bentuknya yang artistik, juga suasana yang digubahnya. Suasana antara sang manusia, sang pejuang, dengan alam sekitarnya. Di bawah kesejuk-hangatan cahya matahari yang cerah. Meski dalam derita sakit kesakitan namun senyum tabah, tidur terlena nampaknya. Tidur terlena yang sebenarnya gugur, di medan laga. Dalam dekapan bumi alam semesta.
Dalam suasana bersimbah cahya dia tidak lagi menutut-gugat apa-apa. Dia sudah menunaikan ibadah atau misinya, dengan perolehan yang dicarinya : keharmonisan dalam jiwa-raganya, keharmonisan dengan alam semesta asal muasalnya.
Begitulah kesanku mengenang pejuang lukisan penyair Perancis Arthur Rimbaud « Le dormeur du val ». Yang Tertidur Di Lembah. Sang pejuang yang tumbang di medan laga dengan menjaga ketabahan dan marwah senantiasa.
Tapi sang pejuang itu gugurlah sudah. Sedangkan daku -- meski perutku tertembus tiga lubang dan segores sayatan -- masih hidup menjalani hidup kehidupan, dengan misi yang selayaknya aku penuhi. Mudah-mudahan kesampaian.
*
WAKTU sepertinya berjalan begitu cepat. Hari-hari terakhir yang tersediakan masih dalam perawatan selaku sitoyen Klinik Saint-Jean aku lalui seraya mengisinya dengan menulis kesan-kesan. Kesan sarat pesan yang aku kira layak memperkaya ingatan atau kenang-kenangan. Ingatan atau kenang-kenangan tersusun dalam tulisan yang pasti tak mudah punah. Selaras pribasa kata : « Omongan mabur tulisan tinggal menetap. » Dan layak pula, kiranya seberkas karya tulisku ini terdedikasikan pada semua mereka yang prihatin sekaligus perhatian akan keadaan kesehatanku. Baik keluarga tercintaku maupun Dokter Delille dan team kedokteran-pengobatan-perawatan Klinik Saint-Jean. Jelasnya : Sebagai pertanda rasa terima-kasih-ku yang tak berhingga adanya.
Aku tulis baris-baris kata kesan-pesanku ini di ruang beranda yang tenang, di atas meja kecil berhias tiga pot bunga. Pot bunga mungil yang masing-masing datang dari kalangan keluarga dan sobat-temanku teriring harapan akan pulihnya kesehatanku dengan segera.
Seketika tumpuan pandang mataku tertuju pada ketiga pot bunga indah yang menggairahkan itu. Seketika itu juga terasa kesejuk-nyamanan jiwa-ragaku. Seketika kemudian kulempar pandang ke luar seputar beranda. Lewat jendela kaca pemandangan luas terbentang. Bentangan jalan raya disebut Boulevard Jardin Botanique mendampingi taman luas dengan tumbuhan pepohonan dan aneka ragam tanaman bunga. Sang pepohonan besar kecil deret berderetan teratur rapih dengan warna hijau kehijauan yang ragam nuansanya. Begitu pula tanaman pohon bunga-bunganya, mulai mempertandakan kesegar-bugaran putik-putik yang kian hari kian merekah cantik. Merekahnya bunga-bungaan yang cantik lagi indah menyambut datangnya musim semi dengan simbahan cerahnya sinar mentari – penggugah wajah sumringah senyum berseri. *** (30.07.08)
Catatan : Serangkuman kisah-kisah osmosia realita-imajinasi A.Kohar Ibrahim « Sitoyen Saint-Jean : Antara Hidup Dan Mati » selesai sampai di sini. Terima kasih kepada : ACI, Bekasinews dan pengelola media elektronika lainnya, khususnya Multiply, pun sekalian pembaca yang berkenan.
 Posted by Ibrahim on Jul 26, '08 3:57 PM for everyone  Terowongan Maut
Cerpen
Oleh : A.Kohar Ibrahim
KISAH yang berkaitan dengan terowongan seringkali sarat akan perasaan gairah, penuh asa, bisa juga tak lepas rasa was-was dan penasaran. Seperti kisah dalam cerpen Maxim Gorky yang justeru berjudul « Terowongan ». Seperti kisah tenggelamnya kapal Titanic. Juga seperti perasaan yang timbul campur baur imajinasi ketika mengunjungi terowongan yang digunakan Tentara Merah dalam sejarah Perang Rakyat Tiongkok. Dan juga ketika kesempatan mengunjungi tambang batu bara Bligny di daerah Walonia Belgia.
Yang kesemuanya, kisah-kisah itu erat berkaitan dengan makna operasi, makna kekerasan dalam aksi peperangan maupun aksi kerja keras rakyat pekerja.
Sungguh sesungguhnyalah kata operasi adalah kata yang jarang aku gunakan. Kata yang kedengarannya tak aku suka, lantaran secara subyektif kontan mengingatkan tindakan kekerasan. Apa pula ditambah kata bedah atau pembedahan. Lebih-lebih lagi operasi pembedahan itu bukan tertuju pada orang lain, melainkan pada diriku sendiri. Pada tubuhku sendiri. Pada perutku sendiri. Kedua kata itu – operasi bedah – sungguh membuat aku terkejut melongok, tercenung merenung, bingung.
Hari-hari direjam sakit penyakit, aku rasakan, aku bayangkan, diriku bagaikan sehelai daun menguning nyaris kering di ujung ranting. Antara asa dan putus asa. Runtuh jatuh melayang-layang antara bumi dan kayangan. Betapa gamang kegamangan ini begitu mengerikan dalam kelengang-hampaan. Takut. Rasa takut ketakutan menerjang sekalian menyergap, menelikung jiwa-ragaku dalam kurungan. Aku berteriak. Memberontak. Aku tak mau dikurung pun terkurung dalam kebingungan sekalian rajaman ketakutan.
Dalam mengayunkan langkah menelusuri perjalanan hidup kehidupanku, nyatanya tidaklah sederhana dan mudah. Seperti tertera dalam catatan atau kenangan tertulisku, sejak masa muda remaja sampai lansia. Dalam salah satu lembar catatan, antara lain aku mengaku: Iya, aku terjatuh jatuh bangun. Namun jejak langkah terus ku ayun. Menelusuri rimba raya, lembah, lereng bukit dan gunung ataupun gurun. Ya Allah, Allahu Akbar ! Betapa tabah ketabahan bermakna besar, seraya setia menjaga marwah dalam gairah maupun dalam susah payah. Takkan sekali-kali ku bertekuk lutut sekalipun tegarnya aral perintang, garangnya musuh dan maut. Sekali pun sekali terjatuh aku bangun lagi, mengayun langkah dengan tabah sekalian menjaga marwah.
Aku jatuh terjatuh lalu bangkit kembali menegakkan langkah yang jadi kebiasaanku selama ini. Begitulah. Tekadku tak berubah. Meski aku ngaku, ragaku tidak lagi dalam masa remaja sampai dewasa yang gagah. Iya, memasuki masa lansia terasa kegairah-perkasaan berangsur melemah. Apa pula jatuh terajam penyakit yang tak pernah aku suka pun tak pernah aku duga. Hingga menjadi lemah lantaran kekurangan darah : Anemia adanya. Lantas kini mesti mengalami operasi bedah pula ? Bayangkan saja. Ah… !
Operasi dioperasi dibedah, sesungguhnyalah aku tak suka mendengar ujar kata itu. Apa pula mesti aku sendiri yang akan mengalaminya. Tapi apa daya, hal itu sudah merupakan keputusan dari team kedokteran dan pengobatan Klinik Saint-Jean. Sebagai diagnosa dari pemeriksaan-pengobatan-perawatan sejak aku masuk rumah sakit atau klinik ini. Jelasnya, sebagai hasil kesimpulan dari pemeriksaan yang terakhir aku jalani. Yakni gastroskopi dan kolonoskopi.
Dua pemeriksaan yang aku jalani Jumat kemarin -- pagi-pagi sekali kemudian sore hari -- macam pemeriksaan keadaan kesehatan badan yang paling berat aku rasakan.
Yang pertama. Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Jam enam. Badanku yang sudah lemas bertambah lemas lantaran « puasa ». Tidak boleh makan dan minum sejak kemarin malam. Pagi hari tentu saja tanpa sarapan pagi. Pada jam delapan seorang juru-rawat sudah siap mengantarku, dengan menggunakan kursi-dorong, dari kamar biasa di tingkat tiga turun ke ruangan lantai bawah-tanah. Perutku yang memang sering terasa sakit dan mual, kian bertambah mual saja, ketika turun menggunakan lift.
« Courage, Monsieur, » ujar sang juru-rawat asal Afrika bernama Clemantine – seperti tertera di kartunama tanda pengenal yang nyantel di dadanya. « Gastroskopi merupakan pemeriksaan yang tak menyenangkan. Harap Tuan sabar dan tabah. »
Harus tabah dan bersabar, itulah nasihat sang juru-rawat berkulit-hitam manis teriring senyum, menyerahkanku kepada seorang juru-rawat yang bertugas di lantai bawah-tanah. Di ruangan yang cukup luas memanjang, dengan warna dinding tembok yang putih keabu-abuan. Rasanya dingin kebanding di ruang lantai atas. Dan aku dideret-jajarkan dengan para pasien lainnya. Lantas menyuruhku meminum segelas besar air yang sebenarnya dicampur zat obat pengobatan. Rasanya agak aneh sekalipun ada aroma jeruknya. Setelah tiga perempat jam baru aku dibawa masuk ke ruang khusus untuk gastroskopi. Dibaringkan dengan posisi miring sebelah kiri, di atas meja yang mirip ranjang berseprei putih. Lantas seorang dokter datang menyapa dengan ramah seraya minta kerjasamaku. Agar supaya pemeriksaan berlangsung secara lancar dan mencapai hasil yang diperlukan. Ketika aku penasaran tanya :
« Kerjasamanya bagaimana, Tuan Dokter ? »
« Mudah saja, » katanya, senyum. « Jaga ketenangan, jangan panik. Meski nanti terasa haus dan hangat di tenggorokan. Dan bernafaslah dengan mulut, setuju ? »
« Oui, Docteur. D’accord, » jawabku polos.
Jawaban polosku itu sesungguhnya berupa kepasrahan saja, meski sarat nekad sekalian itikad untuk memulihkan kembali kesehatanku. Dengan mencari sekaligus menemukan sebab-musabab keadaan anemia lantaran terjadinya pendarahan. Maka aku tak berkutik pun tanpa berkata apa-apa lagi ketika menerima saluran oksigin via lubang hidungku. Ketika ada alat di mulutku supaya tetap mangap. Ketika menerima zat yang hangat-hangat panas mengalir di jalur kerongkonganku. Dan ketika, akhirnya, via kerongkongan sang dokter memasukkan pipa mungil yang dilengkapi kamera untuk mendeteksi sekaligus memotret panorama perutku -- usus besar dan jalur kolon-nya sekalian. Rasa perasaan aneh menghujam-rajam diriku, seluruh jiwa-ragaku. Anehnya rasa haus kehausan dan sakit kesakitan yang luar biasa, ketika sang dokter melakukan pencariannya dengan alat yang bagiku aneh pula itu. Kadang rasa haus dahaga begitu terasa. Ah, kehaus-dahagaan melebihi ketika puasa di bulan Ramadan ; mungkin lebih jitu kehaus-dahagaan seperti musyafir di padang pasir ? Kadang pula terasa dingin, seperti terbenam di dasar laut. Tak ubahnya seperti kapal Titanic yang diselami penyelam dengan dilengkapi pipa berkamera untuk mendeteksi sekaligus memotret apa saja yang dianggap penting, sebagai penemuan yang layak disimak dan sebagai pengetahuan bermakna.
Selama beberapa saat panas-dingin merejam badan kian meningkat terasa, sepertinya aku telah kehabisan nafas, nyaris pingsan. Sampai saat sang dokter menarik kembali pipa secara keseluruhan, dan aku bisa bernafas kembali seperti biasanya. Seketika aku pejamkan mata lantaran keletihan. Baru terjaga beberapa lama kemudian ketika sudah kembali berada di kamar pasien di lantai atas.
Agaknya selama dua jam lebih aku terlena dengan nyenyak, membikin badan terasa lebih enak. Hanya untuk mengalami pemeriksaan lainnya – kolonoskopi -- beberapa jam kemudian. Yakni pada jam lima sore. Pemeriksaan yang juga aneh, menimbulkan rasa aneh keanehan akibat alat yang digunakan -- semacam pipa yang juga dilengkapi pendeteksi sekaligus pemotret keadaan kolon. Keanehan yang menerkam rejam jiwa raga terkesankan kenyerian dan kewaswasan serta penasaran. Meskipun berlangsung tidak lama dan betapa sigap-cakapnya sang dokter memanipulasi alat yang digunakannya – mulai dari mulut lubang dubur sampai masuk merasuk ke dalam perut, istimewa ke usus yang disebut kolon itu -- namun kiranya, ya ampun, cukuplah sekali itu saja.
Iya. Sekali itu saja. Masing-masing sekali itu saja – pemeriksaan yang disebut gastroskopi dan kolonoskopi itu. Sekali itu saja dan terakhir kali, akupun bergerak secara otomatik begitu mendengar saran sang dokter supaya aku cepat ke toilet. Gerak cepat seperti robot otomatik dari meja pasien ke toilet hanya untuk secepatnya mengeluarkan isi perut sehabis-habisnya hingga kempis. Untuk kedua kalinya perasaan aneh lantaran keletihan menyergap-dekap jiwa-ragaku. Ketika sang juru-rawat menjemputku kembali ke ruang kamar pasien, aku segera terbaring di ranjang dan tertidur lelap.
Suasana kedua macam pemeriksaan medis itu layaknya membawaku pada kenangan sekaligus pengalaman yang menimbulkan perasaan sarat asa dan ketiadaan asa, campur-baur rasa ngeri dan was-was berkenaan dengan terowongan. Timbulnya rasa perasaan aneh di dalam terowongan sekaligus diri sendiri sebagai terowongan. Terowongan dalam perjuangan hidup-mati di medan laga peperangan, pekerjaan dan di dalam jiwa-raga diri sendiri.
Akan tetapi, suka tak suka, kedua macam pemeriksaan bagaikan terowongan itu, merupakan lanjutan yang wajar. Sebagai mata-rantai tak terpisahkan dari rangkaian pemeriksaan medis lainnya yang tidak bisa tidak dijalani. Karena atas dasar kesemuanya itulah team kedokteran menyatakan diagnosanya, menarik kesipulan dan memutuskan cara terbaik untuk menghentikan pendarahan yang terjadi. Yakni dengan melakukan operasi pembedahan. Operasi untuk melikwidasi tumor yang mengidap di bagian kolon dalam perutku.
Iya. Kolon itu sendiri tak ubahnya bagai terowongan yang selain bisa hidup menghidupkan, sebagai saluran pembuangan sampah atau kotoran dari dalam perut. Sebaliknya juga bisa mematikan jika sang terowongan itu tersumbat atau diidapi tumor yang gawat jadi penyebab pendarahan hingga kehilangan sampai kehabisan darah. *** (26.07.2008)
Catatan : Ilustrasi foto karya lukis Abe alias A.Kohar Ibrahim, cat akrilik di atas kanvas.
 Posted by Ibrahim on Jul 25, '08 3:27 AM for everyone  A.Kohar Ibrahim :
Rendra Si Burung Merak
Sekitar Aktivitas Kreativitas Tulis Menulis Di Luar Garis (23)
*
Karena kami arus kali dan kamu batu tanpa hati maka air akan mengikis batu. (WS Rendra)
*
BRUSSEL Juli 2008. Memperbincangkan Rendra, menyegarkan ingatan akan pertemuan langsung pada Malam Puisi Menentang Represi yang berlangsung di Amsterdam tahun 90-an. Lantas pada berkas naskah tulisan saya berupa Catatan Dari Brussel : Dari Tanah Pijakan Kaum Eksil yang salah sebuah judulnya Fenomena Si Burung Merak (CdB 32). Yang disiar Harian Batam Pos dalam bulan September 2003, selanjutnya di beberapa media elektronik seperti Mandiri dan Cybersastra.
Rendra tak syak lagi memang sebagai salah satu sosok kaum seniman yang tahu dan peduli akan politik, tulis saya antara lain. Dalam mana ada saat-saat tertentu yang merupakan poin-poin kardinal dalam lembaran sejarah kesusastraan Indonesia. Seperti adanya larangan penguasa Orba atas dua sajaknya yang bersemangatkan Multatuli tahun 1990, perannya dalam peristiwa Mei 1998, konsepsinya tentang kemerdekaan dan demokrasi serta manifestasi artistiknya dalam Pergelaran Kantata Takwa Kesaksian 2003 bersama Iwan Fals dan kanca-konco lainnya.
Penilaian saya terhadap Rendra terbuktikan bukan hanya dalam omongan, melainkan terdokumentasikan dalam salah satu hasil terbitan kami. Yakni dalam Kreasi nomor 7, yang selain edito, saya turunkan pula catatan budaya saya mengenai sang penyair sekalian sastrawan Multatuli. Bahkan, gambar kedua wajah sastrawan engage tersebut saya komposikan sebagai kulitmuka untuk nomor khusus majalah tersebut.
Penerbitan Kreasi tersebut memang untuk membuktikan penghargaan terhadap kedua penulis sekaligus humanis yang berjasa besar, sebagai saya tulis dalam edito dengan menggunakan nama pena : D. Tanaera. Sekaligus dengan memberi makna sejarahnya.
Maka dari itulah, dalam Kreasi tersebut saya turunkan pula dua sajak yang menggemparkan dunia sastra dan politik Indonesia, yang masing-masing berjudul Demi Orang-orang Rangkasbitung dan Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung di Rotterdam. Meskipun tanpa meminta izin terlebih dahulu pada penciptanya. Lantaran situasinya tak memungkinkan dan lagi pula atas keyakinan, bahwa Rendra tentunya takkan keberatan.
Memang demikianlah adanya. Ketika dalam suatu Malam Puisi Menentang Represi yang diadakan di Amsterdam saya sempat ketemu Rendra dan memberitahukan hal tersebut, dia bilang : « Ah, nggak apa-apa kok. »
Kemudian saya tahu, bahwa Rendra memang telah memperhitungkan segalanya, bahwa hasil karyanya tersebut dilarang penguasa di Indonesia, maka diapun telah « menyelundupkan »nya kepada sementara teman-temannya di luarnegeri. Yang akhirnya singgah di atas meja editor Kreasi.
Masih jelas dalam kenangan saya, betapa hangatnya sambutan hadirin terhadap Si Burung Merak dalam Malam Puisi Menentang Represi yang juga diikuti oleh sejumlah penyair lainnya, termasuk penyair kondang Sitor Situmorang. Sedangkan pelukis senior Basuki Resobowo berkenan menyelenggarakan pameran seharmal (sehari semalam) untuk memeriahkan evenement yang cukup bermakna dalam sejarah perjuangan melawan penindasan rezim Orde Baru – sekalipun di kawasan mancanegara itu.
*
BERKAT aktivitas dan kreativitas seninya – tulis DT alias saya sendiri pada halaman 16 Majalah Kreasi N° 7 -- Rendra menerima julukan si Burung Merak dan si Aku Yang Menderita alias Multatuli dalam reinkarnasi. Bukti-bukti kongkritnya adalah 2 sajaknya yang terbaru dan yang paling cepat terkenal, baik di dalam maupun di luarnegeri. Yang disebabkan oleh adanya larangan untuk membacakannya, selain memang bermutu tinggi. Kedua sajak itu masing-masing berjudul Demi Orang-orang Rangkasbitung dan Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung di Roterdam.
Di kalangan sastrawan Indonesia, jika Premoedya Ananta Toer adalah prosais yang paling berbobot dan paling mendapat sorotan, untuk puisi adalah Rendra. Masing-masing memiliki kehidupan, cara dan cirinya sendiri. Namun keduanya sebagai seniman dan humanis yang tak terbantahkan.
Rendra dikenal bukan hanya sebagai penyair, melainkan juga sebagai pengarang, deklamator, aktor, dramawan dan sutradara.
Ia dilahirkan pada tanggal 7 Nopember 1935 di Solo, Jawa Tengah, diberi nama lengkap : Willibrordus Surendra Broto Rendra, biasa disingkat W.S. Rendra. Semula, sejak kelahirannya beragam Katolik, kemudian menjadi pemeluk agama Islam. Lelaki penggemar silat ini juga dikenal sebagai pengagum wanita dan dikagumi wanita. Rendra adalah seorang bapak dari belasan anak, dari perkawinannya yang mula-mula dengan Sunarti, lalu dengan Sitoremi dan yang terakhir dengan Ken Zuraida. Isteri pertama dan kedua telah diceraikannya. Mengenai pendidikan, Rendra pernah mengikuti kuliah di Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada hingga sarjana muda, dan tahun 1964-1967 memperdalam pengetahuannya di American Academy or Dramatic Arts, A.S.
Pada permulaannya Rendra sering menulis esei dan cerpen yang dimuat di berbagai majalah : Mimbar Indonesia, Siasat, Kisah, Basis, Budaya Jaya. Kemudian baru menulis drama dan puisi. « Orang-orang di tikungan jalan » adalah dramanya yang memperoleh hadiah pertama Sayembara Drama bagian kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta pada tahun 1954. Tahun 1956, cerpennya mendapat hadiah di majalah Kisah. Tahun 1957, kusajaknya « Ballada orang orang tercinta » mendapat hadiah sastra nasional dari BMKN. Tahun 1960 sajak-sajaknya memperoleh penghargaan dari majalah Sastra Horison. Tahun 1976 mendapat hadiah pertama dari Yayasan Buku Utama Departemen P dan K untuk buku « Tentang Bermain Drama ». Tahun 1970 Rendra mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah R.I. dan tahun 1975 memperoleh Hadiah Akademi Jakarta. Selain itu, sepulangnya dari A.S. tahun 1967 dia mendirikan « Bengkel Teater » di Yogyakarta. Tahun 1964 mengikuti Seminar Internasional di Universitas Havar selatan Pulau Jawa Parangtritis. Tahun 1971 dan 1979 mengikuti Festival Penyair Internasional di Roterdam.
Karya-karya Rendra yang penting lainnya adalah « Empat Kumpulan Sajak » (1961-1978), « Ia Sudah Bertualang » (1963), « Blues Untuk Bonnie » (1971), « Sajak Sajak Sepatu Tua » (1972), « Pamphleten van een Dichter » (Holland, 1979), « State of Emergency » (Australia , 1980), « Potret Pembangunan Dalam Puisi » (1980), « Mempertimbangkan Tradisi » (1983), « Mencari Bapa » (1985), « Nyanyian Orang Urakan » (1985).
Sajak-sajak Rendra banyak diterjemahkan ke bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Jepang, Rusia dan lain-lain.
Rendra juga menerjemahkan drama ke dalam bahasa Indonesia, a.l. karya Sofokles yang merupakan sebuah trilogi : « Oidipus Sang Raja » (1976), « Oidipus di Kolonus » (1976), « Antigon » (1976). Sedangkan naskah-naskah drama yang ditulisnya sendiri adalah : « Mastodon dan Burung Kondor », « Kisah Perjuangan Suku Naga » dan « Sekda ». « Sekda » di TIM Jakarta dan « Mastodon » di Yogyakarta dilarang untuk dipentaskan.
Memang ternyata peristiwa pelarangan atas kreasinya di bulan Nopember 1990 yang lalu itu bukanlah hal yang pertama kali. Karena aktivitas dan kreativitasnya, Rendra sering berurusan dengan penguasa, bahkan pernah meringkuk dalam penjara antara Mei 1978 sampai Oktober 1979. Semua itu adalah pertanda tak terelakkan dari sebab-akibat sikap dan tindakannya sebagai seniman yang mendambakan kebenaran, keadilan dan kebebasan. Bukan semata-mata bagi dirinya sendiri melainkan juga bagi manusia yang menderita. « Aku tidak melihat alasan / kenapa harus diam tertekan dan termangu… » katanya. Dan dalam kaitan kejadian larangan atas 2 sajaknya yang mashur itu, kepada Editor antara lain Rendra menyatakan sikap dan pandangan yang begitu tegas, mendalam dan luas :
« Kita ini bangsa yang sudah maju. Terus di dalam alam kerajaan. Bagi saya, kewajaran dan keseimbangan hidup penting. Pembangunan yang dilakukan tanpa demokrasi dan kepastian undang-undang, selalu akan melahirkan ketidak-adilan bagi rakyat… Saya itu berpikir, apa gunanya membuat sajak tentang anggur dan rembulan, sementara kemiskinan dan ketidak-adilan terjadi di sekitarnya. Bulan purnama itu cuma ada sebulan sekali, lho. Kemiskinan terjadi setiap hari. Lha, kok malah perhatiannya kepada yang sebulan sekali. Ini kan yang namanya kehilangan kontak pada kehidupan. Ini kan yang namanya penyair mengalineasikan dirinya dari kehidupan. Saya malah bilang jangan mengalineasikan diri dari masyarakat. Saya mengajak para seniman untuk tidak hanya mendasarkan karyanya kepada agama dan moral saja. Tapi agama, moral dan juga filsafat yang agak modern. Ilmu sosial, antropologi, humaniora itu seolah-olah bukan sumber nilai. Mereka alergi pada itu. Seperti Eropa Timur alergi pada filsafat. Lalu baru muncul realisme, fakta, fakta… Si Bongkok Dari Notredame, dengan tokohnya yang berasal dari rakyat jelata. Itu kan tidak menimbulkan sesuatu yang lebih rendah kan.. Itu kan tidak alineated. Nah itu di Barat sudah terjadi nun di ujung abad ke-18. Lha kita sekarang, ampun-ampun, kok masih tinggal di masa permulaan Renaissance dalam kesadaran akan nilai-nilai. …Politik, sosial, ekonomi kita serahkan menjadi urusan bukan seni. Tapi urusan yang berkuasa atau urusannya koran, atau urusan teknokrat. Wah, ya priyayi-nya seneng banget. Iya lah rakyatnya nggak usah ikut-ikut. Nah, keadaan di dunia pikiran ini diperkuat dengan depolitisasi. B l a a r ! Komplet sudah. Memang betul, depolitisasi menghendaki, seniman nggak usah ngomong politik, ekonomi. Tapi ngomonglah soal filsafat dan soal agama. Waktu saya diinterogasi juga ngomongnya gitu. Ren, kamu ngomong sajalah soal suara roda pedati tik…tik… tik… Ngapain sih, ngomong soal politik segala, seniman kan bagian ngomong yang indah-indah. » (Editor 17.11.1990).
Rendra konsisten akan sikapnya selaku manusia sekaligus seniman. Tahu diri. Tahu batas. Tahu arti kreasi sastra dan seni yang sewajarnya. Seperti halnya sajak itu. Bahwa, « sajak itu bukan organisasi. Sajak itu hanya mengubah kesadaran. Hanya membantu menyumbang ke arah yang menyadarkan masyarakat ». Yang terpenting bagi seniman, bagi penyair, dalam sejarah adalah menyedari kewajiban serta menunaikannya : hadir dan mengalir. Suatu tugas kewajiban yang tidak sederhana, melainkan rumit, berlika-liku, berat dan penuh resiko. Kerna harus berhadapan dengan berbagai macam kekuatan atau kekuasaan dalam masyarakat, terutama kecemburuan dan arogansi kekuasaan. Sepuluh tahun yang lalu, tanggal 1 Desember 1979, di Universitas Indonesia Rendra mengutarakan :
Sajak Orang Kepanasan
Karena kami makan akar dan terigu menumpuk digudangmu… Karena kami hidup berhimpitan dan ruanganmu berlebihan… maka kita bukan sekutu.
Karena kami kucel dan kamu gemerlapan… Karena kami sumpeg dan kamu mengunci pintu… maka kami mencurigaimu.
Karena kami dibungkam dan kamu nrocos bicara… Karena kami diancam dan kamu memaksakan kekuasaan… maka kami bilang TIDAK kepadamu.
Karena kami tidak boleh memilih dan kamu bebas berencana… Karena kami cuma bersandal dan kamu bebas memakai senapan… Karena kami harus sopan dan kamu punya penjara… maka TIDAK dan TIDAK kepadamu.
Karena kami arus kali dan kamu batu tanpa hati maka air akan mengikis batu.
(« Nyanyian Orang Urakan » hlm 11-12)
Kenyataan aktivitas dan kreativitasnya selama ini menunjukkan dengan tegar dan segar betapa Rendra konsisten akan sikapnya selaku manusia sekaligus seniman. Bagi hidup dan kehidupan, bagi manusia dan kemanusiaan serta bagi kebudayaan yang maju. Semua itu telah membuktikan kebesarannya. Sekalipun sebagai Burung Merak. Yang menderita. (Kreasi N° 7 1991 hlm 16-21). ***
( Berkelanjutan : Sekitar Aktivitas Kreativitas Tulis Menulis Di Luar Garis N° 24 : « Renungan Orang Rangkasbitung Rendra » )
 Posted by Ibrahim on Jul 22, '08 10:13 AM for everyone  Sejuta Maaf Memaafkan Marissa Haque Fawzi Oleh : Lisya & Kohar Ibrahim * Marissa Haque Fawzi : Mbak Lisya & Mas Kohar, Kangen, Apa Khabar ? http://artculture-indonesia.blogspot.com/Mbak Lisya dan Mas A. Kohar Ibrahim, kangeeeennn… Apa khabarnya ? Mohon sejuta maaf kalau selama masa jihad di Banten membuat silaturahmi kita sempat terputus. Kiranya dengan segala kerendahan hati saya ingin menyambungnya kembali. Jazakumullah khoir… Salam kasih dari Bintaro, Banten. Marissa Haque Fawzi (21 Juli 2008) * « Saya tetap salut ma keluarga mbak Marissa & Ikang… Subhanallah… Moga tetep dan benar-benar keluarga sakinah», Zarazy http://indonesiancommunity.multiply.com/journal« She is so beautiful and perfect couple Marissa and her hubby Ikang ; best regards for them and for you Budaya Indonesia, » Qqandcaine http://budayaindonesia.multiply.com/journal/« Assalamualaikum, Memohon ampun dan maaf dan menyambong silaturahmi antara umat suatu perbuatan yang terbaik…lagy mulia…Syabas », Wakmus http://4pulauriau.multiply.com/journal/* IYA. Syukur Alhamdulillah. Tentu saja kami merasa terharu menerima permohonan sejuta maaf dari sosok tokoh aktris sekaligus politisi kondang Marissa Haque Fawzi, dengan alasannya yang meyakinkan. Maka kontan kami – Lisya & Kohar – mengambil sikap untuk memaafkannya sejuta kali pula adanya. Meski kami berjauhan tempat permukiman, tapi kami lumayan mengenalnya sekaligus pernah kesempatan menyaksikan kehidupan kekeluargaan maupun aktivitasnya sehari-hari. Kehidupan yang diayomi dengan kesederhanaan dalam kecukupan ; dalam suasana pembinaan keluarga yang sakinah mawadah warahmah ; dalam perjuangan untuk kehidupan masyarakat manusia yang manusiawi, terutama sekali demi penegakkan kebenaran dan keadilan serta kesejahteraan bangsa, terutama sekali pembelaannya terhadap kaum yang lemah, khususnya kaum wanita dan anak-anak korban aksi hedonisme ; juga perjuangannya melawan penyakit bangsa berupa korupsi. Dan dalam poin-poin penting lagi mendasar itulah, kami memiliki sikap-pendirian yang sama. Maka apa yang terkesan-pesankan sekaligus yang diharapkan beberapa pembaca seperti tertera di atas, tidaklah berlebihan, melainkan jitu adanya. Mbak Icha dan Mas Ikang sekeluarga, syukur alhamdulillah, kami dalam keadaan baik-baik saja. Semoga sekeluarga juga demikian adanya, seraya sama-sama melakukan ibadah di bidang masing-masing sekuat bisa. Demi tujuan serupa : untuk mewujudkan kehidupan masyarakat manusia yang baik dan lebih baik lagi. Salam kasih, kangen dan sejahtera senantiasa, (Lisya Anggraini & A.Kohar Ibrahim) 22 Juli 2008. * Catatan : Ilustrasi foto Hj. Marissa Haque Fawzi, SH, MHum, Kandidat Doktor (dokumentasi MHF). Naskah dipasang-siar di beberapa situs/blog, selain ACI, Yahoo.360, Bekasinews, Abe-Kreasi Multiply.com, Indonesian Community, Thejargon (Jaringan Guru Online), Budaya Indonesia, Kepulauan Riau, World Cultures dan Beranda Betawi Multiply.com. 
| |